Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Perbedaan Antara Collaborative Learning Dan Cooperative Learning

Ryna Rachmawati

BDK Bandung

Jl. Soekarno Hatta No. 716 Bandung

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Abstrak

Kemampuan guru dalam mengimplementasi konsep-konsep pembelajaran seperti collaborative dan collaborative learning perlu dilandasi oleh pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki. Karena kedua istilah ini sering digunakan secara bersamaan, artikel ini akan membantu para guru untuk memahami perbedaan dan persamaan kedua konsep yang didasari atas kajian dari beberapa literatur tentang dasar pemikiran, akar kata dan konsep-konsep yang dikembangkannya.

Key word: Collaborative learning, Cooperative learning.

Pendahuluan

Guru sebagai agen perubahan dalam proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik.  Tercapainya kompetensi ini ditunjukkan dengan beberapa indikator antara lain menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar yang mendidik serta mengembangkan kurikulum terkait mata pelajaran yang diampunya.  Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang pendidik untuk memahami konsep-konsep pembelajaran.  Konsep pembelajaran yang diketahui oleh guru selanjutnya digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan proses pembelajaran mereka. 

Penggunakan metode ceramah dalam praktek pembelajaran di kelas, sering kali tak dapat dihindari oleh para guru.  Selain itu, penggunaan metode diskusi kelompok dalam pembelajaran saat ini pun banyak di implementasikan oleh para guru.  Diskusi kelompok dalam hal ini guru mengkondisikan para siswa untuk bekerja menyelesaikan suatu tugas dalam kelompok-kelompok kecil terdiri dari 4-5 orang yang disebut cooperative learning.  Strategi ini digunakan oleh para guru dengan maksud meningkatkan keaktifan belajar para siswa melalui kerja sama dalam kelompok.  Dengan kata lain penggunaan diskusi kelompok (cooperative learning) dalam pembelajaran dapat dikatakan pula sebagai sarana penerapan nilai kerjasama dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa

Sebagai tambahan, partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran dalam kelompok kecil kadang-kadang diistilahkan pula sebagai pembelajaran kolaboratif (Coolaborative Learning).  Dua istilah ini kadang-kadang digunakan secara bergantian. Hal ini wajar, karena keduanya mendukung partisipasi  aktif siswadalam kelompok kecil dan masing-masing strategi memerlukan tugas tertentu untuk di selesaikan. Setiap strategi juga menekankan padapendekatan berbasis penemuan dalam belajar (problem-based learning). Istilah lain yang banyak digunakan dalam hubungannya dengan pembelajaran kolaboratif/kooperatif termasuk didalamnya: tim belajar, pembelajaran berbasis masalah termasuk guided design, studi kasus, simulasi, peer-assisted instruction termasuk instruksi tambahan, writting fellows, workshop matematika, kelompok diskusi dan seminar, masyarakat belajar, dan praktikum.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang coolaborative learning dan cooperative leaning, artikel ini akan mendeskripsikan perbedaan dan persamaan kedua strategi ini dimulai dengan dasar pemikiran, akar kata kedua istilah ini berasal dan konsep-konsep yang dikembangkannya berdasarkan tinjaun beberapa literatur.

Pembahasan

Pembelajaran kolaboratif dan kooperatif didasarkan pada epistemologi konstruktivisme. Johnson, Johnson & Smith (1991) telah merangkum prinsip-prinsip konstruktivisme sebagaiparadigma baru pengajaran. Pertama, pengetahuan dibangun, menemukan, dan diubah oleh peserta didik. Satuan Pendidikan/Sekolah menciptakan kondisi di mana siswa dapat membangun makna dari materi yang dipelajari dengan memproses melalui struktur kognitif yang ada dan kemudian menyimpannya dalam memori jangka panjang sehingga masih terbuka kemungkinan untuk pengolahan dan rekonstruksi lebih lanjut. Kedua, siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Belajar dipahami sebagai sesuatu yang mereka lakukan, bukan sesuatu yang dilakukan untuk mereka. Siswa tidak pasif menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum. Siswa mengaktifkan struktur kognitif yang sudah ada atau membangun yang baru untuk menggolongkan masukan baru.  Ketiga, sekolah bertujuan untuk mengembangkan kompetensi siswa dan bakat. Keempat, pendidikan adalah transaksi pribadi antara siswa dan antara sekolah dengansiswadimana mereka saling bekerja sama. Kelima, semua hal di atas hanya dapat terjadi dalam konteks kooperatif. Keenam, mengajar diasumsikan sebagai aplikasi teori dan penelitian yang kompleks dan memerlukan pelatihan guru yang cukup dan perbaikan terus menerus keterampilan dan prosedur mereka.

Dari pandangan konstuktivisme ini, Panitz (tt) menjelaskan definisi kolaborasisebagai filsafat interaksi dan gaya hidup pribadi di mana setiap individu bertanggung jawab atas tindakan mereka, termasuk belajar dan menghormati kemampuan dan kontribusi rekan-rekan mereka. Sedangkan kerjasama (kooperatif)adalah struktur interaksi yang dirancang untuk memfasilitasi pemenuhan produk akhir atau tujuan tertentu melalui orang yang bekerja bersama dalam kelompok.  Hal inilah yang melandasasi lahirnya pendekatan collaborative dan cooperative learning dalam proses pembelajaran.

Selain itu, John Myers menunjukkan bahwa kata "collaboration", berasal dari akar kata bahasa Latin, yang memberi penekanan pada proses dari kerja sama, sedangkankata “cooperation” menekankan pada hasil dari suatu kerja. Sedangkan, Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa cooperative learningberakarkataAmerikadari tulisan filosofis John Dewey yang menekankan pentingnya sifat sosial dari proses belajar dan dari pemikiran Kurt Lewin tentang bekerja dalam dinamika kelompok. Sedangkan collaborative learningmemiliki akar kata Inggris, berdasarkan pada usaha para guru bahasa Inggris mencari cara untuk membantu siswa mengkaji suatu literatur dengan mengambil peran yang lebih aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Tradisi belajar kooperatif cenderung menggunakan metode kuantitatif yang melihat prestasi: yaitu, produk pembelajaran. Tradisi kolaboratif membawa pendekatan yang lebih kualitatif, menganalisis percakapan setiap siswadalam menelaah atau merespon suatu literatur.

Rockwood (1995a, 1995b) mencirikan perbedaan metodologi dari kedua istilah ini sebagai salah satu pengetahuan dan kekuasaan: Pembelajaran kooperatif adalah metodologi pilihan untuk pengetahuan dasar (yaitu, pengetahuan tradisional), sementara pembelajaran kolaboratif terhubung ke pandangan konstruksionis sosial bahwa pengetahuan adalah konstruksi sosial. Dia lebih jauh membedakan pendekatan ini dengan peran instruktur: Dalam pembelajaran kooperatif instruktur adalah pusat otoritas di kelas, dengan tugas-tugas kelompok biasanya close-ended question dan memiliki jawaban yang spesifik. Sebaliknya, dengan pembelajaran kolaboratif instruktur membebaskan otoritasnya dan memberdayakan kelompok-kelompok kecil yang sering diberikan tugas lebih terbuka, dan  kompleks. Rockwood menggunakan kedua pendekatan tergantung pada kematangan akademik murid-muridnya. Dia menyukai pembelajaran kooperatif karena lebih terstruktur untuk pengetahuan dasar sedangkan pendekatan pembelajaran kolaboratif untuk tingkat yang lebih tinggi, dengan konten pengetahuan dasar sedikit.

Ken Bruffee (1995) mengidentifikasi dua hal yang menyebabkan adanya perbedaan antara dua pendekatan ini. Pertama, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif awalnya dikembangkan untuk melatihorang dari berbagai usia, pengalaman dan tingkat penguasaan untuk saling tergantung terhadap suatu ketrampilan. Kedua, ketika menggunakan salah satu metode atau metode lain, guru cenderung membuat asumsi berbeda tentang sifat dan otoritas pengetahuan.

Sebagai tambahan, pembelajaran kooperatif biasanya lebih terstruktur daripadapembelajaran kolaboratif (Cooper dan Robinson, 1997; Smith dan MacGregor, 1992; Rockwood, 1995a, 1995b).Kedua metode memberikan berbagai peran kelompok meskipun dalam collaborative learningperan yang ditugaskan lebihsedikit.Dalam kedua pendekatan, setiap anggota kelompok diwajibkan untuk memiliki keterampilan kelompok meskipun ketrampilan kelompok dimasukkan sebagai tujuan instruksional  pembelajaran dalam cooperative learning.

Matthews, et.al. (1995) menjelaskan perbedaan dan persamaan dari kedua konsep pembelajaran ini dalam tabel berikut:

Perbedaan

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kolaboratif

Dalam kelompok kecil, para siswa menerima latihan ketrampilan sosial

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, ketrampilan sosial diyakini telah dimiliki oleh para siswa

Guru merancang aktivitas-aktivitas terstruktur dan setiap siswa memiliki peran khusus

Siswa mengatur dan menegosiasikan usahanya sendiri.

Jika diperlukan, guru mengamati, mendengarkan dan melakukan intervensi dalam kelompok

Guru tidak memonitor aktivitas siswa ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepada guru, siswa dibimbing untuk menemukan informasi yang diperlukannya.

Pada akhir pelajaran, tugas-tugas yang diserahkan para siswa perlu dievaluasi

Siswa menyimpan draft untuk dilengkapi pada pekerjaan selanjutnya.

Kinerja siswa secara individu maupun kelompok di asesmen oleh guru

Siswa melakukan asesmen kinerja secara individual maupun kelompok kecil, kelas (pleno), maupun pertimbangan masyarakat keilmuan pada umumnya

Kedua konsep pembelajaran ini juga memiliki persamaan yakni:

$1·         Menekankan pentingnya pembelajaran aktif

$1·         Peran guru sebagai fasilitator

$1·         Pembelajaran adalah pengalaman bersama antara siswa dan guru

$1·         Meningkatkan ketrampilan kognitif tingkat tinggi

$1·         Lebih banyak menekankan tanggungjawab siswa dalam proses belajarnya

$1·         Melibatkan situasi yang memungkinkan siswa dapat mengemukaan idenya dalam kelompok kecil

$1·         Membantu siswa dalam mengembangkan ketrampilan sosial dan membangun ilmu

Penutup

Istilah collaborative dan cooperative  learning digunakan sebagai suatu strategi dalam pembelajaran yang memiliki arti yang hampir sama.  Beberapa praktisi pendidikan mendeskripsikan perbedaan dan persamaan kedua strategi ini dimulai dengan dasar pemikiran berdasarkan paradigma pembelajaran berdasarkan pendekatan konstruktivisme, akar kata kedua istilah dimana collaboration bersasal dari bahasa latin menekankan pada proses sedang cooperation menekankan pada hasil.

Daftar Pustaka

Cooper, J., and Robinson, P. (1998). "Small group instruction in science, mathematics, engineering, and technology." Journal of College Science Teaching 27:383.

MacGregor, J. (1990). "Collaborative learning: Shared inquiry as a process of reform" In Svinicki, M. D. (Ed.), The changing face of college teaching, New Directions for Teaching and Learning No. 42.

Rockwood, H. S. III (1995a). "Cooperative and collaborative learning" The national teaching & learning forum, 4 (6), 8-9.

Rockwood, H. S. III (1995b). "Cooperative and collaborative learning" The national teaching & learning forum, 5 (1), 8-10.

Smith, B. L., and MacGregor, J. T. (1992). "What is collaborative learning?" In Goodsell, A. S., Maher, M. R., and Tinto, V., Eds. (1992), Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. National Center on Postsecondary Teaching, Learning, & Assessment, Syracuse University.

Johnson, D.W., Johnson, R.T., Smith, K.A., (1998), Change, July/August p27-35

_____, (1991), Active Learning: Cooperation in the College Classroom, Interaction Book Co.: Edina, MN

Ted Panitz,  http://home.capecod.net/~tpanitz/tedsarticles/coopdefinition.htm