Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Kedudukan Dakwah Dalam Islam

Kedudukan Dakwah Dalam Islam

Oleh Dudung Abdul Rohman

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung)

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Abstrak

            Islam adalah agama risalah dan dakwah. Risalah artinya ajaran Islam bersumber pada wahyu dari Allah SWT. Sedangkan dakwah artinya Islam ini harus disebarluaskan ke seluruh dunia sesuai dengan risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw sebagai rahmat bagi semesta alam. Di sinilah dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Dakwah menjadi tugas suci dan abadi sepanjang masa yang harus dilakukan oleh umat Islam demi mennyelamatkan dan mencerahkan kehidupan umat manusia di muka bumi.

 

Kata Kunci: Alquran, Dakwah, Ijabah, Umat, Taklim, Tilawah, Tazkiyah

 

Pendahuluan

Kedudukan dan kewajiban dakwah yang paling pertama dan utama adalah bersumber pada Alquran. Jika kita coba telaah Alquran, ternyata ayat-ayat dakwah tersebar dan menjiwai hampir seluruh surat-surat dalam Alquran, baik yang turun di Mekkah maupun di Madinah. Ini menunjukkan universalisme dakwah Islam dan kewajiban setiap individu kaum Muslimin untuk berdakwah sesuai dengan kesanggupan. Kewajiban dakwah berlaku sepanjang masa tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Esensi dakwah adalah perbaikan dan pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan Islam. Sehingga peran dan fungsi dakwah tetap relevan, signifikan dan strategis untuk diterapkan di tempat manapun dan di saat kapanpun. Lebih-lebih di era informasi  dan globalisasi seperti sekarang ini yang ditandai dengan pesatnya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Menurut Marwah Daud Ibrahim (1994:1900), di zaman serba canggih ini dakwah harus berfungsi sebagai faktor pengimbang, penyaring dan pemberi arah dalam hidup. Sebagai faktor pengimbang, dakwah harus bisa membantu kita untuk tidak hanya berkhidmat pada kehidupan duniawi yang kian dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tetapi tetap menyeimbangkannya dengan kehidupan rohaniah (akhirat). Sebagai penyaring, dakwah diharapkan dapat membantu kita untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi dan islami, dalam arus perubahan yang terjadi akibat penemuan dan penerapan berbagai teknologi modern. Sebagai pengarah, dakwah diharapkan dapat membimbing kita untuk lebih memahami makna hidup yang sesungguhnya. Dengan dakwah, umat diharapkan tidak mengalami proses kebingungan atau disoriented dalam rumah peeradaban dunia yang penuh dinamika.

 

Prinsip Dasar Dalam Dakwah

Agar dakwah itu dapat memenuhi harapan-harapan tersebut, maka saran Marwah (1994:195), dakwah yang dikembangkan sekarang harus memperhatikan tujuh prinsip dasar berikut ini:

Pertama, dakwah sebaiknya disampaikan secara persuasif-informatif, melayani; bukan instruktif dan membebani, apalagi mengancam.

Kedua, dakwah perlu disampaikan di semua waktu, tempat dan kesempatan. Tidak harus menunggu hari Jum’at, bulan Ramadhan atau hari-hari besar keagamaan. Juga tidak hanya di masjid, mushalla atau majelis taklim.

Ketiga, kegiatan dakwah sepatutnya dilakukan dengan menyebarkan berita kebenaran tanpa harus menjelek-jelekkan pihak lain.

Keempat, kegiatan dakwah tidak perlu dilihat sebagai gerakan untuk mencapai hasil hanya dalam sekali gebrak. Ibarat benih yang harus disemaikan kemudian dipupuk terus menerus, kegiatan dakwah sebaiknya berpola berangsur-angsur dan bertahap.

Kelima, dakwah sudah saatnya membantu kita menemukan pesan-pesan lain yang terangkum dalam bentuk-bentuk peribadatan formal. Apa misalnya makna sosial dan moral atau pesan-pesan kemanusiaan dari ibadah haji, puasa, zakat, shalat dan yang lainnya.

Keenam, orientasi dakwah harus lebih mengacu pada penunjukkan dan pembuktian kemahabesaran Allah SWT dengan cara-cara yang lebih bisa diterima akal sehat.

Ketujuh, dakwah pun harus dapat menumbuhkan kecintaan, kepeduliaan dan solidaritas sosial antar sesama manusia.

Jelaslah, bahwa dakwah merupakan gerakan perubahan masyarakat secara kultural. Aktivitas dakwah harus melarut dan menyatu ke dalam budaya dan tradisi setempat. Sehingga perubahan-perubahan yang dilakukan dapat diterima secara sadar oleh masyarakat. Dakwah adalah ‘politik garam’ yang meresap ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Bukan ‘politik gincu’ yang hanya terlihat elok di permukaan saja.

Oleh karena itu, dalam dakwah tidak dikenal konsep Darul Islam (zona damai) dan Darul Kufri atau Darul Harbi (zona perang) seperti dalam konsep jihad dan qital (perang). Dakwah tidak memetakan konflik di masyarakat, akan tetapi dakwah berusaha menciptakan konsensus (kesepakatan) dan integrasi sosial. Dalam dakwah hanya dikenal konsep Darussalam (kedamaian), dalam arti dakwah hanya membawa misi perdamaian dan keselamatan untuk seluruh umat manusia. Dalam Alquran ditegaskan:

Artinya:  “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” (QS. Yunus [10]: 25).

Dalam bukunya Al-Islam Da’watun wa Laisa Tsaurah (Islam Agama Dakwah Bukan Revolusi), Muhammad Al-Bahy mengungkapkan tentang hakikat dakwah Islam:

“Sesunguhnya dakwah Islam adalah dakwah ke arah kemanusiaan, dakwah kepada standar nilai-nilai kemanusiaan dalam tingkah laku pribadi-pribadi, dalam hubungan antar manusia dan sikap perlakuan antar sesama. Adalah dakwah ke arah perubahan sosial menuju masyarakat idaman. Adalah dakwah untuk meninggalkan sikap egoistis dan kecendrungan materialistis menuju ke arah sikap kebersamaan dan kemaslahatan umum. Dakwah yang tidak berorientasi pada materialisme, tetapi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan”.

Dalam prakteknya pun, dakwah tidak mengenal lawan atau musuh. Akan tetapi dalam dakwah dikenal istilah Umat Dakwah dan Umat Ijabah. Umat Dakwah ialah masyarakat luas non-muslim, sementara Umat Ijabah mereka yang telah memeluk Islam (kaum Muslimin) sendiri. Terhadap Umat Dakwah, dakwah bertujuan untuk mengenalkan Islam kepada mereka (dengan bentuk dialog apapun) agar tertarik dan dengan kesadaran sendiri mereka menjadikan Islam sebagai pilihan agamanya. Terhadap Umat Ijabah, dakwah bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi penghayatan dan pengamalan mereka sehingga semakin menjadi muslim yang bertul-betul paripurna (kaffah).

Kedudukan Dakwah Dalam Alquran

Ayat-ayat dakwah dalam Alquran menunjukkan, bahwa dakwah identik dengan perubahan sosial secara kultural. Dalam arti dakwah bertujuan merubah perilaku individual dan cara berpikir masyarakat. Dakwah lebih mementingkan perubahan dari dalam yang menimbulkan kesadaran. Karena itu, pendekatan yang dipakai dalam dakwah adalah hikmah (kebijaksanaan) bukan kekuasaan, paksaan maupun kekerasan. Ciri-ciri ini dapat diidentifikasi dalam ayat-ayat dakwah berikut ini:

Pertama, dakwah adalah pembangunan masyarakat ke arah yang lebih baik dengan menghidupan tanggung jawab dan kontrol sosial yang berfungsi untuk menyeru kepada kebaikan, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dalam Alquran ditegaskan:

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-‘Imran [3]:104).

Dengan  dakwah yang dilaksanakan, diharapkan agama Islam menjadi kekuatan moral (moral force) dan sumber inspirasi dalam kehidupan masyarakat. Karenanya pesan moral yang disampaikan adalah menyeru pada kebaikan, memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Yang dimaksud al-Khair (kebaikan) adalah sesuatu yang mengandung kemaslahatan bagi manusia di dunia maupun di akhirat, yakni agama Islam. Ma’ruf adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh agama dan dibaguskan oleh logika. Sedangkan munkar adalah segala sesuatu  yang dilarang oleh agama dan dipandang buruk oleh logika. Hal ini dikuatkan lagi oleh Alquran berikut ini:

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushshilat [41]:33).

Kedua, dakwah bertujuan merubah perilaku masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, baik yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik (behavioral). Dalam Alquran ditegaskan:

Artinya: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah [62]:2).

Berdasarkan ayat tersebut, proses dakwah itu meliputi tilawah, tazkiyah dan ta’lim. Tilawah adalah menginformasikan Islam secara tepat dan benar didukung dengan argumen yang kuat, yang diformulasikan lewat bahasa yang efektif dan komunikatif. Ini berkenaan dengan proses perubahan perilaku masyarakat dalam aspek pemahaman (kognitif). Tazkiyah adalah membersihkan diri dari noda syirik dan dosa kejahiliyahan, sehingga pada gilirannya akan memunculkan sikap yang disinari dengan cahaya keimanan dan ketakwaan. Ini berkenaan dengan perubahan dalam aspek afektif yang mendorong pelakunya untuk bersikap sejalan dengan hati nuraninya. Sedangkan Taklim adalah pengajaran dan pembinaan tentang syariah, hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam Alquran dan as-Sunnah, sehingga masyarakat tergerak untuk melakukannya. Ini berkaitan dengan perubahan dalam aspek tingkah laku (psikomotorik) karena menginginkan kesempurnaan dalam kehidupan.

Ketiga, perubahan yang terjadi harus muncul dari kesadaran, bukan karena sentimen atau bersifat emosional. Oleh karena itu, pesan-pesan dakwah harus logis dan etis sehingga dapat menyentuh akal kalbu dan akal budi pikiran audiens (objek dakwah). Dalam Alquran dikemukakan:

Artinya: “Katakanlah, ‘inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf [12]:108).

Maksud ayat ini adalah kewajiban menyeru manusia untuk beribadah dan taat kepada Allah dengan penjelasan dan argumen yang kuat, sehingga dapat meyakinkan mereka dan mematahkan argumen-argumen sesatnya. Contoh yang baik seperti yang diperagakan Nabi Ibrahim a.s. ketika membungkam alasan-alasan orang-orang musyrik dalam menyembah berhala (QS. Al-Anbiyaa’ (21):51-70).

Keempat, tidak ada unsur tekanan, paksaan dan kekerasan dalam berdakwah, karena tugas da’i (juru dakwah) hanya menyampaikan dan memberi penerangan. Dalam Alquran ditegaskan:

Artinya: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tiada lain hanyalah menyampaikan (risalah)” (QS. Asy-Syuura [42]:48).

Kelima, oleh karena itu metode dakwah adalah hikmah, mau’idzah hasanah dan mujadalah billati hiya ahsan. Dalam Alquran dikemukakan:

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl [16]:125).

Dakwah bil-hikmah berarti menyampaikan dakwah dengan terlebih dahulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara benar dan mendalam orang atau masyarakat yang menjadi sasarannya. Dakwah bil-mau’idzah hasanah mengandung arti memberi kepuasan kepada jiwa orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Islam itu dengan cara-cara yang baik, seperti dengan cara memberi nasehat, pengajaran dan contoh teladan yang baik. Sedangkan dakwah mujadalah billati hiya ahsan adalah bertukar pikiran dengan cara-cara terbaik yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi orang-orang dan masyarakat sasaran (objek dakwah).

Keenam, dakwah harus dilakukan secara bertahap, terpadu dan berkesinambungan. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur dan sebagian-sebagian (QS. Al-Israa’ [17]:106-107); begitu pula dalam penetapan hukumnya dilakukan secara bertahap, misalnya hukum minuman keras (khamr) (QS. Al-Maidah [5]:90-91). Ini mengindikasikan bahwa dakwah pun harus dilakukan secara bertahap dan kontinyu. Contoh lainnya yang lebih menarik adalah kisah dakwah Nabi Nuh a.s. yang dilakukan secara bertahap dan berjangka. Mula-mula beliau menyeru kaumnya siang dan malam secara diam-diam, kemudian menyeru mereka dengan terang-terangan, dan selanjutnya menyeru mereka dengan sembunyi-sembunyi  dan terang-terangan. Kisah dakwah Nabi Nuh a.s. ini memberikan pelajaran yang berharga terutama bagi juru dakwah, bahwa dakwah harus dilakukan secara bertahap, berkesinambungan dan penuh kesabaran. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:

Artinya: “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” (QS. Nuh [71]:5-9).

 

Kesimpulan

            Dalam Islam, dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting dan signifikan. Berkat dakwah, ajaran Islam dapat menyebar dan mengakar di tengah-tengah masyarakat. Dengan dakwah pula, ajaran Islam menjadi landasan spiritual, moral, dan etika social dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, ada beberapa karakteristik dakwah yang diungkapkan Alquran. Di antaranya bahwa tujuan dakwah adalah merubah kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan ajaran Islam yang dilakukan dengan cara bertahap dan damai.

 

Daftar Pustaka

Al-Bahy, Muhammad, Islam Agama Dakwah Bukan Revolusi (terj.), Jakarta: Kalam Mulia, 1997.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi I-X, Bairut: Daar Al-Fikr, t.th

Al-Shabuni, Muhammad Ali, Shafwatut Tafaasir I-III, Bairut: Daar Al-Fikir, t.th.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1997.

Ibrahim, Marwah Daud, Teknologi Emansipasi dan Transendensi, Bandung: Mizan, 1994.

Mulkhan, Abdul Munir, Ideologisasi Gerakan Dakwah, Yogyakarta: Sippress, 1996.