Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Pelurusan Makna Jihad Dalam Islam

Pelurusan Makna Jihad Dalam Islam

Oleh Dudung Abdul Rohman

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung)

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Abstrak

Di antara jargon Islam yang sering muncul sekarang adalah istilah jihad. Memang jihad ini merupakan konsep yang tidak terpisah dari ajaran Islam secara integral. Dalam Alquran maupun Hadis banyak disebut istilah jihad. Dengan demikian jihad merupakan istilah suci dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Tinggal bagaimana pemaknaan jihad ini supaya tidak berimplikasi pada tindakan-tindakan kekerasan yang dapat merugikan orang lain dan merugikan umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, tulisan sederhana berikut ini berusaha untuk menjelaskan makan jihad dalam Islam secara proporsional.

 

Kata Kunci: Alquran, Dakwah, Islam, Jihad, Moderat, Perang.

 

Pendahuluan

Di antara sekian jargon yang sering digunakan oleh kelompok radikal, misalnya istilah jihad. Ini sering dipahami sebagai bentuk perlawanan dan permusuhan kepada kelompok-kelompok yang dianggap memusuhi Islam. Dalam konteks tertentu memang pemahaman seperti ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi apabila pemahaman ini diikuti tanpa diseleksi, akan menimbulkan konflik keagamaan yang berkepanjangan, termasuk di Negara tercinta Indonesia. Oleh karena itu, istilah jihad dalam Islam perlu dipahami secara proporsional dan ditempatkan dalam konteks perjalanan dan penguatan dakwah.

 

Pengertian dan Pembagian Jihad

Dilihat dari aspek bahasa, kata jihad menurut penelusuran Quraish Shihab (1996:501), berasal dari akar kata j-h-d  yang mengandung makna kesulitan atau kesukaran dan yang mirip dengannya. Imam Ashan’ani (w.1182 H) dalam Kitab Subulussalam (tt.:41) mengemukakan bahwa kata jihad merupakan bentuk isim mashdar (kata dasar) dari kata jaahada-yujaahidu-jihaadan yang artinya sesuatu yang menyebabkan keletihan dan kepayahan.

Dalam berbagai kamus bahasa Arab seperti Al-Munawwir (1997:217) diterangkan, bahwa kata jihad diartikan berusaha dengan sungguh-sungguh dan perjuangan. Sedangkan Al-Ashfahani (1992:207) mengemukakan, bahwa kata jihad diambil dari dua kosa kata, yaitu al-jahdu yang berarti al-masyaqah (kesulitan/kepayahan), karena memang jihad itu sulit dan menyebabkan kepayahan. Karena sudah di luar kemampuan manusia, ini diperuntukkan bagi Allah sehingga Dia menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya. Sedangkan kosa kata yang kedua adalah al-juhdu yang berarti al-wus’u (kemampuan), karena jihad menuntut kemampuan dan harus dilakukan sebesar kemampuan. Ini diperuntukkan bagi manusia supaya mereka berjuang sesuai dengan kemampuannya.

Maka dalam pengertian umum, jihad dapat dipahami sebagai segala bentuk usaha maksimal untuk pelaksanaan ajaran Islam dan pemberantasan kezaliman (kejahatan) baik untuk diri pribadi maupun di dalam komunitas masyarakat. Jihad dalam pengertian umum ini, dalam Ensiklopedi Islam (1994:315) terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu:

Pertama, jihad memerangi musuh secara nyata. Pengertian musuh yang nyata di sini, selain berbentuk perang, juga berarti semua tantangan yang dihadapi umat Islam seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Kedua, jihad melawan setan. Ini mengandung pengertian berusaha untuk menghilangkan hal-hal negatif yang membahayakan umat manusia.

Ketiga, jihad terhadap diri sendiri. Maksudnya jihad melawan hawa nafsu, yakni sikap pengendalian diri agar sikap, perilaku, dan tindakan terhadap orang lain tidak menyimpang dari ketentuan Islam.

Ada juga jihad dalam pengertian khusus, yaitu memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam. Tetapi dalam pelaksanaannya sangat ketat, yakni harus memenuhi aspek-aspek yang melatarbelakanginya. Seperti dikemukakan dalam Ensiklopedi Islam (1994:316), bahwa setidaknya ada lima (5) sebab yang mengharuskan umat Islam berjihad secara khusus, yaitu:

Pertama, mempertahankan diri, kehormatan, harta dan negara dari tindakan sewenang-wenang musuh.

Kedua, memberantas kezaliman yang ditujukan kepada umat pemeluk agama Islam.

Ketiga, menghilangkan fitnah yang ditimpakan kepada umat Islam.

Keempat, membantu orang-orang yang lemah.

Kelima, mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Menurut Ibnu Qayyim (w. 751 H), bahwa ini adalah jihad mutlaq yang harus dilakukan secara defensif dan tujuannya adalah untuk menghilangkan fitnah, menciptakan perdamaian, serta mewujudkan kebajikan dan keadilan. Ada juga yang disebut dengan jihad hujjah, yaitu jihad dengan mengemukakan argumen yang kuat. Juga jihad ‘amm yaitu perjuangan yang mencakup segala aspek kehidupan, baik yang bersifat moral dan material, terhadap diri sendiri ataupun orang lain di tengah-tengah masyarakat.

 

Pemaknaan Jihad Dalam Alquran

Dalam Alquran kurang lebih ada 36 ayat yang memuat tentang jihad dengan berbagai pengertian sebagaimana dikemukakan di atas. Yang menarik di antaranya, bahwa ayat-ayat tentang jihad ini pun turun pada periode Mekkah sebelum Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah. Padahal seperti dimaklumi, bahwa selama berdakwah pada periode Mekkah dalam kurun waktu 13 tahun tidak pernah terjadi peperangan. Berarti jihad dalam periode Mekkah lebih diorientasikan untuk memperteguh keimanan dan peribadahan kepada Allah SWT demi mencapai keridhaan-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat Al-‘Ankabuut [29] ayat 69, Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Dengan demikian, ayat-ayat tentang jihad mesti ditempatkan dalam konteks perjuangan dakwah. Karena tugas pertama dan utama Rasulullah saw setelah menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul adalah berdakwah. Sehingga ketika aktivitas dakwah berhadapan dengan realitas masyarakat yang berbeda-beda agama, maka umat islam diharuskan untuk membangun toleransi dan sekali-kali jangan mencaci tuhan-tuhan yang berlainan agama, karena mereka akan berbalik memaki Allah dengan berlebihan tanpa pengetahuan. Dalam kondisi seperti ini, tetap Rasulullah saw diperintahkan untuk berjihad dengan cara menyampaikan kebenaran menurut logika Alquran dan jangan sampai terperdaya oleh jalan pikiran dan bujukan orang-orang di luar Islam. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar” (QS. Al-Furqaan [25:52).

Kemudian ayat-ayat tentang jihad yang turun pada periode Madinah tetap masih dimaksudkan untuk memperkuat pergerakan dakwah Islam. Karena pengikut Islam semakin bertambah banyak dan mereka semakin kuat, maka jihad di sini pun diorientasikan untuk pemberdayaan umat Islam dan menghilangkan hegemoni serta dominasi orang-orang di luar Islam. Oleh karena itu, ayat-ayat jihad pada periode Madinah di antaranya memiliki karakteristik fii sabilillah, di jalan Allah. Ini dapat dipahami, bahwa jihad dimaksudkan untuk membela agama Allah (Islam) dari rongrongan dan serangan musuh-musuhnya. Juga terkandung makna supaya umat Islam terus berjuang menerapkan sistem Islam dalam segala aspek kehidupan. Karakteristik berikutnya adalah bi-amwalikum wa anfusikum, dengan harta dan jiwamu. Berarti pelaksanaan jihad harus disertai dengan pengorbanan, baik secara moril maupun materil. Pengertian jiwa di sini tentunya bukan hanya nyawa, tetapi juga tenaga, pikiran dan dukungan. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS. Ash-Shaff [61]:10-11).

 

Kesimpulan

Maka pemaknaan jihad ini mesti dipahami untuk penguatan kelangsungan dakwah Islam di muka bumi, termasuk di bumi nusantara Indonesia. Oleh karena itu, jangan sampai dengan pemaknaan jihad yang kurang tepat, justru berakibat akan memperlemah dan mempersempit pergerakan dan kemajuan dakwah sebagai tugas suci dan abadi sepanjang zaman bagi umat Islam. Di sinilah pentingnya penguatan pemahaman Islam yang moderat, yakni yang tidak eksterim ke kanan maupun ke kiri, tetapi yang pertengahan, santun, dan mencintai perdamaian yang abadi di seluruh jagat bumi.

 

Daftar Pustaka

Al-Ashfahani, Al-Raghib, Mufradat Al-Fadzul Qur’an, Bairut: Daar As-Samiyah, 1992.

Al-Shan’ani, Subulus Salaam 1-4, Bandung: Maktabah Dahlan, t.th.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1997.

Munawwir, A.W., Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Lengkap, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Ridwan, Kafrawi, Ensiklopedi Islam 1-5, Jakarta:PT Ichtiar Baru, 1994.

Shihab, Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1997.