Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Strategi Dakwah Perbaikan Masyarakat

Strategi Dakwah Perbaikan Masyarakat

Oleh Dudung Abdul Rohman

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung)

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Abstrak

            Dakwah ada kaitannya dengan perbaikan masyarakat. Tentu perbaikan yang diharapkan mesti sesuai dengan cita-cita ideal ajaran Islam untuk membentuk masyarakat yang utama, atau khaeru ummah. Oleh karena itu, dakwah memiliki tanggung jawab yang cukup berat untuk memperbaiki masyarakat. Maka diperlukan strategi dakwah yang tepat untuk perbaikan masyarakat yang konsep dasarnya dapat diambil dari Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam.

 

Kata Kunci: Advokasi, Edukasi, Dakwah, Masyarakat, Mobilisasi, Perbaikan, Strategi.

 

Pendahuluan

Adanya pergerakan dakwah sesungguhnya dimaksudkan untuk perbaikan dan pembangunan masyarakat. Sejalan dengan hakikat dakwah itu sendiri sebagai upaya untuk mengubah suatu kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw, mengubah masyarakat jahiliyah yang dirundung kegelapan menjadi masyarakat yang berperadaban dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Dakwah ini dilakukan bukan di ruangan hampa. Artinya, dakwah sangat bersentuhan dengan keadaan masyarakat yang menjadi mad’u atau sasaran dakwah. Oleh karena itu, dalam aktivitas dakwah supaya berjalan efektif diperlukan strategi yang tepat. Di sinilah pentingnya strategi dakwah dalam perbaikan masyarakat. maka Rasul-Rasul yang diutus selalu dari kelompok kaumnya dan menggunakan lisan kaumnya. Lisan di sini pengertiannya bukan hanya bahasa yang diucapkan, tetapi juga budaya yang berkembang dan tradisi yang dianut di dalam komunitas masyarakat tersebut. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ibrahim [14]:4).

 

Dakwah dan Perbaikan Masyakarat

            Dalam tinjauan sosiologis, bahwa manusia sebagai sasaran dakwah senantiasa mengalami perubahan. Dalam konteks ini, dakwah dapat mengarahkan dan mengawal perubahan itu ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Dalam hal ini Ibnu Khaldun (dalam Robert H. Luer, 2001:45) menyatakan, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang berlaku padanya hukum perubahan. Dalam perspektif perubahan sosial ini, ada masyarakat nomaden dan masyarakat menetap. Masyarakat nomaden kehidupannya berpindah-pindah dan bersifat primitif. Sedangkan masyarakat menetap adalah masyarakat kota yang berbudaya modern. Berdasarkan asumsi ini, maka secara kebudayaan, Ibnu Khaldun mengklarifikasikan masyarakat itu menjadi ‘umran badawy (masyarakat desa) dan ‘umran hadhary (masyarakat kota). Dalam pandangan Ferdinand Tonnies (dalam Soerjono Soekanto, 2001:143), bahwa masyarakat desa diistilahkan dengan gemeinschaft (paguyuban), yaitu model masyarakat yang hidup bersama secara asli, murni, alami dan abadi. Sedangkan masyarakat kota disebut gesellschaft (patembayan), yaitu model hubungan masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh berbagai kepentingan dan sifatnya temporer (sementara).

Berkenaaan dengan manusia sebagai objek dakwah, Abdul Munir Mulkan (1996:208) mengklasifikasikannya dalam dua kategori, yakni umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah adalah masyarakat luas non-Muslim, sementara umat ijabah adalah mereka yang telah memeluk agama Islam atau kaum Muslimin. Terhadap umat dakwah, dakwah bertujuan umtuk mengenalkan Islam kepada mereka agar tertarik dan dengan kesadaran sendiri mejadikan Islam sebagai pilihan agamanya. Terhadap umat ijabah, dakwah bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi penghayatan dan pengamalan ajaran Islam, sehingga makin menjadi Muslim yang paripurna (kaffah).

Maka, bagi da’i sebagai subjek dakwah harus memiliki kompetensi yang memadai. Kompetensi da’i, kata Mulkan (1996:237), adalah sejumlah pemahaman, pengetahuan, penghayatan dan prilaku-prilaku serta keterampilan tertentu yang harus ada pada diri mereka agar mereka dapat melakukan fungsinya dengan memadai. Jadi, kompetensi bagi seseorang adalah pencitraan ideal sekaligus sebagai kriteria yang harus dipenuhi. Kompetensi da’i ini, menurut Mulkan (1996:236), terbagi ke dalam dua kategori, yaitu: kompetensi substantif dan metodologis.

Kompetensi substantif berupa kondisi-kondisi muballigh (da’i) dalam dimensi idealnya yang terdiri atas: (1) pemahaman agama Islam secara cukup, tepat dan benar; (2) pemahaman hakikat gerakan dakwah; (3) memiliki akhlak karimah; (4) mengetahui perkembangan pengetahuan umum yang relatif luas; (5) mencintai audiens (mustami’) dengan tulus; (6) mengenal kondisi lingkungan dengan baik; dan (7) mempunyai rasa ikhlas semata-mata li wajhi Allah (karena Allah).

Sedangkan kompetensi metodologis adalah kondisi da’i (muballigh) yang  berkaitan dengan aspek operasional dakwah sehingga mampu membuat perencanaan dan persiapan serta pelaksanaan dakwah secara baik dan tepat. Kompetensi metodologis ini terdiri atas: (1) da’i harus mampu mengidentifikasi permasalahan dakwah yang dihadapi, yaitu mampu mendiagnosis dan menemukan kondisi ‘keberagaman’ objek dakwah yang dihadapi; (2) da’i harus mampu mencari dan mendapatkan informasi mengenai cirri-ciri objektif dan subjektif mad’u dan kondisi lingkungannya; (3) berdasarkan informasi yang diperoleh, dengan kemampuan di atas, da’i mampu menyusun langkah perencanaan kegiatan dakwah mikro; (4) kemampuan untuk merealisasikan perencanaan tersebut dalam pelaksanaan kegiatan dakwah.

Sementara Musthafa Ahmad Al-Maraghi (t.th.:22) mengungkapkan, bahwa siapa pun yang mengemban tugas dakwah harus memiliki kualifikasi (kemampuan dan pengetahuan) sebagai berikut:

  1. Hendaklah memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap Alquran, Assunnah dan sejarah Nabi saw berikut Khulafaur Rasyidin.
  2. Hendaklah memahami kondisi objektif, subjektif lingkungan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
  3. Hendaklah mengetahui bahasa dan budaya objek dakwah.
  4. Hendaklah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang permasalahan umat terutama yang menyangkut golongan, sekte dan madzhab-madzhabnya.

 

Strategi Dakwah      

            Di sinilah kedudukan sentral da’i sebagai subjek dakwah dalam melakukan perbaikan masyarakat. Dalam hal ini sekurangnya ada tiga strategi yang sudah dilakukan dalam konteks perjalanan dan pergerakan dakwah di Indonesia. Yaitu strategi edukasi (tilawah), advokasi (tazkiyah), dan mobilisasi (ta’lim). Hal ini diadaptasi dari ayat Alquran berikut ini:

Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-kitab dan Al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali-‘Imran [3]:164).

            Pertama, strategi edukasi mengisyaratkan adanya pengajaran, penanaman, dan pembinaan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan formal seperti madrasah dan sekolah maupun di lembaga-lembaga pendidikan informal dan nonformal seperti masjid, surau, langgar, tajug, majelis taklim, ataupun pendidikan agama di dalam keluarga. Tujuannya tentu untuk penanaman nilai-nilai keimanan dan keislaman serta untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Sehingga ajaran Islam senantiasa tertanam dalam jiwa umat dan menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam proses perubahan sosial sebagaimana dikatakan Kuntowijoyo (1999:337), bahwa ini dinamakan proses humanisasi (amr ma’ruf) yaitu proses memanusiakan manusia supaya tidak mengalami krisis kemanusiaan.

Kedua, strategi advokasi yang mengharuskan adanya pembelaan kepada kaum yang termarjinalkan (terpinggirkan) dan perlawanan terhadap ketidakadilan serta kezaliman yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Ini dilakukan untuk mengangkat harkat martabat masyarakat dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Kondisi mereka harus diselamatkan supaya dapat hidup layak dan terhormat sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan harapan. Juga membebaskan masyarakat dari hegomoni kelompok tertentu dan tirani kekuasaan yang menutup akses kemajuan bagi warga negaranya. Ini dapat dilakukan dengan program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat sehingga mereka menyadari akan eksistensi dirinya dan perannya di tengah-tengah masyarakat. Dalam proses perubahan sosial kata Kuntowijoyo (1999:337), bahwa ini adalah proses liberasi (nahiy munkar) yaitu proses pembebasan manusia dari penindasan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Ketiga, strategi mobilisasi yang mengamanatkan adanya peningkatan status dan peranan sosial di tengah-tengah kehidupan. Artinya umat Islam harus bangkit dan berkembang, bahkan dapat menguasai akses-akses kemajuan baik dari aspek ilmu pengetahuan maupun teknologi. Di sinilah pentingnya peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, kompeten dan kompetitif. Apalagi di era keterbukaan dan kebebasan seperti sekarang ini, umat Islam bukan hanya bersaing dengan sesama bangsa tetapi juga bersaing dengan penduduk dunia. Maka diperlukan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang dapat diandalkan dan diunggulkan. Maka dakwah harus dapat menjangkau kelas-kelas menengah, kelas atas, dan kaum profesional sehingga mereka tercerahkan dengan ajaran Islam. Sehingga umat Islam tidak kekurangan SDM untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Menurut Kuntowijoyo (1999:337), bahwa ini adalah proses transendensi (tu’minuna billah) supaya manusia-manusia modern yang memiliki segudang keahlian tidak terninabobokan oleh kemegahan dunia, tetapi mereka tetap dapat memelihara keimanan dan ketaatannya kepada Allah SWT.  Sehingga mereka tetap memiliki landasan spiritual di tengah kemajuan dunia yang sangat membanggakan.

 

Kesimpulan

            Dengan demikian, dakwah memiliki peranan signifikan dalam upaya perbaikan masyarakat. Adalah Rasulullah saw tokoh dakwah yang telah berhasil memperbaiki masyarakat Arab yang tadinya biadab menjadi beradab. Di sinilah pentingnya strategi dakwah dalam upaya memperbaiki kondisi masyarakat ke arah yang lebih manusiawi dan islami. Kalau meneladani model dakwah Rasulullah saw ada tiga strategi yang dapat diadaptasi, yaitu strategi eduksi, advokasi, dan mobilisasi.

Daftar Pustaka

Achmad, Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Jakarta: PLP2M, 1990.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi I-X, Bairut: Daar Al-Fikr, t.th

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1997.

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Bandung: Mizan, 1999.

Mulkhan, Abdul Munir, Ideologisasi Gerakan Dakwah, Yogyakarta: Sippress, 1996.

Lauer, Robert H., Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Terj.Alimandan SU), Jakarta: Rineka Cipta, 2001.