Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Tantangan Dakwah Ke Depan

Tantangan Dakwah Ke Depan

Oleh Dudung Abdul Rohman

(Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung)

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Abstrak

            Aktivitas dakwah sangat beriringan dan bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Seiring dengan kemajuan masyarakat, maka tantangan dakwah pun semakin kompleks dan berat. Dalam hal ini kita harus mampu memetakan tantangan dakwah ke depan. Sehingga dakwah tetap eksis, survive, dan dapat menjadi factor determinan bagi pengembangan peradaban umat manusia di dunia.

 

Kata Kunci: Alquran, Dakwah, Eksternal, Internal, Krisis, Kemanusiaan, Tantangan.

 

Pendahuluan

Seperti dimaklumi, bahwa dinamika dan problematika kehidupan umat manusia di dunia semakin ke sini semakin kompleks. Perubahan demi perubahan terus bergulir dengan cepat seakan tiada henti. Sekarang ini tarap kehidupan manusia sudah mencapai kemajuan yang spektakuler akibat revolusi teknologi informasi dan komunikasi. Jelas hal ini berpengaruh sangat signifikan terhadap cara pandang dan pola keagamaan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Kalau dulu pada waktu sore hari atau sehabis Maghrib anak-anak muda menghabiskan waktu di masjid-masjid dan surau-surau untuk belajar dasar-dasar ilmu keislaman. Sekarang suasana agamis ini sudah jarang ditemukan lagi, kecuali mereka berjubel di warnet-warnet dan pusat-pusat perbelanjaan. Inilah di antara fenomena kehidupan global yang melanda umat manusia dewasa ini.

Jelas ini menjadi tantangan dakwah tersendiri dan dirasa cukup berat. Sebagai agama dakwah yang sangat peduli terhadap perkembangan zaman, Islam memberikan respons terhadap segala perubahan dan perkembangan yang terjadi. Bukankah Islam itu agama yang shalihun li kulli zaman wal makan, senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi bagaimanapun. Inilah di antara nilai universalitas dan fleksibilitas ajaran Islam yang selalu merespons perkembangan kehidupan. Dalam hal ini, kepentingan dakwah sebagaimana dikatakan Marwah Daud Ibrahim (1994:191), sebagai faktor pengimbang, pengarah dan penentu segala aktivitas kehidupan. Artinya, dengan dakwah dapat menyadarkan manusia untuk menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawinya. Bahkan dakwah dapat selalu mengawal dan mengarahkan kehidupan manusia menuju keharmonisan kehidupan. Juga dakwah dapat menjadi penentu arah dan tujuan kehidupan manusia yang tidak hanya berkhidmat pada keduniaan juga mesti menghambakan diri kepada Allah SWT.  Dengan demikian, segala kemajuan yang dicapai oleh umat manusia dapat dijadikan media dan sarana dakwah untuk lebih meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama Islam.

 

Tantangan Dakwah

Segala kemajuan yang ada hanyalah gejala lahiriyah yang muncul ke permukaan akibat nilai dan keyakinan yang dihayati. Kalau diibaratkan, bagaikan pohon besar yang mengeluarkan buah dan ranting yang lebat, sementara akarnya ada di dalam tanah. Maka yang menjadi sasaran dakwah itu bukan gejala lahiriyahnya tetapi akarnya. Dalam hal ini, dakwah Islam berusaha memurnikan dan mengajarkan nilai-nilai baik yang harus menjadi pegangan dalam kehidupan. Kalau dalam proses dakwah dikenal istilah tilawah (membacakan), tazkiyah (membersihkan) dan ta’lim (mengajarkan) untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kegelapan menuju cahaya Islam yang mencerahkan dan terang benderang. Allah SWT berfirman:

Artinya:  “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah [62]:2).

Inilah proses dan tahapan dakwah yang harus dilalui dalam rangka membawa umat manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan tantangan dakwah global yang mesti dihadapi dan dicarikan solusinya adalah berakar pada tiga permasalahan berikut ini:

Pertama, krisis spiritual. Hal ini menyangkut keyakinan dan pandangan hidup. Dewasa ini keyakinan dan pandangan hidup manusia sudah didominasi oleh ideologi materialisme, hedonisme dan sebangsanya. Yang menjadikan ukuran hidup hanya kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sesaat. Sementara nilai-nilai agama dan keakhiratan diabaikan. Sehingga manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dengan melupakan norma-norma agama. Padahal pandangan agama Islam sudah demikian jelas dan tegas, bahwa orientasi hidup manusia adalah akhirat dengan menggunakan sarana, media dan fasilitas dunia. Inilah tantangan dakwah terberat dewasa ini, yakni menanamkan kembali nilai-nilai Tauhid yang merupakan pangkal dari segala aspek kehidupan.

Kedua, krisis moral. Saat ini yang namanya perilaku manusia sudah banyak yang menyimpang dari norma-norma agama dan susila. Demi meraih kesenangan duniawi manusia rela melacurkan dirinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan nista dan dosa. Juga kepedulian antar sesama untuk saling membantu dan menolong sudah mulai terkikis. Segala perbuatan dihitung dengan pamrih materi tanpa adanya kepedulian untuk saling mengasihi dan menolong antar sesama. Inilah krisis moral yang melanda umat manusia sekarang ini. Padahal Islam sangat menekankan kepada umatnya untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun termasuk pada lingkungan sekitar. Karena Allah SWT telah menganugerahkan berbagai macam nikmat dan fasilitas kehidupan. Sehingga di antara bentuk syukurnya adalah meratakan dan menyebarkan kebaikan dan kasih sayang kepada sebesar-besarnya sesama dan lingkungan sekitar.

Ketiga, krisis lingkungan. Sekarang ini yang namanya musibah dan bencana terus datang melanda manusia bertubi-tubi seakan tiada henti. Seakan-akan alam tidak mau bersahabat dengan kita. Karena memang ulah tangan-tangan manusia yang merusak lingkungan dengan semena-mena. Sehingga masalah kerusakan lingkungan ini menjadi persoalan global yang menjadi perhatian dunia. Sampai-sampai keluar istilah “global worning” untuk permasalahan kerusakan lingkungan ini. Islam dari sejak awal sudah menegaskan, bahwa di antara tujuan diciptakannya manusia itu untuk menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah di sini artinya sebagai wakil Allah untuk mengelola dan menjaga kelestarian dan keharmonisan alam. Tapi kenyataannya, malah manusia mengeksploitasi sumber daya alam ini dengan semena-mena sehingga merugikan dirinya sendiri. Dasar manusia memiliki tabiat merusak sebagaimana dikhawatirkan oleh para malaikat ketika berdialog dengan Allah SWT (lihat QS. Al-Baqarah [2]:30). Maka Islam memvonis dan mengkatagorikan kejahatan besar bagi perusak lingkungan dan alam karena merugikan kehidupan umat manusia secara keseluruhan dan turun temurun.

Inilah  di antara fenomena tantangan dakwah global pada abad sekarang ini. Jelas ini harus disikapi dan dicarikan solusi terbaik untuk mengatasinya. Islam sebagai agama yang rahmatan lil-‘alamin tentunya menawarkan alternatif solusi untuk menghadapi tantangan tersebut. Di antaranya terangkung dalam ayat berikut:

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash [28]:77).

            Dengan demikian, tantangan dakwah tersebut ada yang bersifat eksternal juga internal. Dari segi internal, berarti umat Islam harus lebih memperteguh komitmen dan konsisten dalam mengarungi aktivitas dakwah. Jangan sampai terjadi futur (keletihan), kelesuan, dan ketidaksemangatan dalam menjalani aktivitas dakwah. Sehingga kehilangan kekebalan dan kecolongan dengan gerakan-gerakan yang ingin melemahkan dan menghancurkan Islam. Berarti secara internal umat Islam harus dapat menjaga stamina dan semangat dakwah, dengan cara  tetap menggelorakan semangat tajdid (pembaruan dan penyegaran) dari aspek pola, metoda, dan paradigma dakwah terutama yang menyangkut visi keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Ditambah lagi dengan terus berupaya meningkatkan kualitas, kapasitas, dan intelektualitas sumber daya dakwah.

            Mengenai tantangan dakwah yang bersifat internal ini, menurut Qodri Azizy (Republika, 2005), bahwa umat Islam perlu merancang ulang pemahamannya atas dakwah. Seharusnya dakwah merupakan kegiatan yang mendorong pencapaian kemajuan dunia berlandaskan agama. Tujuannya agar dakwah yang dikembangkan menjadi lebih berdaya dan mampu menciptakan generasi Muslim yang tangguh, tidak hanya agamanya tetapi juga kehidupan duniawinya. Lalu dia menambahkan, semua ini dapat dilakukan dengan mensinergikan dan memadukan langkah dari lembaga-lembaga dakwah, juga penguatan program baik dari segi substansi maupun strategi.

            Oleh karena itu, perlu dikenali dan dipahami tantangan dakwah yang bersifat kekinian. Seperti diungkapkan Amrullah Ahmad (2005), bahwa setidaknya ada empat problematika dakwah yang dihadapi umat Islam. Pertama, terjangan budaya luar sangat kuat sementara umat Islam tetap ‘lugu’. Kedua, tak ada peta dakwah yang jelas. Ketiga, sinergi antar lembaga dakwah masih kurang. Keempat, strategi dakwah masih konvensional.

            Sedangkan secara eksternal,  umat Islam menghadapi tantangan dakwah yang cukup berat dan kompleks. Mengingat arus globalisasi dan revolusi informasi terus menggelinding menggerus sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk di dalamnya sendi-sendi kehidupan beragama. Sekarang ini ada kecenderungan di masyarakat yang lebih mengutamakan pencapaian kesenangan dunia dengan mengabaikan nilai-nilai agama. Dampaknya banyak terjadi tindakan kejahatan, kemunkaran, dan kekerasan yang mengancam kehidupan kemanusiaan dan keagamaan. Belum lagi masalah kerusakan lingkungan, kebakaran hutan,  kerukunan umat beragama, penegakkan hukum dan HAM, penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan seksual, konflik dunia Islam dan sebagainya.

            Dalam konteks ini, Tokoh Dakwah dan Pahlawan Nasional Muhammad Natsir seperti diungkapkan Adian Husaini (2010),  telah mewanti-wanti tentang adanya tantangan dakwah yang bersifat laten dan harus dihadapi oleh seluruh kekuatan dakwah. Bahwasannya dari dulu sampai sekarang setidaknya ada tiga tantangan dakwah besar yang harus dihadapi oleh umat Islam, yaitu:               

            Pertama, kristenisasi yang sekarang ini gerakannya sudah merajalela dan merambah  ke mana-mana hingga pelosok desa. Mereka tidak langsung mengajak masuk agamanya, namun dengan modus (cara) layanan sosial dan santunan misalnya, untuk menarik simpati masyarakat. Bahkan sesekali mereka mengadakan upacara kebaktian dengan mengonsentrasikan anggota dan simpatisannya di suatu tempat. Gerakan kristenisasi ini pun sekarang sudah memakai pola budaya dengan mendirikan lembaga pendidikan, sosial, ekonomi, dan yang lainnya.

            Ini adalah tantangan dakwah kita yang senantiasa menghadang di depan mata. Dengan demikian, umat Islam harus memperkuat basis-basis keislaman untuk meneguhkan akidah, ibadah, dan akhlak umat dari serbuan dan bujukan musuh-musuh Islam; sembari memperkokoh jalinan kemitraan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga dakwah yang ada guna menangkal dan menghalau gerakan musuh tersebut. Allah SWT berfirman: 

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqarah [2]:120).

Kedua, sekulerisasi yaitu upaya pendangkalan akidah dan ibadah serta pengurusakan akhlak umat dengan penyebaran paham dan gerakan pemisahan antara agama dan dunia. Menurut gerakan ini, agama itu urusan pribadi jangan dibawa-bawa ke ranah sosial kemasyarakatan. Adapun urusan dunia dan sosial kemasyarakatan dapat diatur menurut syahwat dan kepentingan yang dapat memberikan keuntungan sekalipun harus merugikan pihak lain. Sehingga nilai dan norma agama menjadi tidak ada di ruang publik (kemasyarakatan). Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin (menjadi rahmat bagi semesta alam) yang syariatnya harus menjadi way of life (aturan hidup) dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Maka tak ayal sekarang ini di tengah-tengah masyarakat pencapaian dunia menjadi ukuran, tujuan, dan dipandang segala-galanya. Orang yang banyak hartanya dan tinggi jabatannya sangat dihargai, tetapi orang yang taat beragama sepertinya dikucilkan. Dalam hal ini Islam memiliki pandangan yang sangat jelas dan tegas, bahwa dalam hidup ini tidak ada pemisahan antara agama dan dunia, bahkan keduanya harus seiring, sejalan, dan seimbang demi meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana yang selalu dipanjatkan dalam doa sapujagat. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Al-Baqarah [2]:201).

Ketiga, Nativisasi yakni upaya mencerabut nilai-nilai Islam dari akar budaya bangsa dan masyarakat. Sehingga terkesan Islam itu anti budaya. Misalnya Islam anti adat, seni, lagu, pariwisata, arsitektur, dan yang lainnya. Padahal justru Islam mendorong lahirnya budaya-budaya yang bersendikan agama dan bernafaskan Islam. Bahkan budaya menjadi media yang efektif untuk pengembangan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang dicontohkan oleh para Wali Songo dalam mengislamkan tanah Jawa sehingga Islam dapat mengakar dan menyebar di tengah-tengah masyarakat. Indonesia pun kaya dengan budaya-budaya yang selaras dengan nilai Islam, karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Yang dilarang dan ditentang oleh Islam itu adalah budaya-budaya yang bertentangan dengan syariat, mengarah pada maksiat,  dan cenderung pada perbuatan syirik.

Bahkan dalam  konteks dakwah, tentunya Islam tidak anti budaya. Justru dalam rangka pembinaan dan pengembangan dakwah,  dapat juga memanfaatkan budaya yang ramah dengan nilai Islam sebagai media dakwah untuk mendukung penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat. Sehingga dakwah Islamiyah dapat dengan cepat disambut oleh masyarakat dengan penuh kehangatan dan kesadaran akan pentingnya mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh). Allah SWT berfirman:

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ibrahim [14]:4).

 

Kesimpulan

Inilah di antara tantangan dakwah yang dihadapi oleh umat Islam Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Betapa berat dan kompleksnya tantangan dakwah sekarang dan ke depan. Tetapi dengan komitmen, konsisten, koordinasi dan sinergi di antara kekuatan-kekuatan dakwah yang ada, mudah-mudahan semuanya dapat diatasi. Umat tetap tercerahkan dan terselamatkan dengan dakwah Islamiyyah yang responsif, konstributif, dan solutif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan, kebangsaan, dan keumatan.

 

Daftar Pustaka

Achmad, Amrullah, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, Jakarta: PLP2M, 1990.

Al-Bahy, Muhammad, Islam Agama Dakwah Bukan Revolusi (terj.), Jakarta: Kalam Mulia, 1997.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1997.

Ibrahim, Marwah Daud, Teknologi Emansipasi dan Transendensi, Bandung: Mizan, 1994.

Mulkhan, Abdul Munir, Ideologisasi Gerakan Dakwah, Yogyakarta: Sippress, 1996.