Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

ANALISIS DIDAKTIKPEMBELAJARAN KALOR UNTUK MELATIHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

ANALISIS DIDAKTIKPEMBELAJARAN KALOR UNTUK MELATIHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

 

Saeful Nurdin

Widyaiswara Ahli Pertama BDK Bandung

e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Abstrak:

Tujuan pembelajaran sains tidak hanya melatihkan penguasaan materi pembelajaran, tetapi melatihkan juga kemampuan proses berpikir dalam diri siswa. Pentingnya berpikir kreatif perlu dilatihkan, agar siswa mengembangkan proses berpikir yang baik, memiliki sikap ilmiah dan motivasi dalam belajar. Tujuan penelitian ini mencoba menganalisis cara-cara untuk melatihkankemampuan berpikir kreatif siswa, Metode deskriftif dimana untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa pada topik kalor melalui uji instrument berbentuk essay, dari analisis data di dapat  kemampuan berpikir secara fluency 54,05%, flexibily 43,24%, originality 10,81% dan elaborasi 18,92%.Hasil analisis dapat diajukan sebuah model pembelajaran berbasis masalahberbantuan bahan ajar exelearnig untuk melatih kemampuan berpikir kreatif siswa.

Kata kunci: kemampuan berpikir kreatif, pembelajaran berbasis masalah, exelearning

Abstrac:

Science learning goals not only train the mastery of learning materials, but also the ability to training the thinking process in students. The importance of creative thinking needs to be trained, so that students develop good thinking process, have a scientific attitude and motivation in learning. The purpose of this study tried to analyze ways to training the students' ability to think creatively, descriptive method whereby to determine the ability of creative thinking of students on the topic of heat through the test instrument essay form , from the analysis of the data in thinking skills Fluency can be 54.05 %, flexibily 43.24 %, originality 10.81 %, and elaboration 18.92 % . The results of the analysis can be presented a problem based learning model exelearnig aided teaching materials to training the students' ability to think creatively.

Keywords : creative thinking skills, problem-based learning, exelearning

 

Pendahuluan

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam rangka mewujudkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif maka dalam Standar Proses dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. (permendikbud No.59, 2014).

Kemampuan berpikir yang penting dalam pembelajaran diantaranyaadalah kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Pada saat seseorang diberikansuatu permasalahan, diharapkan dia dapat menghadapinya secara kritis serta mencobauntuk mencari penyelesaiannya dengan kreatif sehingga diperoleh penyelesaian yangterbaik. Sehingga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan padalingkungan yang sama seperti mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Jadi untukmenumbuhkembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat dilakukan secarabersamaan.

Berpikir meliputi dua aspek utama yaitu kritis dan kreatif. Menurut Glazer (2004) berpikir kritis adalah suatu kemampuan dan disposisi untuk melibatkanpengetahuan sebelumnya, penalaran matematis, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi situasi yang kurangdikenal dalam cara yang reflektif. Sedangkan berpikir kreatif adalah suatuproses yang produktif dalam arti bahwa berpikir kreatif menghasilkan suatu idea atau produk baru.

Dalam ilmu fisika kemampuan berpikir kreatif dikatakan menemukan prinsif-prinsif pokok pisik yang paling mendasar semua berikut permasalahannya, masing-masing yang mana berbeda dari yang lainnya “struktur permukaan” dari permasalahan tetapi bukan dalamnya “struktur yang mendalam… (Sternberg, 2012).

Beberapa hasil penelitian menyarankan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:jenis kemampuan berpikir matematis yang sesuai untuk siswa, jenis bahan ajar yangdigunakan, setting kelas, peran guru, dan otonomi siswa. Jenis kemampuan berpikir kreatif atau karakteristik dari kemampuan berpikir kreatif yang ingindikembangkan harus menjadi acuan awal untuk mengembangkan bahan ajar yang sesuaidengan tuntutan kurikulum dan tujuan yang ingin dicapai, perkembangan siswa,kemampuan guru, serta lingkungan sekolah. Apabila guru ingin mengembangkan bahanajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa,disarankan untuk memperhatikan karakteristik masalah yaitu proses penyelesaianmasalah bersifat terbuka, dan cara untuk menyelesaikan masalah juga terbuka(Risnanosanti, 2012).

Dalam merencanakan suatu pembelajaran, guru perlu membuat prediksi tentangbagaimana kemungkinan siswa belajar fisika secara khusus, prediksi dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana kemampuan berpikir dan pemahaman siswa akanberkembang dalam aktivitas belajar yang dirancang oleh guru.

Mengembangkan serta mengimplementasikani bahan ajar berbasis exelearning dan model pembelajaranProblem Base Learning (PBL), dimana PBL pembelajarannya kontektual berbasis masalah dalam kehidupan sehari-hari, kemungkinan dapat melatihkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Dimana kegiatan penelitian deskriptif melibatkan pengumpulan data untuk menguji hipotesis yang berkaitan dengan status atau kondisi objek yang diteliti pada saat dilakukan penelitian. Penelitian deskrtiptif berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasi apa yang ada (Sumanto, 2014).

            Strategi  yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan didaktik, dimana didaktik merupakan bagian dari ilmu pendidikan yang membahas cara membuat persiapan pembelajaran, mengorganisir bahan pelajaran. Oleh karena itu, didaktik juga berkaitan dengan kurikulum, silabus, dan materi pelajaran. Didaktik adalah ilmu dasar untuk persiapan mengajara yang di dalamnya mencakup model-model pembelajaran, rancangan tujuan pembelajaran, pendekatan-pendekatan pembelajaran, dan gaya pembelajaran. Didaktik adalah kegiatan guru secara terprogram. (Badruzaman, 2014)

Sampel yang diambil dari penelitian ini merupakan siswa pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cikarang di Kabupaten Bekasi.

 

Kajian Pustaka

  1. Kemampuan Berpikir Kreatif

Kreativitas merupakan hasil interaksi dari kedua belahan otak yang ada pada diriseseorang, selain itu kreativitas dapat juga merupakan hasil dari sebuah latihan. Apabilatidak dilatih, maka kreativitas tidak dapat berkembang atau bahkan bisa menjadi lumpuh.Seseorang dapat menjadi kreatif dengan melatih diri untuk berpikir kreatif. Ada empatlangkah penting dalam melatih berpikir kreatif yakni: 1) dalam berpikir jangan mudahpuas dan jangan menerima apa adanya, 2) jangan terpaku pada satu cara, 3) pertajam rasaingin tahu, 4) perlu latihan otak.

Kreativitas adalah suatu habits(kebiasaan) (Sternberg, 2006). Jadi didalam semua inovasi terdapat sebuah kreatifitas, hal ini dimana inovasi dapat bangkit dari sebuah kreatifitas. Kreativitas juga bisa berarti kemampuan untuk membayangkan atau menciptakan sesuatu yang baru.

Kreativitas diusulkan sebagai kemampuan untuk menghasilkan ide baru menjadi ada melalui berpikir divergen atau tiba di banyak solusi untuk masalah, dan menawarkan  beberapa dimensi untuk menggambarkan kreativitas: (Guilford, 1950, 1987) menjelaskan berpikir kreatif sebagai gambaran intelegansi individu, yang terdiri dari beberapa faktor, dan termasuk produk divergen (berpikir divergen). Fakor utamanya diuraikan sebagai berikut sebagai berikut:

  1. Fluency (kelancaran atau keahlian) yaitu kecepatan seorang individu dalam membangun ide-ide berdasarkan kuantitas, dapat dilihat dari aspek associational fluency yaitu kemampuan dalam melakukan keterkaitan, kemampuan menerapkan konstruksi analogi, dan expressional fluency, yaitu kemampuan untuk mengkontruksi kalimat.
  2. Flexibility yaitu keluwesan dan kelenturan. Terdapat dua jenis flexibility yaitu spontaneous flexibility  yang berarti kemampuan untuk beralih ke jawaban lain tanpa harus diarahkan terlebih dahulu, dan adaptive flexibility yang berarti jawaban orsinil yang diberikan.
  3. Elaborative (keterincian) yaitu hasil dari berbagai implikasi.
  4. Evaluation, merupakan penilaian kesesuaian informasi, apa kekurangan dan kelebihan suatu desain, solusi yang dihasilkan bagaimana sebaiknya

Menurut Guilford aspek keorsinilan dalam berpikir kreatif termasuk pada aspek adaptive flexibility, sedangkan menurut Torrance (1966) dalam (Munandar, 2012) nilai keorsinilan dalam membuat dan menyusun keterhubungan atau keterkaitan baru, perspektif baru, merupakan aspek tersendiri dalam berpikir kreatif. Dengan demikian Torrance menambahkan originalitas sebagai aspek tersendiri dalam berpikir kreatif.

Berdasarkan konsepgagasan Torrance dalam (Alrubaie, 2013), masing-masing aktivitas tugas ditangani oleh salah satu dari beberapa jenis pertanyaan dan dapat dilatihkan sebagai berikut:

  1. Mengajukan Pertanyaan: Siswa diminta untuk menghasilkan sebanyak mungkin pertanyaan berdasarkan gambar diberikan;
  2. Menebak Sebab: Siswa diminta untuk menulis semua alasan atau perkenalan yang menyebabkan apa yang muncul dalam gambar yang diberikan;
  3. Menebak penyebab suatu kejadian atau peristiwa: Siswa diminta untuk menulis semua yang dapat diperlukan atau yang dihasilkan dari situasi atau peristiwa;
  4. Meningkatkan Produk: Siswa diminta untuk menulis semua perubahan atau penambahan yang dapat ditambahkan untuk meningkatkan produk;
  5. Alternatif Penggunaan Bahan Umum: Siswa diminta untuk menulis sebanyak mungkin kegunaan ilmiah untuk botol plastik kosong yang tidak terpakai; dan
  6. Meramalkan: Siswa menampilkan posisi kegagalan yang tidak mungkin terjadi dan meminta dia untuk menulis segala sesuatu dari hasil terjadinya situasi tersebut dengan mengasumsi mungkin untuk melakukannya, dan siswa harus menulis semua ide dan dugaan yang dapat timbul dari peristiwa yang  akan terjadi.

Berdasarkan pemikiran Guilfor, dan Torrance. Pada penelitian ini, berpikir kreatif dapat dievaluasi dengan menggunakan empat elemen yang membentuk dasar dari instrument diuraikan di atas; yaitu, (fluency) kelancaran (yakni, siswa memberikan sebanyak-banyaknya jawaban yang mereka bisa), fleksibility (yaitu, diminta untuk menulis semua alasan atau perkenalan yang menyebabkan apa yang muncul dalam gambar yang diberikan), orisinality (yaitu, siswa memberikan jawaban otentik/unik yang berbeda dari orang lain), dan elaborasi (yaitu, siswa memberikan sebab dan akibat untuk setiap jawaban).

  1. Bahan Ajar Exelearning

Bahan ajar adalah seperangkat materi / subtansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi atau kemampuan yang harus dikuasai siswa dalam kegitan pembelajaran. Bahan ajar mendukung siswa untuk mencapai kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga siswa menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Fungsi bahan ajar adalah sebagai berikut:

  1. Pedoman bagi guru dalam mengarahkan semua aktivitas pembelajaran, sekaligus merupakan subtansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa
  2. Pedoman bagi siswa dalam mengarahkan semua aktivitas pembelajaran sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari atau dikuasai.
  3. Alat evaluasi untuk mencapai/menguasai hasil pembelajaran.

The eLearning XHTML Editor (eXe) adalah sebuah lingkungan authoring untuk membantu guru dan akademisi dalam mendesain, pengembangan dan penerbitan bahan ajar berbasis web tanpa perlu menjadi mahir dalam HTML atau aplikasi web-publishing yang rumit.Web adalah alat pendidikan yang revolusioner karena menyajikan guru dan siswa dengan teknologi yang secara bersamaan memberikan sesuatu untuk berbicara tentang (konten) dan sarana untuk mengadakan percakapan (interaksi). Sayangnya, kekuatan media hypertext ini dibatasi dalam pengaturan pendidikan karena sebagian besar guru dan akademisi tidak memiliki keterampilan teknis untuk membangun halaman web mereka sendiri, dan karena itu harus bergantung pada ketersediaan pengembang web untuk menghasilkan mencari konten online profesional.

eXe telah dikembangkan untuk mengatasi beberapa keterbatasan tersebut. Banyak software web authoring memerlukan-kurva belajar yang cukup curam, tidak intuitif atau dirancang untuk menerbitkan konten pembelajaran. Akibatnya guru dan akademisi belum mengadopsi teknologi ini untuk menerbitkan konten pembelajaran online eXe bertujuan untuk memberikan intuitif, alat yang mudah digunakan memungkinkan guru untuk mempublikasikan halaman web profesional untuk belajar.

 

Hasil dan Pembahasan

Instrumen yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif adalah soal uraian. Penskoran berdasarkan jumlah presentase dan frekuensi jawaban siswa, rentang persentasenya antara 0-10% dengan kriteria sebagai berikut: 1) untuk fluency, fleksibility dan elaborasi, rank angka penilaian 1 sampai 4 dengan kategori jawaban siswa terbanyak jika persentase 10 % maka nilainya 4, rentang 6-9% nilai 3, jika rentang 2-5% nilai 2, jika 1 % nilai 1, dan 0% nilai nol.2)  untuk originality penilaiannya berlawanan dengan fluency dan fleksibility karena indikator ini sangat sulit, yaitu mencerminkan keaslian gagasan siswa dengan penilaian, jika jawaban berkisar dibawah 5% maka nilai 4, jika 6-7% nilai 3, jika 8-9 nilai 2, jika 10% nilai 1, diatas 10% nilai nol. (Hu dan Adey, 2002).

Hasil analisis beradarkan uji coba soal, dengan menyajikan sebuah video, dimana peserta didik dapat melihat suatu proses perpindahan kalor dengan cara memanaskan minuman kaleng oleh kompor gas dan hasilnya secara nyata dapat dilihat, sehingga mereka dapat mejelaskan permasalahan yang disajikan dan menyelesaiakannya dengan baik. Adapun tujuan pemecahan masalah tersebut untuk mendapatkan data tentang kemampuan berpikir kreatif siswa. Hasil analisis data didapat bahwa berpikir siswa secarafluency 54,05%, flexibility 43,24%, originality 10,81% dan elaborasi 18,92%. Sebagaimana digambarkan dalam grafik di bawah ini:

 

Grafik Berfikir Kreatif Siswa

 

Dari data tersebut siswa masih lemah dalam proses berpikir originality, elaborasi, dan flexibility. Maka dari itu perlunya pembelajaran yang inovatif dimana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa perlu dilatihkan, berkenaan dengan pembelajaran inovatif tidak terlepas dari bahan ajar yang inovatif dan model yang digunakan oleh guru dikelas untuk melatihkan proses berpikir tersebut.

Pembelajaran inovatif disebut juga pembelajaran aktif dimana proses pembelajarannya seorang guru dapat menciptakan suasana yang sedemikian rupa, sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan juga mengemukakan gagasannya. Untuk dapat merencanakan proses pembelajaran secara inovatif yang mampu memberikan pengalaman yang berguna bagi siswa, kita perlu memperhatikan komponen penting proses pembelajaran. Dari komponen proses pembelajaran tersebut, guru dapat merencanakan kegiatan dan strategi pembelajaran yang relevan dengan tujuan belajar.

Proses belajar yang baik menurut Gagne dalam (Uno, 2012) diawali dari fase motivasi. Jika motivasi tidak ada pada siswa, sulit akan diharapkan terjadi proses belajar dalam diri mereka. Dari motivasi tersebut akan lahir harapan-harapan terhadap apa yang dipelajarinya. Jika siswa memiliki harapan yang tinggi menurut teori dan berbagai penelitian, ada kemungkinan untuk berhasil dalam belajarnya.

Menurut teori perilaku hypothetico-deductive, bahwa belajar terjadi tidak dengan sekali percobaan, tetapi melalui proses pengulangan dan terjadi karena adanya kebutuhan terhadap lingkungan dan kelangsungan hidup. Semakin orang dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk mengetahui dan memahami dunia di sekeliling mereka, motivasi belajar mereka dapat menjadi semakin besar dan kuat.

Dalam merencanakan suatu pembelajaran, guru perlu membuat prediksi tentangbagaimana kemungkinan siswa belajar fisika secara khusus, suatu prediksibagaimana berpikir dan pemahaman siswa akan berkembang dalam aktivitas belajar yangdirancang oleh guru. Suatu hypothetical learning trajectory (HLT) atau lintasan belajardisediakan oleh guru dengan dasar pemikiran untuk memilih disain pembelajaran khusus,sehingga sebagai guru dapat membuat keputusan disain yang didasarkan pada perkiraanterbaik bagaimana hasil belajar yang mungkin dicapai. Hal ini dapat terlihat dalampemikiran dan perencanaan yang terjadi dalam pengajaran sebelumnya, termasuk responspontan yang dibuat dalam menanggapi pemikiran siswa. Istilah “learning trajectory”digunakan untuk menggambarkan transformasi belajar yang dihasilkan dari partisipasi dalam aktivitas belajar fisika.

 Kenyataan dilapangan, selama ini guru telah banyak melakukan inovasi dalam perencanaan pembelajaran untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran, sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Namun, bagaimana merencanakan metode dan model pembelajaran yang dapat membangkitkan berpikir kreatif siswa itu sendiri masih sangat jarang dilaksanakan. Dalam hal ini praktik-praktik pembelajaran cenderungg masih mengabaikan gagasan, konsep, dan kemampuan berpikir siswa.

Pembelajaran berbasis masalah sengaja dikembangkan untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual (Arends, 2012). Menurut Arends Sintak Pembelajaran Berbasis Masalah dapat di urutkan sebagai berikut:

TAHAP

TINGKAHLAKU GURU

Tahap 1

Memberikan orientasi tentang permasalahan kepada siswa

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih

Tahap 2

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

 

Membatu siswa mendefinikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Membantu siswa merencanakan dan meyiapkan karya yang sesuai

Tahap 5

Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Membantu siswa untuk melakukan refleksi/evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang digunakan

 

Pengembangan bahan ajar exelearning merupakan inovasi dalam pembelajaran yang didalamnya memuat pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan. Dengan eXe, pengguna dapat mengembangkan struktur belajar yang sesuai dengan kebutuhan pengiriman konten mereka dan membangun sumber daya yang fleksibel dan mudah diperbarui. Sebuah editor teks tersedia dengan input field dalam iDevices yang menyediakan format dasar dan fungsi editing.

Proses pengembangan bahan ajar exelearning ini terdiri dari tahapan-tahapan. Tahap pertama diawali dengan penyajian masalahkontektual sehari-hari melalui gambar dan konflik kognitif. Tahap kedua yaitu isi, pada tahap ini disampaikan penyajian materi, materi yang di sajikan yaitu materi suhu dan kalor. Tahap tugas, pada tahap ini disajikan tugas mengenai perpindahan kalor, diantaranya ada jendela quis, lembar kerja siswa, dan tugas. Tahap penutup, pada tahap ini disajikan tokoh yang berjasa dibidang suhu dan kalor, kesimpulan dan glosarium. Pada tahapan tersebut dikolaborasikan dengan tahapan PBL yang di kemukakan oleh Arends.

Dengan demikian dimungkinkan metode pembelajaran berbasis masalahdapat digunakan. Dalam pendekatan ini, setiap pernyataan maupun pertanyaan yang guru berikan selama proses pembelajaran berlangsung, sesuai dengan strategi yang dijelaskan oleh Arends sehingga inidikator berpikir kreatif tersebut dapat dilatihkan.

 

Kesimpulan

Mengembangkan serta mengimplementasikan bahan ajar inovatif yang memuat permasalahan dan tugas fisika yang sesuai, sehingga memungkinkan siswa menggunakankemampuan berpikir kreatifnya secara aktif, merupakan suatu hal yang sangat sulit bagiguru maupun peneliti pendidikan fisika secara umum. Oleh karena itu diperlukansuatu contoh atau prototipe bahan ajar yang dapat dijadikan acuanbagi guru-guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswanya.

 

Daftar Pustaka

Alrubaie, Farah & Daniel, Ester Gnananmalar S. (2014).
Developing a Creative Thinking Test for Iraqi Physics Students, International Journal of Mathematics and Physical Sciences Research. Vol. 2, Issue 1, pp: 80-84.
 
Arends, Richard I. (2012).
Learning To Teach Belajar untuk Mengajar. Yogyakarya: Pustaka Pelajar.
 
Badruzaman. (2014). Tersedia di  :
 
Fernandez, Antonio Monje. (2014).
exelearning 2.0.1 portabel (windows)-zip. Tersedia di :http://exelearning.net/downloads/ [diakses 28 Nopember 2014]
 
Glazer, E. (2004).
Technologi Enhanced Learning Environment that are Conductive toCritical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the Word Wide Web. Tersedia:http://www.lonestar.texas.net~mseifert/crit2.html. [diakses 2 Januari 2015]
 
Guilford, J.P. (1987).
creativity Research: Past, Present and Future. In Isaken, S.G. (Ed.), Frontiers of creativity reseach: Beyond the basic (pp. 33-65) Buffalo, NY: Bearly Limited..
 
Hu & Adey . (2002).
A scientific creativity test for secondary school students, International Journal of Science Education, VOL. 24, NO. 4, 389–403.
 
Munandar, Utami. (2012).
Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
 
Permendikbud nomor 59 tahun 2014.
Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menenah Atas / Madrasah Aliyah. Jakarta: Kemendikbud.
 
Risnanosanti. (2012).
Hypothetical Learning Trajectory UntukMenumbuh Kembangkan Kemampuan Berpikir KreatifMatematis Siswa SMA Di Kota Bengkulu. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNYYogyakarta.P-79, 2012.
 
Sternberg, R. J. (2006). Creativity is a habit. Education Week, 25(24), 47–64.
 
Sternberg, R. J. (2012). The Assessment of Creativity: An Investment-Based 
Approach. Creativity Research Journal, 24(1), 3–12, 2012
 
Sulaiman, Fauziah. Coll, Richard K.& Hassan, Suriani (2013).
Comparison using PBL and Online Learning for Undergraduate Physics’ Students for Creative Thinking. Recent Technological Advances in Education Journal, 109-114, 2013.
 
Sumanto. (2014)
Teori dan Aplikasi Metode Penelitian, Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service
 
Uno, B Hamzah dan Mohamad, Nurdin. (2012).
Belajar dengan pendekatan PAILKEM (pembelajaran aktif, inovatif, lingkungan, kreatif, efektif, menarik). Jakarta : Bumi Aksara.