Top Panel

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dakwah

( Tinjauan Teologis dan Teoritis Dakwah Multimedia)

Oleh : Shohib,M.Ag

Preaching is an attempt to change the situation better and perfect according to the teachings of the present Islam.Preaching must be actual, factual and contextual, so preaching to the rapid solution of human problems .Along with the development of science and technology, the use of multimedia-based information and communication technology is a necessity which has  a strong foundation in terms of both theological and theoretical.

Keyword : ICT ( information and communications technology), multymedia, cyberspace, metaman, world wide web


A. Pendahuluan

Hakikat dakwah merupakan usaha seruan atau ajakan kepada kesadaran atau mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran Islam baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Dengan  kalimat lain dakwah merupakan usaha orang beriman untuk mewujudkan Islam dalam segi kehidupan baik terhadap individu, keluarga, masyarakat. Dakwah merupakan aktualisasi iman dan kewajiban serta tugas suci  setiap muslim sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing.
Dalam mewujudkan tujuan dakwah, ada pendapat yang menyatakan bahwa agama Islam didakwahkan dengan pedang dan kekerasan sehingga ada kesan bahwa Islam adalah agama paksaan. Hal ini mungkin diterima oleh orang-orang yang belum faham tentang hakikat agama Islam. Terlebih para orientalis sengaja membesar-besarkan pendapat ini dengan motif tertentu untuk menyuramkan sinar Islam dengan harapan menjauhinya(HafiAnshari,2003:81). Teori Islam disebarkan dengan pedang dan paksaan merupakan teori yang tidak mendasar dan ahistoris, bahkan bertentangan dengan prinsip dasar Islam  La ikroha fiddin ( Q.S. 2 : 256 )  dan Lakum dinukum waliyadin.(  Q.S. 109 : 6 )
    Dewasa ini ada sekelompok  umat Islam yang mengklaim diri sebagi yang paling benar berdakwah tidak hanya mengajak kepada kebaikan tetapi sekaligus melenyapkan kemunkaran dengan cara-cara yang tidak santun bahkan cenderung memaksakan kehendak. Dakwah demikian membuat orang was-was dan tidak tenang dalam menjalankan keyakinan dan pilihan hidupnya. Jika melihat kasus akhir-akhir ini ada sekelompok umat Islam yang menampilkan dakwah yang menakutkan. Perbuatan teror diklaim sebagai jalan dakwah ( jihad ). Pengertian jihad dalam agama Islam mempunyai arti berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menegakan agama Allah. Oleh sebab itu kegiatan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan dakwah adalah manifestasi jihad ( Q.S. 61 : 11-12 ). Keliru memilih sistem metode serta cara, keliru pula jalan yang ditempuh dan melesetlah tujuan yang harus dicapai. Dengan kata lain berdakwah yang baik efektif serta efesien harus sesuai dengan kondisi riil masyarakat pada zamanya. Oleh karena itu seorang dakwah harus jeli memanfaatkan berbagai media dalam tulisan ini akan diulas dakwah dengan multi media melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi baik dari segi urgensi, landasan teologis dan landasan teoritis.

B. Urgensi Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dakwah


Al-Qur’an merupakan kitab dakwah yang mencakup seluruh kajian dakwah, baik perintah, unsur-unsur dakwah seperti dai, maddah, mad’u, metodologi serta teknis penyampaiannya. Sebagai kitab dakwah al-Qur’an al-Karim merupakan rujukan pertama dan utama dalam mengkaji tentang dakwah Islamiyyah.
    Menurut Ahmad Faiz sebagai Kitab Dakwah al-Qur’an mengandung beberapa pengertian yang menunjukan kekuatannya sebagai sumber dakwah.
    Pertama, al-Qur’an adalah kitab dakwah, undang-undangnya yang bersifat umum. Sebagai kitab dakwah, al-Qur’an harus menjadi rujukan yang pertama dan utama para da’i sebelum mereka menggunakan rujukan dari sumber-sumber lain. Mereka harus menggali dan belajar dari al-Qur’an, bagaimana mereka harus berdakwah, menyeru dan manusia ke jalan Allah SWT. Mereka juga harus bertanya kepada al-Qur’an bagaimana mereka harus menyadari hati yang lalai dan menghidupkan semangat dan jiwa yang mati. Mereka harus pula mempelajari metode al-Qur’an dalam memulai berdakwah ke arah mana dakwah harus menuju.
    Kedua, al-Qur’an merupakan undang-undang ( dustur ) yang bersifat konfrehensif, mencakup undang-undang pendidikan dan kehidupan, dan secara khusus al-Qur’an memuat praktek-praktek dakwah dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Sejarah dakwah yang termaktub didalamnya merupakan ibrah utama bagi umat Islam khususnya para da’i.
    Ketiga, al-Qur’an telah menempuh berbagai jalan dan mengikuti berbagai pola dalam menghadapi keragu-raguan manusia terhadap kebenaran Islam. Berbagai pola pendekatan ini, merupakan bekal dakwah dan bekal da’i dalam berdakwah. Ini artinya, da’i harus selalu kembali kepada al-Qur’an sepanjang masa.
    Keempat, sepeninggal Nabi Muhammad SAW, al-Qur’an harus dijadikan sebagai pemimpin dan imam sepanjang sejarah untuk membimbing  umat Islam dari generasi ke generasi, serta mendidik dan memepersiapkan  mereka agar dapat  sekali lagi berperan dalam kepemimpinan dunia dalam kehidupan umat manusia.
    Dakwah merupakan sesuatu kewajiban dalam ajaran Islam yang dibebankan Agama kepada umatnya baik yang sudah menganutnya maupun belum. Dalam masalah ini semua ulama sepakat. Sejauh ini perbedaan yang ada hanya berkisar pada apakah kewajiban ini bersifat individual, berlaku bagi setiap muslim ( wajib ain ) ataukah kewajiban bersifat kolektif, berlaku untuk kelompok tertentu sebagai representasi kelompok lain sehingga ketika tugas dakwah telah dilaksanakan suatu kelompok gugur kewajiban kelompok lain dalam komunitas yang sama ( wajib kifayah ). Sebagian ulama berpendapat bahwa dakwah merupakan kewajiban individu. Sekalipun demikian dakwah tetap memerlukan kelompok khusus yang ahli dan memiliki kemampuan manajerial dalam melaksanakan tugas dakwah. Sebagian lain berpendapat bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi kelompok tertentu saja dan bukan kewajiban bagi setiap individu.
    Kedua pendapat tersebut masing masing didasari pada dalil-dalil yang akurat. Pendapat pertama yang menyatakan dakwah merupakan kewajiban individu ( wajib ain ), setiap muslim yang sudah akil baligh, terkena kewajiban dakwah ( taklif dakwah ). Argumen pendapat ini  diantaranya merujuk pada al-Qur’an Surat Yusuf ayat 108 yang artinya : Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".( Q.S.Yusuf :108 )
    Pengikut seorang Nabi adalah orang orang beriman. Untuk itu  setiap orang beriman pengikut Nabi wajib berdakwah sebagaimana Nabi telah melakukan dakwah. Argumen kedua merujuk pada Q.S Ali Imran ayat 104 dan 110 yang artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”( Q.S : 104 )yang artinya : “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.( Q.S Ali Imran : 110 )                                                            
           Menurut pendapat ini  kata ( min ) dalam al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 ini lilbayan ( menjelaskan ), bukan liltaba’id ( sebagian ). Dengan demikian menurut pendapat ini, ayat tersebut bermakan :” Jadilah kamu semua umat yang selalu menyeru kebajikan”. Namun meskipun dakwah merupakan kewajiban setiap muslim, dakwah tetap membutuhkan adanya kelompok khusus yang profesional yang menguasai manajerial dakwah yang dalam teknis pelaksanaanya perla dilaksanakan secara kolektif ( bi shurat jamaiyyat ). Dalam hal ini, mereka mengemukakan beberapa argumen antara lain : Pertama, tugas dan tanatangan dakwah semakin berat. Kedua, dalam sirah Nabawiyah Rasulullah SAW memerintahkan sahabat agar hijrah ke Dar-al-Islam, agar mereka dapat menyatukan mereka. Ketiga, di dalam al-Qur’an terdapat perintah agar kaum   muslim saling tolong menolong dalam kebajikan(Q.S.3 :2)                                                    
                                                                                                                                                                                                                                                                
    Ayat ini seperti yang dikemukakan Abd al-Karim Zaidan dalam Ushul al-Dakwah merupakan dalil yang menunjukan perlunya dakwah secara kolektif ( al-tajammu’ wa al-dakwa tal-jamaiyyat ) bahkan menjadi dalil yang mewajibkan dakwah kolektif bilamana tujuan dakwah tidak tercapai tanpa itu.
    Berbeda dengan pendapat pertama, pendapat kedua berpendapat bahwa dakwah bukan kewajiban individu, melainkan kewajiban sekelompok tertentu saja, yaitu para ulama atau oang orang yang mempunyai kemampuan untuk itu atau biasa disebut pemuka-pemuka agama ( rijal al-din ). Ulama atau pemuka agama adalah sebagian dari umat Islam dan bukan keseluruhan umat Islam. Alasannya, pertama, berdakwah harus memiliki persyaratan ilmu. Seseorang tidak mungkin mengajak orang lain dengan benar apabila tidak memiliki pengetahuan atau dengan bahasa lain seseorang tidak mungkin mengajak orang lain berbuat baik kalau ia sendiri tidak mengerti kebaikan itu sendiri. Oleh sebab itu dakwah kewajiban para ulama dan kelompok khusus bukan kewajiban orang awam. Pendapat ini menyandarkan argumennya pada Q.S al-Taubat : 122 ).Dalam ayat tersebut jelas mewajibkan dakwah hanya kepada sekelompok orang saja, bukan kepada semua orang. Menurut pendapat kedua, ayat ini berarti tidak seharusnya orang-orang mukmin pergi semua berperang, tetapi seharusnya ada sekelompok orang mukmin yang tetap tinggal memperdalam ilmu agama dan melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat.
    Argumen selanjutnya Q.S. Ali Imron ayat 104 difahami bahwa kata ( min )
Dalam ayat ini dimaknai sebagian (  liltabaidh ). Alasanya bahwa di dalam masyarakat pasti ada orang yang tidak mampu berdakwah, melakukan amar makruf nahi munkar. Dari dua pendapat ini pendapat pertama lebih kuat dan lebih shahih karena pendapat pertama sudah mencakup pendapat kedua, tetapi tidak sebaliknya( Ismail Ilyas,2006:201)
    Dakwah adalah seruan atau ajakan kepada kesadaran atau mengubah situasi ke situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran islam baik terhadap pribadi maupun terhadap masyarakat.(AhmadSubandi,2004: iii)Perwujudan dakwah bukan hanya sekedar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidaup saja, tetapi menuju sasran yang lebih luas. Dakwah pada saat ini harus aktual, faktual dan kontekstual  sehingga dakwah dapat menjadi solusi bagi setiap problematika kehidupan manusia.( Awaluddin Pimay,2007:xi) Aktual berarti memecahkan masalah kekinian yang sedang hangat di masyarakat. Faktual dalam arti konkrit dan nyata serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problematika yang yang sedang dihadapi masyarakat. Seiring pesatnya teknologi komunikasi dan informatika,pemanfaatkan teknologi berbasis ICT( information and communication technology ) atau TIK ( teknologi informasi dan komunikasi ) sebagai media dakwah merupakan suatu keniscayaan.


C.  Landasan Teologis dan Teoritis Dakwah Multimedia
Teknologi informasi dan komunikasi adalah produk media komunikasi yang dikembangkan dalam upaya memfungsikan komunikasi itu untuk menginformasikan (to Inform), untuk mendidik (to educate), untuk menghibur (to entertain) dan untuk mempengaruhi (to influence). Pada gilirannya, derivasi multimediayang berbasis ICT (information and communication technology) telah mengubah dunia menjadi kecil dan seakan tanpa ruang dan waktu. Betapa segalanya dimudahkan dengan berbagai fasilitas komunikasi kontemporer. Tentu jika tidak ada sesuatu hal yang mengubah segalanya, dimasa depan perkembangan media komunikasi yang berbasis ICT atau TIK ( teknologi informasi dan komunikasi ) akan lebih pesat dan lebih maju menjawab setiap persoalan dalam komunikasi. Sebagai contoh, media informasi yang pada masa konvensional paling trendi disebarluaskan melalui media cetak seperti surat kabar atau buletin, kini sudah berkembang pesat melalui multimedia yang berbasis TIK seperti televisi berbayar atau bahkan melalui situs-situs internet yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja jika mau.
Dalam konteks dakwah, multi media yang digunakan pun tidak sekadar memfungsikan sebahagian fungsi komunikasi seperti menginformasikan, mendidik dan mempengaruhi saja, tetapi juga mengoptimalisasikan upaya mengajak atau menyeru (to invite/ to propagate). Sehingga multi media atau dalam konsepsi ilmu dakwah disebut wasilah, mengadopsi segala produk media komunikasi terutama multimedia berbasis teknologi informasi dan komunuikasi sebagai media dakwah.
Namun ada hal yang mendasar yang perlu dicatat bahwa segala bentuk multimedia tersebut tidak mungkin berkembang dan dikembangkan tanpa ada sesuatu yang menjadi modal untuk berkomunikasi itu secara fundamental. Tentu sesuatu itu dalam pandangan Islam tidak terjadi menjadi ada dengan sendirinya tetapi di ada kan oleh yang maha mengadakan yaitu Alloh SWT. Firman Alloh dalam Q.S. Al-furqon ayat 48 yang terjemahnya :” Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan Rahmat-Nya (hujan) dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih”.
Ayat-ayat Quraniyah dalam rangkaian surat Al-Furqon Asy-Syuaro dan An-naml adalah ayat-ayat dakwah para nabi yand didalamnya terdapat pula hal-hal yang berkenaan dengan media dakwah. Ini menjadi landasan teologis yang sangat ilmiah untuk mengclaim, menggugat atau meluruskan bahwa seharusnya media komunikasi yang berkembang saat ini terjadi karena keberadaan angin atau sebutlah gelombang elektromagnetik yang dapat nenghantarkan resonansi suara dari suatu tempat ketempat yang lain. Al-qur’an menyatakan bahwa para nabi bertugas menyampaikan berita gembira dan peringatan kepada manusia. Untuk menyebarluaskan pesan ilahiyah itu, Alloh menciptakan angin sebaga fasilitas atau media dakwah sebagaimana Nabi Suaiman yang dapat menangkap resonansi berbagai suara binatang dan ketundukan angin kepadanya dengan ijin Alloh. Di dalam Q.S. An-naml ayat 15 sampai dengan 44, Alloh membelajarkan umat Islam dengan kisah sulaiman yang mandakwahkan ajaran tauhid mulai dengan menggunakan media lisan tulisan (surat) sampai media semacam 3G (dimasa sekarang) atau ICT dan bahkan belum sepadan melampaui itu. Lebih gamblang dalam ayat ke 40 Alloh menginformasikan yang terjemahnya :” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-kitab, ’Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’ maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata: ’ Ini termasuk karunia tuhanku untuk mencoba aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhan-Ku maha kaya lagi maha Mulia”.
Pada masa nabi Sulaiman, Fenomena cyber space atau dunia mayantara pernah muncul dan bahkan keunggulannya dimiliki oleh manusia ketimbang Ifrit dengan dapat memindahkan benda materiil dari satu tempat ketempat yang lain.
Saat ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet pun seolah-olah menjadi benak alias otak luar seluruh manusia dimuka bumi. Tak heran jika sejumlah cendekiawan pelopor internetbmengira bahwa sarana komunikasi dan informasi yang tercipta di dalamnya akan mempercepat proses serebralisasi bumi. Sebagai akibatnya, semua manusia akan terdorong menjadi sebuah kesatuan oraganis besar. Kesatuan umat manusia inilah yang diharapkan menjadi terminal spiritualitas paling akhir seperti yang diramalkan di tahun 30-an oleh paleontolog, yang juga seorang pastur Ordo jesuit prancis  , bernama Teilhard de chardin sebagai titik omega, yaitu titik akhir proses evolusi semesta. Tentu apabila ditarik pada wilayah materialis empiris fenomena itu itu adalah proses evolutif, tetapi dalampendekatan spiritualitas hal itu adalah suasana revolusi sebagaimana para Sufi yang mukhasafah bersatu dengan jagat raya.
Dengan demikian, angin yang dibicarakan Al-Qur’an sebagian adalah gelombang elektromagnetik yang diperuntukan menjadi media dakwah dan komunikasi para nabi untuk menyebarkan ajaran islam. Fondasi teologis ini diadopsi oleh orang-orang non muslim yang menemukan dan mengembangkan multimedia berbasis teknonologi informasi dan komunikasi dengan mengekplorasi manfaat gelombang elektromagnetik untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tentunya, tanpa harus mengklaim dan menemukan kembali, realitas sudah membuktikan bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi itu sejalan atau ruhnya sudah diinformasikan Alloh di dalam Al-Qur’an sehingga kenyataan itu tak terbantahkan.Bagi seorang da’i penting untuk bersikap bijak dan bajik dalam menyikapi berbagai fenomena sebagai sebuah kesatuan sistem (tauhid) dalam perbedaan agama, ideologi, ras, dan lain-lain. Firman Alloh SWT :”Dan hamba-hamba Tuhan yang maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Q.S. Al-Furqon: 63).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk pemanpaatan partikel bermuatan listrik (elektron) kini banyak berbentuk produk yang beragam bentuk sesuai dengan fungsinya masing-masing seperti telephon kabel dan selular, radio, televisi , internet dan lain-lain. Biolog Gregory Stock, berpendapat bahwa masyarakat teknologi kontemporer sedang mengalami metamorfosis menjadi suatu yang disebut MetaMan yaitu suatu superorganisme yang kemampuannya melebihi kemampuan manusia secara individu.Akan tetapi, menurut Heylighen, MetaMan itu tidak akan lahir begitu saja.Itulah sebabnya dia, bersama rekannya John Bollen, Bereksperimen dengan program-program internet yang dapat menjadikan World Wide Web lebih cerdas dengan membuat link-link nya lebih adaktip seperti halnya urat-urat penghubung antar sel saraf dalam otak manusia.
Dalam konteks dakwah Islam tentunya segala bentuk kemajuan teknologi informasi dan informasi itu adalah bagian dari karunai Alloh yang wajib disyukuri dengan cara menguasai dan menggunakannya untuk kemajuan dakwah menciptakan khairu ummah. Bukan malah sebaliknya, multimedia komunikasi dan informasi itu malah dikuasai dan digunakan oleh manusia yang berorientasi pada kesenangan hidup dan kesenangan hawa nafsu dengan dorongan materialisme, kapitalisme, hedonisme dan seterusnya yang sejalan dengan dakwah fi syaithon. Sebagai contoh yang paling dekat diungkap oleh Jalaludin rahmat yang menyebutbtelevisi diabad modern ini sebagai the first god, media yang banyak dipertuhankan (thogut) oleh manusia. Prilaku sosial masyarakat sangat terpengaruh oleh pola sikap ”nabi-nabinya” (kaum seleb) yang tampil ditelevisi. Tidak heran jika prilaku sosial masyarakat kontemporer yang posisinya hanya sebagai penikmat/konsumen tidak jelas identitasnya terombang-ambing oleh gelomban pasang informasi yang menerjang.
Maka pantas jika Hafi Anshari, mensarankan adanya alat preventif dan alat represif dalam berdakwah sebagai bentuk kode etik atau akhlak dakwah yang secara spesipik kaitannya dengan penggunaan media dakwah. Tentunya hal ini dilakukan untuk menjaga keotentikan ajaran islam ketika dipergaulan dialam maya yang bebas tanpa tembok-tembok penghalang secara fisik dan psikis.
Oleh karena itu, dakwah melalui multimedia berbasis teknollogi informasi dan komunikasi menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Sudah saatnya para pegiat dakwah mengejar ketertinggalannya dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk berdakwah dengan standar minimal menjadi pengguna (user).

D. Penutup
Dari pembahasan yang telah diuraiakan maka dapat diambi simpulan sebagai berikut :

  1. Tujuan dakwah yang sangat mulia harus dicapai dengan cara-cara yang mulia sesuai dengan tuntunan perkembangan zaman.
  2. Kewajiban dakwah merupakan tugas bagi setiapmuslim baik individu maupun kelompok namun dakwah harus dimanaj secara profesional
  3. Pemanfaatan multimedia yang berbasis TIK dalam dakwah merupakan suatu keniscayaan yang memiliki landasan  yang kuat baik secara teologis maupun teoritis.





DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an al-Karim Departemen Agama , 2000


Ahmad Subandi                                    

IImu Dakwah : Pengantar kearah Metodologi, ( Bandung : Syahida ,2004 )    cet.ke-10.


A. Ismail Ilyas                               

Paradigma Dakwah Sayyid Quthub, ( Jakarta : Penamadani,2006 ) cet.ke1.


Asep Muhyidin dan Agus Ahmad Syafei

Metode Pengembangan Dakwah, ( Bandung : Pustaka setia,2002 ) cet.ke-1.

Ali Mustafa Yaqub                                        

Sejarah dan Metode Dakwah Nabi ( Jakarta : Pustaka Firdaus,2000 )     cet.ke-2.

Awaludin Pimay                                

Metodologi Dakwah, ( Semarang : RaSAIL,2007 ) cet.ke-1 hlm.xiii

B.J Boland                                         

The Strunggle of Islam in Modern Indonesia, ( The Hague Martinus     Nijhoff, 1971 )

Ibnu Sa’ad                                        

al-Thabaqot al-Kubra,( Beirut : Dar al-Fikr, 1980 ).

Ismail Razi al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi                    

The Cultural Atlas of Islam, ( New York : Macmillan Publishing     Company, 1986 ) .

Muhammad Ajjaj al-Khatib

Ushul al-Hadits ( Beirut : Dar al-Fikr, 1981           

Muhammad said Ramadhan al-Buthi,                         

Fiqh Sirah ( Beirut : Dar al-Fikr,1980 ).

Thomas.W. Arnold                                     

The Preaching of Islam, A History of Propagation of The Moslem Faith, (  Delhi : Low Price Publication, 1995 ) cet.ke-2.