Top
    bdk_bandung@kemenag.go.id
(022) 7800147
Pembelajaran Transformatif dan Multiliterasi: Antara Futuristik dan Fakta Pandemi

Pembelajaran Transformatif dan Multiliterasi: Antara Futuristik dan Fakta Pandemi

Senin, 2 Agustus 2021
Kategori : Gumeulis
39488 kali dibaca

Pembelajaran Transformatif dan Multiliterasi: Antara Futuristik dan Fakta Pandemi

Oleh:

Asep Nurjaman, S.Pd.I., M.Pd.

Guru Al-Qur’an Hadis MTsN 3 Kota Tasikmalaya

Pandemi yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia mengakibatkan perubahan sosial dalam tatanan pendidikan. Pendidikan Indonesia dengan segenap kekuatan berupaya responsif terhadap fakta pandemi. Jika dasar pendidikan pada negara-negara maju memuat tiga terminologi penting; reading, writing, dan arithmetic, maka saat ini dunia pendidikan diharuskan menguasai computer literacy sebagai komponen kompetensi pembelajaran.

Globalisasi teknologi informasi saat ini menjadi media strategis dalam mencapai tujuan pendidikan. Mungkin saja pendidikan Indonesia saat ini tersadarkan dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Siswa secara bertahap dipaksakan untuk belajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Meskipun fakta di lapangan menunjukkan kehadiran online teaching mengharuskan orang tua mengeluarkan biaya ekonomi lebih dalam menunjang keberlangsungan pembelajaran. Bahkan tidak sedikit stakeholders, siswa, dan orang tua yang mnegalami aleniasi.

Kondisi pendidikan saat ini mengingatkan kita kepada sejarah pendidikan di Amerika Utara sekitar Tahun 1998 dengan kehadiran Universitas sebagai halls of academe. Pihak kampus menginisiasi perbaikan pembelajaran dengan mengggunakan websites berupa jaringan komputer pada bidang seni dan sains, sehingga menjelma sebagai home education network. Meskipun tidak seluruh mahasiswa merespon positif. Akan tetapi saat ini Amerika menjadi salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Pendidikan Indonesia dengan segala hiruk pikuknya membuat seluruh stakeholders saling membahu dalam menghadapi konstalasi global memanfaatkan kemajuan teknologi. Hal ini bisa terwujud jika seluruh elemen menjadi support system dan tidak bersikap skeptis. Guru yang menjadi faktor penting harus mau belajar dan meningkatkan kompetensinya agar siswa mampu beradaptasi dengan segala kondisi dan iklim proses pembelajaran.

Memberikan pemahaman kepada siswa agar mereka memahami realitas saat ini dan memiliki spirit dalam membantu transformasi sosial serta menyajikan problem solving merupakan sebuah keniscayaan. Kesadaran siswa terhadap critical thinking dalam merespon pandemi, perkembangan global, dan kemajuan teknologi harus menjadi prioritas. Kondisi inilah yang mengharuskan guru meninggalkan peran otoriternya dalam kegiatan pembelajaran.

Pandemi menyadarkan para pendidik bahwa masih terdapat penyakit yang tidak kalah mengerikan dibandingkan dengan Coronavirus Disease 2019, yaitu penyakit disteachia. Mengambil istilah Munif Chatib dalam karyanya “Sekolahnya Manusia” bahwa penyakit ini mengandung tiga virus T, yakni Teacher Talking Time, Task Analysis, dan Tracking. Semua virus tersebut dapat menghambat kemajuan dunia pendidikan dalam kondisi apapun.

Hikmah yang didapatkan dari pandemi saat ini adalah membuat kesadaran seluruh pemangku kebijakan pendidikan bahwa ternyata praktik pendidikan Indonesia pada umumnya belum mampu menghadapi kontestasi global yang berbasis teknologi. Namun tidak berarti membuat kondisi semakin terpuruk dan mengalami degradasi motivasi. Justru saat inilah menyatukan kekuatan agar pendidikan Indonesia semakin maju, adaptif, dan berkualitas hingga mampu bersaing dalam kemajuan teknologi.

Pemerintah pun saat ini telah berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik agar pembelajaran dapat terjamin sepenuhnya, meskipun masih banyak daerah yang belum bisa mengadaptasikan diri dengan kondisi pandemi dan kemajuan teknologi. Namun inilah awal pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran berbasis teknologi secara global. Hal ini perlu diapresiasi dan diperhatikan seksama, karena bisa jadi sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang siswa Indonesia akan selalu berhadapan penuh dengan dunia teknologi.

Guru berusaha sekuat tenaga untuk terus memberikan layanan pembelajaran terbaik meskipun hanya menggunakan media teknologi terbatas. Tidak semua media online harus digunakan, namun seyogyanya guru berusaha dengan maksimal dan tetap meningkatkan kompetensinya. Kondisi pandemi tidak membuat kualitas pembelajaran semakin menurun, justru saat ini harus dimanfaatkan dalam mengimplementasikan pembelajaran yang mampu membuat siswa belajar terhadap konteks situasi dan konteks keilmuan.

Situasi pandemi seyogyanya dimanfaatkan oleh tenaga pendidik agar dapat menyajikan sejumlah konteks keilmuan yang dikemas dalam multimedia yang menyenangkan. Sehingga siswa dapat belajar dalam konteks model multiliterasi, baik yang sifatnya informasi, matematis, inkuiri, literatur, saintifik, sosial, investigasi, maupun multiliterasi digital.

Pemberian materi pembelajaran yang dinamis dapat memberikan stimulus dan motivasi kuat. Guru dapat menyajikan konten pembelajaran yang dikemas dengan kecanggihan teknologi sehingga siswa dapat menyajikan pemahamannya mengunakan literasi teknologi, literasi visual, literasi performa, literasi musikal, dan sebagainya. Hal ini bisa diwujudkan dalam online teaching melalui berbagai media pembelajaran berbasis teknologi.

Pembelajaran dengan menggunakan media teknologi di masa pandemi saat ini sudah banyak melahirkan media interakrif yang variatif. Sebut saja misalnya media teleconference baik yang sifatnya audio conference, video conference, maupun web conference. Guru bisa menggunakan beberapa aplikasi media pembelajaran dengan sejumlah fitur yang diberikan baik yang free maupun berbayar untuk menunjang tingkat keberhasilan pembelajaran di masa pandemi.

Adapun beberapa aplikasi tersebut di antaranya adalah; a) Zoom Meeting yang berbasiskan cloud computing dapat menampung hingga 100 peserta dalam free vertionnya, b) Google Meet yang mampu menampung hingga 100 orang dalam satu kali sesi, c) Cisco Webex yang berbasis interface web mampu menampung 100 orang peserta pada free vertion, d) Microsoft Teams yang bisa menampung hingga 10.000 peserta panggilan video telekonferensi, e) Google Classroom yang memudahkan guru dalam membuat kelas, memberikan tugas, serta melihat semuanya dalam satu tempat, dan f) WhatsApp Group yang kini banyak digunakan karena lebih mudah dan ekonomis.

Apapun aplikasi yang digunakan harus mampu membuat siswa menjadi belajar, bukan hanya sekedar membaca tugas, mengerjakan, dan mengumpulkannya. Oleh karena itu sangat penting bagi guru untuk memastikan siswa dapat belajar ilmu pengetahuan dalam kontestasi kemajuan teknologi. Kemajuan pembelajaran saat ini pula ditentukan oleh sikap proaktif dari seluruh lingkungan pendidikan, terkhusus bagi orang tua. Sebab mereka yang lebih memahami terhadap kondisi riil ketika proses pembelajaran berlangsung. Orang tua harus mampu memfasilitasi siswa di rumahnya masing-masing agar mereka tetap fokus dan merasakan joyful instruction.

Bertemali dengan penggunaan berbagai aplikasi dalam online teaching, persoalan ekonomi yang dirasakan mayoritas orang tua menjadi sebuah dilematis. Tidak sedikit yang menganggap online teaching merupakan sesuatu yang baru. Oleh karena itu pemerintah yang memiliki kewenangan penuh harus memformulasikan keberlangsungan kegiatan pembelajaran di tengah pandemi namun tetap berorientasi futuristik sebagai bagian dalam menghadapi kemajuan teknologi saat ini dan masa yang akan datang baik dalam kondisi pandemi maupun new normal.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan saling berkolaborasi secara kontinu antara pemerintah, stakeholders, masyarakat, dan para orang tua agar semua permasalahan pembelajaran dan pendidikan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. Guru tetap bisa memberikan layanan pembelajaran berkualitas dalam situasi apapun, dan siswa dapat menikmati kegiatan belajar yang meaningfull learning dalam kondisi apapun termasuk dalam kondisi pandemi.


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP