Top
    bdk_bandung@kemenag.go.id
(022) 7800147
POTRET PEMBELAJARAN KALA PANDEMI

POTRET PEMBELAJARAN KALA PANDEMI

Sabtu, 31 Juli 2021
Kategori : Gumeulis
1038 kali dibaca

POTRET PEMBELAJARAN KALA PANDEMI
oleh
Aida Anwariyatul Fuadah
MAN 2 Bandung

 

Apabila proses pembelajaran daring diwakili dengan tiga kata, saya memilih kata jenuh, tantangan dan adaptasi. Saya menjadikan ketiga kata ini menjadi simbol dari proses pembelajaran daring. Jenuh menandakan bahwa proses tatap muka tidak dapat digantikan seutuhnya dengan menggunakan medium online. Sebagai manusia sosial kita semua perlu untuk berkomunikasi langsung dengan orang lain. Saling menatap, komunikasi yang fokus dan sadar bahwa kita bagian dari sebuah percakapan. Hal ini sangat berbeda saat berkomunikasi menggunakan medium internet, berbagai gangguan akan muncul. Obrolan tidak akan sedalam dan sefokus saat pembelajaran tatap muka. Kedua, kata tantangan berarti berbagai hal yang biasanya bisa kita kontrol dalam proses pembelajaran di kelas tetapi sekarang beralih ke medium lain. Pembelajaran online bukan hanya sekadar memindahkan pembelajaran ke medium lain tetapi seharusnya menyesuaikan dengan media baru untuk proses pembelajaran dengan pengalaman baru (online). Terakhir, kata adaptasi sebagai sebuah pengingat bahwa kehidupan ini tidak statis tapi terus bergerak menuju hal yang baru. Proses adaptasi menjadi solusi berbagai tantangan dalam proses pembelajaran online.
Menurut saya selama mengajar di masa pandemi permasalahan yang muncul yaitu belum ada persiapan yang matang dari berbagai pihak yaitu sekolah, guru, siswa dan orang tua. Keempat pihak ini merupakan unsur yang terlibat langsung dalam pembelajaran online. Sekolah belum mampu memfasilitasi media pembelajaran yang baik. Pengembangan e-learning contohnya yang masih sering mengalami gangguan dan berbagai kendala teknis. Hal ini menyebabkan guru dan siswa sering kali mengalami kesalahpahaman misalnya saat mengisi kehadiran, cek tugas dan lain sebagainya. Kemudian, pihak guru belum siap mempersiapkan bahan ajar yang dibutuhkan siswa sesuai karakteristik siswa yang diajar dan penyesuaiannya dengan media baru online. Proses pembelajaran hanya pemberian teks secara umum, tanpa ada diskusi mendalam terkait materi. Hal ini seharusnya menjadi ladang yang tepat bagi guru untuk melakukan berbagai kajian mendalam terkait bahan ajar dan evaluasi yang tepat yang disesuaikan dengan perubahan zaman dan kebutuhan siswa. Selanjutnya, pihak siswa hal yang sering ditemukan adalah gangguan teknis, tidak memiliki kuota, disuruh orang tua hingga sampai meninggalkan pembelajaran yang sedang berlangsung. Siswa masih kesulitan untuk belajar mandiri dan berkomitmen dengan pembelajaran online yang sangat memerlukan kesadaran untuk belajar lebih (meskipun tidak semua). Terakhir, orang tua kesulitan untuk mendisiplinkan anak atau memotivasi anak untuk belajar hingga menjadi tidak peduli dengan proses belajar siswa (meskipun tidak semua).
Selain hal di atas, saya juga mengamati bahwa teori belajar yang konvesional saat ini tidak lagi relevan digunakan di era pembelajaran online. Banyak unsur pembelajaran berubah begitupun aspek lainnya. Sebagai contoh: cara membaca siswa melalui layar berbeda dengan membaca melalui buku. Ada pengalaman yang dilewati oleh pelajar yang menyebabkan cara belajar yang berbeda pula. Pembelajaran saat ini tidak lagi sama persis dengan pembelajaran sebelum masa pandemi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian ulang atau pengembangan teori belajar yang disesuaikan dengan pergerakan dan perubahan zaman.  Hal ini supaya permasalahan dalam dunia pendidikan bisa teratasi dan menjadi pijakan kuat untuk perkembangan arah pendidikan selanjutnya. Karena setelah pandemi ini usai pun teori belajar akan berubah kembali tidak akan sama dengan pembelajaran sebelum pandemi.
Permasalahan lain yang saya amati dari proses pembelajaran online yaitu psikis siswa. Sejak pagi hingga siang bahkan sore mereka diharuskan menatap layar entah itu komputer, laptop atau handphone membuat mereka kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Di usia mereka yang seharusnya mengeksplorasi dirinya untuk merasakan berbagai perasaan dan bentuk komunikasi langsung dengan teman, guru dan lingkungan sekolah. Namun, teknologi menggantikan segalanya termasuk cara bergaul, berempati dll yang tentunya memengaruhi psikisnya. Pembelajaran online merupakan masa depan. Apabila kita tidak beradaptasi dan menemukan solusi dengan berbagai penelitian dan kajian atas permasalahan-permasalahan di atas, kita hanya akan menunggu kehancuran. Oleh karena itu, terus bergerak dengan berbagai kajian, inovasi dan pembaharuan dalam pembelajaran menjadi solusi untuk meminimalisasi berbagai persoalan yang terjadi dalam proses pembelajaran.  


Sumber :

Penulis : Aida Anwariyatul Fuadah

Editor : Firman Nugraha

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP