Top
    bdk_bandung@kemenag.go.id
(022) 7800147
Telisik 16: Paradoks Inovasi

Telisik 16: Paradoks Inovasi

Senin, 2 Mei 2022
Kategori : Telisik
35 kali dibaca

Paradoks Inovasi
Oleh: Dr. Firman Nugraha, M.Ag.

 

Apakah manusia bisa digantikan dengan mesin atau teknologi? Ketika tuntutan pekerjaan bermuara pada efektivitas dan efesiensi, boleh jadi mesin memiliki keunggulan. Kemampuannya dalam produktifitas dan kondisinya yang konsisten pada kode binner, yes or no! true or false! Membuatnya hanya ada pada dua pilihan. Kerjakan atau tidak sama sekali. Kerjakan dengan sempurna? Atau produk dan jasa ditinggalkan pelanggan.

Kondisi perkembangan teknologi yang semakin hari semakin cepat ditengarai meninggalkan manusia sebagai sumberdaya. Mesin dan teknologi terbarukan akan mengambil alih. Paling tidak, paparan Schwab yang melihat bagaimana mesin menggantikan otot sebagai fase awal transformasi teknologi telah menunjukkan hal tersebut. Apalagi dengan ditemukannya internet dan nano teknologi yang pada gilirannya juga mampu menciptakan kecerdasan buatan (artificial intelegent). Mesin yang berfikir. Mesin yang diprogram mampu mengambil keputusan berdasarkan kemampuannya menerima dan mengumpulkan informasi.

Dilihat dari sisi kompetisi dalam produktivitas, efektivitas dan efesiensi, jelas manusia semakin hari semakin tergeser. Sebut saja misalnya banyaknya jenis pekerjaan yang diambil alih oleh mesin. Dari sisi ini, pengetahuan dan kemampuan atau keterampilan manusia yang terbatas menemukan jalan keluar dengan mesin. Namun demikian sekaligus, mesin ini menjadi “musuh” bagi manusia. Kehadiran mesin telah menggusur peran-peran manusia dalam produktivitas atau karya. Hal ini juga dapat dibaca manusia kehilangan pekerjaannya, senada dengan hilangnya eksistensi mereka.

Sementara itu, dalam frasa mesin mengikuti program yang sudah ditanamkan pada mereka, maka melahirkan pertanyaan sekaligus kesadaran. Manusialah yang menciptakan itu semua. Manusialah yang membuat “mereka’ menjadi benda yang cerdas dan kuat. Hal ini berarti mengembalikan kesejatian manusia sebagai subjek peradaban, subjek perubahan. Sekeras apapun kompetisi antara manusia dengan mesin pada gilirannya tetap manusia memiliki keunggulan tersendiri. Keunggulannya terletak pada karsa dan daya cipta yang kita sebut kreativitas dan inovasi.


Sumber : publikasi bdk bandung

Penulis : firman nugraha

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP