TOP_PANEL

Catatan

Isi dan semua bentuk pengutipan yang terikat oleh hukum dalam artikel di web ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Peran Dan Fungsi Penyuluh Agama Islam Dalam Masyarakat

PERAN DAN FUNGSI  PENYULUH AGAMA ISLAM DALAM MASYARAKAT

 

Oleh

Drs. Ramin, M. Ag

Widyaiswara madya Balai Diklat Keagamaan Bandung

 

Abstrak

Keputusan  Menteri Agama (KMA) Nomor 516 tahun 2003 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Penyuluh Fungsional, yaitu dengan melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama kepada masyarakat”.  Berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 79 tahun 1985 bahwa : ”Penyuluh Agama mempunyai peranan sebagai pembimbing masyarakat, sebagai panutan dan sebagai penyambung tugas pemerintah”.  penyuluh agama Islam mempunyai fungsi yang sangat dominan dalam melaksanakan kegiatannya, yaitu :  “Fungsi Informatif dan Edukatif, ialah Penyuluh Agama Islam memposisikan sebagai da’i yang berkewajiban menda’wahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebai-baiknya sesuai ajaran agama. Fungsi Konsultatif, ialah Penyuluh Agama Islam menyediakan dirinya untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara pribadi, keluarga maupun sebagai anggota masyarakat umum. Fungsi Advokatif, ialah Penyuluh Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap umat / masyarakat dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan aqidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak”. Maksud penulisan karya ilmiah ini adalah untu mengetahui   peran dan fungsi penyuluh agama Islam dalam masyarakat.

 

Keyword: Peran; Fungsi; Penyuluh Agama Islam; Masyarakat

 

A.    Pendahuluan

Peran atau peranan sering diartikan sebagai pelaku atau tokoh dalam sandiwara dan sebagainya (Suharto, 1989:161). Karena memang dalam sebuah lakon sandiwara dapat dipastikan berbagi peran untuk menambah serunya alur cerita yang diperankan.

Dalam tinjauan sosiologi, istilah peranan (rule) ini erat kaitannya dengan kedudukan (status). Artinya peranan itu aspek dinamis dari kedudukan. Misalnya apabila seseorang menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan. Dengan demikian, dalam prakteknya peranan dan kedudukan ini tidak dapat dipisahkan (Soerjono Soekanto, 2001:268). Peranan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat dapat bermacam-macam, tergantung kemauannya untuk melakukan dan kesempatan yang diberikan oleh masyarakat.

Dalam hal ini, Soekanto (2001:269) menambahkan, bahwa peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam komunitas masyarakat sebagai individu. Dengan demikian, dalam komunitas masyarakat sudah dapat dipastikan bahwa seseorang menduduki suatu posisi dan menjalankan suatu peranan. Jadi, peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses.

Hal yang senada dikemukakan oleh Jusman Iskandar (2001:186), bahwa status dan peran adalah dua aspek dari gejala yang sama. Status adalah seperangkat hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah pemeranan dari perangkat kewajiban dan hak-hak tersebut. Jadi peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu status tertentu.

Sedangkan perilaku peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari seseorang yang memerankan suatu peran yang orang itu bertindak dengan usaha yang sengaja untuk menyajikan citra yang diinginkan bagi orang lain. Kata Jusman Iskandar (2001:187), secara umum ada dua macam peran yang berlaku di masyarakat, yaitu ada peran yang ditentukan oleh masyarakat kepada kita tanpa melihat kualitas dan kerja keras; dan ada peran yang diperjuangkan melalui usaha-usaha kita sendiri. Selanjutnya dia mengatakan, bahwa untuk mempelajari peran ada dua aspek yang harus dilihat: (1) belajar melaksanakan kewajiban dan menuntut hak-hak suatu peran, dan (2) memiliki sikap, perasaan, dan harapan-harapan yang sesuai dengan peran tersebut.

Sejalan dengan teori di atas, maka Penyuluh Agama Islam memiliki peranan yang cukup strategis di tengah-tengah masyarakat. selain ia sebagai pendakwah Islam, juga Penyuluh Agama Islam itu, sesuai dengan fungsinya, sebagai pembimbing, penerang, dan pembangun masyarakat dengan bahasa agama.

Peranan penyuluh agama selain berfungsi sebagai pendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan berperan juga ikut serta mengatasi hambatan yang membangun jalannya pembangunan, khususnya mengatasi dampak negatif. Penyuluh agama sebagai pemuka agama selalu membimbing, mengayomi, dan menggerakkan masyarakat untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang, mengajak kepada sesuatu yang menjadi keperluan masyarakatnya dalam membina wilayahnya baik untuk keperluan sarana kemasyarakatan maupun peribadatan.

Penyuluh Agama menjadi tempat bertanya dan tempat mengadu bagi masyarakatnya untuk memecahkan dan menyelesaikan dengan nasehatnya. Penyuluh Agama sebagai pemimpin masyarakat bertindak sebagai imam dalam masalah agama dan maalah kemasyarakatan begitu pula dalam masalah kenegaraan dengan usaha menyukseskan program pemerintah.

 

B.     Peran Penyuluh Agama Islam

Tugas penyuluh agama Islam sekarang ini berhadapan dengan suatu kondisi masyarakat yang berubah dengan cepat yang mengarah pada masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, masyarakat saintifik dan masyarakat terbuka. Dengan demikian, setiap penyuluh agama secara terus menerus perlu meningkatkan pengetahuan, wawasan dan pengembangan diri, dan juga perlu memahami visi penyuluh agama serta menguasai secara optimal terhadap materi penyuluhan agama itu sendiri maupun teknik menyampaikannya. Sehingga ada korelasi faktual terhadap  kebutuhan masyarakat pada setiap gerak dan langkah mereka.

Keberhasilan seorang Penyuluh Agama Islam dalam melaksanakan tugasnya di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa komponen diantaranya komponen strategi dakwah yang dipilih dan dirumuskan. Karena kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, tradisi, bahasa, serta status sosial ekonomi yang berbeda-beda. Menghadapi kondisi ini seorang penyuluh harus menyusun strategi yang tepat dalam pelaksanaan tugas kepenyuluhannya demi tercapainya tujuan tugas itu. Disamping itu materi penyuluhan tergantung pada tujuan yang hendak dicapai, namun secara global dapatlah dikatakan bahwa materi penyuluhan dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal pokok, yaitu ” masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syari`ah) dan masalah budi pekerti (akhlakul karimah)”.

Oleh karena itu, penyuluh agama Islam mempunyai peranan penting dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 79 tahun 1985 bahwa : ”Penyuluh Agama mempunyai peranan sebagai pembimbing masyarakat, sebagai panutan dan sebagai penyambung tugas pemerintah”.

 

C.      Fungsi Penyuluh Agama Islam

Penyuluh agama Islam mempunyai fungsi yang sangat dominan dalam melaksanakan kegiatannya, yaitu : 

1. “Fungsi Informatif dan Edukatif, ialah Penyuluh Agama Islam memposisikan sebagai da’i yang berkewajiban menda’wahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebai-baiknya sesuai ajaran agama.

2. Fungsi Konsultatif, ialah Penyuluh Agama Islam menyediakan dirinya untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik secara pribadi, keluarga maupun sebagai anggota masyarakat umum.

3. Fungsi Advokatif, ialah Penyuluh Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap umat / masyarakat dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan aqidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak”.

Tantangan para penyuluh agama dalam pembinaan masyarakat agamis tidaklah ringan. Dalam pandangan HA Wahid Sudja’i, ada tahapan dan pencapaian yang harus dilakukan penyuluh  agama Islam. Diawali dengan pembinaan pribadi yang shaleh, dilanjutkan dengan pembinaan keluarga yang sakinah. Dari sana baru meningkat pada pembinaan masyarakat yang marhamah dan negara yang  thayyibah

 

D.    Kesimpulan

       Dari hasil pembahasan tentang  Peran dan Fungsi penyuluh Agama Islam dalam masyarakat, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Penyuluh Agama mempunyai peranan sebagai pembimbing masyarakat, sebagai panutan dan sebagai penyambung tugas pemerintah”.

Fungsi Penyuluh Agama Islam adalah sebagai  Informatif, Edukatif, Konsultatif, dan Fungsi Advokatif,

penyuluh agama Islam yang ideal setidaknya menguasai peta dakwah, mampu menyusun rencana kerja, piawai menganalisis data potensi wilayah, dan cermat membidik sasaran yang  belum tergarap para ulama/kyai/da’i. Tak kalah pentingnya adalah kemampuan menyusun dan menetapkan materi bimbingan berbasis media, baik cetak maupun elektronik dengan mengoptimalkan kekuatan sosial budaya masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mashdar, Muzaijin dan Suaedy, Soleh, Penyuluh Agama Ujung Tombak Pengembangan Masyarakat dan Kompetensi Yang Dibutuhkannya, Jurnal Diklat Tenaga Teknis Keagamaan, Vol.2 No. 1, November 2005.

Menteri Agama, 2009, Sambutan Menteri Agama RI Pada Pembukaan Rakor Balitbang dan Diklat Departemen Agama Tahun 2009, Balitbang dan Diklat, Jakarta.

Mulkan, Abdul Munir, 1996, Ideologisasi Gerakan Dakwah, Sippress, Yogyakarta.

Suharto & Iryanto, Tata, 1989, Kamus Bahasa Indonesia Terbaru, Penerbit Indah, Surabaya.

--------, Buku Panduan Pelaksanaan Tugas Penyuluhan Agama, Jakarta, 2003.

--------, Himpunan Peraturan Tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan

Angka Kreditnya, Jakarta, 2000

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya : Al-Ikhlas, 1987.

A. Surjadi, Dakwah Islam Dengan Pembangunan Masyarakat Desa, Bandung :

Mandar Maju 1989.

: