TOP_PANEL

Zona Integritas

Zona Integritas Diklat

Wilayah Bebas Korupsi

No Korupsi

Selamat Hari Santri 2018

Strategi Mengelola Pembelajaran Diklat Yang Bermutu

Strategi Mengelola Pembelajaran Diklat Yang Bermutu

 

 Firdos Mujahidin

 Balai Diklat Keagamaan Bandung Jl. Soekarno Hatta No. 716 Bandung

No. Kontak 081321835175, email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 Abstract

 

The purpose of this study is to explain about  quality of training process which descriptive strategy of training process was used descriptive method that collected data through literature study theory and regulation of training process management and strategy standard. The result shows that  quality of training process depend on management training activities which we are planning, processing, evaluating and reflecting. All process can be developed by widyaiswara. As a professional person who conduct learning process in training. Widyasiwara should develop effective training for increasing quality of training

 

Key word: quality of training, strategy of training process training,

 

Abstrak

 Latar belakang kajian ini didasarkan masih banyaknya pembelajaran diklat yang belum dapat diklasifikasikan  apakah pembelajaran tersbut bermutu atau tidak? Tujuan dari kajian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi mengelola pembelajaran diklat yang bermutu. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan datanya melalui studi  kepustakaan terhadap  teori dan regulasi (peraturan) yang berhubungan dengan strategi, pengelolaan (manajemen) dan pembelajaran diklat dan pembelajaran bermutu. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa pembelajaran diklat dapat bermutu jika seluruh rangkaian kegiatan pengelolaan dalam pembelajaran diklat bermutu, yaitu dimulai dengan perencanaan yang bermutu, proses pembelajaran diklat bermutu dan evaluasi dan refleksinyapun bermutu. Untuk menciptakan hal tersebut syarat utamanya widyaiswaranya profesional dan mempunyai komitmen terhadap mutu. Dengan pembelajaran diklat bermutu memungknkan setiap kegiatan diklat efektif dalam peningkatan mutu peserta diklat.

 

Kata Kunci: diklat, pembelajaran diklat, pembelajaran bermutu, strategi mengelola.

 

A.  Pendahuluan

Pendidikan dan Diklat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tujuan pendidikan nasional. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan  Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta diklat  agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Fungsi dan tujuan pendidikan nasional di atas harus dapat diopresialisasikan dalam berbagai jenis pendidikan, baik formal, informal maupun nonformal tak terkecuali pada kegaiatan diklat. Diklat mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jenis pendidikan lainnya, terutama pendidikan formal, baik tingkat dasar, menengah dan juga pendidikan tinggi. Kebijakan diklat juga mengalami dinamika, dalam berbagai peraturan disebutkan bahwa peserta diklat adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun dalam perkembangannya peserta diklat diperbolehkan juga selain PNS sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Pegawai pada Kementerian Agama. Dinamika kebijakan tersebut disesuaikan dengan tuntutan dan tugas pemerintahan yang dalam pelaksanaan pelayanan publik, tidak hanya memberdayakan SDM yang PNS tetapi non-PNS juga diperlukan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 disebutkan bahwa diklat adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Lebih lanjut di pasal 2  disebutkan bahwa diklat bertujuan: 1) meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi; 2)  menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa; 3) memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pembedayaan masyarakat; 4) menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugaspemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik.

Supaya tujuan diklat dapat dicapai, maka diperlukan pembelajaran yang berkualitas. Dalam Perkembangannya, pembelajaran mengalami berbagai perkembangan dan perubahan yang signifikan, terutama dalam peran peserta yang diharuskan lebih dominan. Pembelajaran dalam berbagai jenjang diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi peserta diklat secara berkelanjutan. Kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta diklat  untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan  untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta diklat  menjadi kompetensi yang diharapkan. Lebih lanjut, strategi pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu mampu menjadi pebelajar mandiri sepanjang hayat. dan yang pada gilirannya mereka menjadi komponen penting untuk mewujudkan masyarakat belajar.

Untuk mencapai pembelajaran diklat yang berkualitas sebagaimana yang disebutkan di atas diperlukan berbagai strategi, pendekatan dan metode disesuaikan dengan metode pembelajaran secara umum dalam diklat, yaitu metode andagogi. Metode andragogi adalah metode belajar orang dewasa hal ini sebagaimana disebutkan di Pasal 18  PP 101 Tahun 2001 bahwa  peserta Diklat telah memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman kerja tertentu maka digunakan metode diklat bagi orang dewasa yang: 1)  sesuai dengan kebutuhan praktis dan pengembangan diri peserta; 2) bersifat interaktif antara peserta dengan widyaiswara dan antar peserta; dan 3) berlangsung dalam suasana belajar yang bebas, dinamis, dan fleksibel. Di sisi lain dalam perkembangan kebijakan di dalam diklat berkembang berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran.  Namun secara umum strategi yang disusun harus bersifat utuh dan menyeluruh.

Strategi mengelola pembelajaran diklat dengan bermutumerupakan salah satu strategi yang dapat digunakan agar tujuan diklat dapat dicapai dengan tepat dan cepat. Bagaimana pembelajaran bermutu itu? dan bagaimana strategi mengelola pembelajaran diklat dengan bermutu, baik secara teoritis maupun secara praktis? Untuk itu penulis akan mengkajinya dalam makalah ini.

 

B.  Pembelajaran bermutu

            Para  ahli  mengemukakan pengertian belajar  dapat didefinisikan sebagai  tingkah  laku  yang  ditimbulkan  atau  diubah  melalui  latihan atau pengalaman.  Dengan  kata lain tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti  perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap. (Ngalim  Purwanto,  2002:82).

            Untuk  menangkap  isi  dan  pesan  belajar,  maka  dalam  belajar tersebut  individu  menggunakan  kemampuan  pada  ranah-ranah,  yaitu: ranah  kognitif,  ranah  afektif,  ranah  psikomotorik.  Dapat  disederhanakan bahwa  belajar  merupakan  suatu  perubahan  dalam  tingkah  laku,  di  mana perubahan  tersebut dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juga  kemungkinan  mengarah  kepada  tingkah  laku  yang  lebih buruk. 

            Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar terjadi melalui usaha dengan  mendengar, membaca, mengikuti petunjuk, mengamati, memikirkan,  menghayati,  meniru,  melatih  dan  mencoba  sendiri  atau berarti  dengan  pengalaman  atau  latihan.  Hal  ini  ditegaskan oleh  Nana Sujana  yang  berpendapat  bahwa  belajar  adalah  “proses  yang  ditandai dengan  adanya  perubahan  di  mana  perubahan  tersebut  ditujukan  dalam berbagai  bentuk,  seperti  perubahan  pengetahuan,  pemahaman,  sikap  dan tingkah laku, kecakapan dan kemampuan daya kreasi, daya permainan dan lain-lain yang ada pada individu”. (Nana Sujana, 1988:28)

            Menurut  Surya  menyatakan  bahwa belajar   dan pembelajaran adalah Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Surya, 2003:11). Pengertian di atas lebih menekankan kepada perilaku atau unsur sikap. Namun perilaku itu luas dapat berarti segala hal yang berhubungan dengan perubahan yang dialami oleh peserta didik. Karena perilaku lahir melalui proses yang panjang termasuk proses pemikiran dan selektifitasnya terhadap beberapa tindakan atau perilaku yang akan dilakukannya sampai dengan lahir perilaku yang dipilihnya untuk dilakukannya.

            Untuk memperjelaskan hal di atas perlu dipahami beberapa prinsip yang menjadi landasan pemikiran di atas, sebagaimana yang dijelaskan Surya (2003:11-18), yaitu:

Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran akan berubah periakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku adalah hasil pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1.     Perubahan yang disadari, artinya individu yang melakukan proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah, keterampilannya telah bertambah, ia lebih yakin terhadap dirinya, dsb. Jadi, orang yang berubah perilakunya karena mabuk, tidak temasuk dalam pengertian perubahan karena pebelajaran, karena  yang bersangkutan tidak menyadri apa yang terjadi dalam dirinya.

2.    Perubahan yang bersifat kontinu (berkesinambungan). Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran akan berlangsung secara berkesinambungan, artinya suatu perubahan yang telah terjadi, meyebabkan terjadinya perubahan perilaku yang lain. Misalnya seorang anak yang telah beajar membaca, ia akan berubah perilakunya dari tidak dapat membaca jadi dapat membaca. Kecakapannya dalam membaca menyebaban ia dapat membaca lebih baik lagi dan dapat belajar yang lain, sehingga ia dapat memperoleh perubahan perilaku hal pembelajaran yang lebih banyak dan lebih luas.

3.    Perubahan yang bersifat fungsional, artinya perubahan yang diperoleh sebagai hasil pembelajaran memberikan manfaat bagi individu yang bersangkutan. Misalnya kecakapan dalam berbicara dalam bahasa inggris memberikan manfaat untuk belaja hal-hal yang lebih luas.

4.    Perubahan yang bersifat positif, artinya adanya pertambahan perubahan dalam diri individu. Perubahan yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya. Orang yang telah belajar akan merasakan ada sesuatu yang lebih banyak, sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang luas dalam dirinya. Misalnya ilmunya menjadi lebih banyak, prestasinya meningkat, kecakapannya menjadi lebih baik, dsb.

5.    Perubahan yang bersifat aktif, artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya aka tetapi melalui aktivitas individu. Perubahan yang terjadi karena kematangan, bukan hasil pembelajaran karena terjadi dengan sendirinya sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangannya. Dalam kematangan, perubahan itu akan terjadi dengan sendirinya meskipun tidak ada usaha pembelajaran. Misalnya kalau seseorang anak sudah sampai pada usia tertentu akan dengan sendirinya dapat berjalan meskipun belum belajar.

6.    Perubahan yang bersifat permanen (menetap), artinya perubahan yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan berada secara kekal dalam diri individu, setidak-tidaknya untuk masa tertentu. Ini berarti bahwa perubahan yang bersifat sementara seperti sakit, keluar air mata karena menangis, berkeringat, mabuk, bersin, dsb. Adalah bukan perubahan sebagai hasil pembelajaran karena bersifat sementara saja. Sedangkan kecakapan kemahiran menulis misalnya adalah perubahaan hasil pembelajaran karena bersifat menetap dan berkembang terus.

7.    Perubahan yang bertujuan dan terarah, artinya perubahan itu terjadi  karena ada sesuatu yang akan dicapai. Dalam proses pembelajaran, semua aktivitas terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Misalnya seorang individu belajar bahasa Inggris dengan tujuan agar ia dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan dapat mengkaji bacaan-bacaan yang ditulis dalam bahasa Inggris. Semua aktivitas pembelajarannya terarah kepada tujuan itu, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi akan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan perilaku itu meliputi aspek-aspek perilaku kognitif, konatif, afektif atau motorik. Misalnya kalau seorang peserta didik  disebut telah mengalami pembelajaran dalam musik, maka peserta didik  itu berubah dalam hal pemahamannya tentang musik, alat-alat musik, memiliki kemampuan dalam memainkan alat-alat musik, mempunyai keinginan untuk bermain musik dengan baik, dsb. Pembelajaran yang hanya mengasilkan perubahan satu atau dua aspek perilaku saja, disebut sebagai pembelajaran sebahagian (partial learning) dan bukan pembelajaran lengkap (complete leaning).

Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan. Di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Pembelajaran tidak dapat dilepaskan dengan interaksi individu dengan lingkungannya. Jadi, selama proses pembelajaran itu berlangsung, individu akan senantiasa berada dalam berbagai aktivitas yang tidak terlepas dari lingkungannya. Dengan demikian, suatu pembelajaran yang efektif adalah apabila pelajar-pelajar melakukan perilaku secara aktif.

 Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung makna bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena ada sesuatu yang mendorong dan sesuatu yang ingin dicapai. Hal yang mendorong adalah karena adanya kebutuhan yang harus diusahakan, dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip ini, maka pembelajaran akan terjadi apabia individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang dicapai untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencpai tujuan. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.

Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu. Pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pembelajaran, pada dasarnya merupakan pengalaman. Hal ini berarti bahwa selama individu dalam proses pembelajaran hendaknya tercipta suatu situasi kehidupan yang menyenangkan sehingga emberikan pengalaman yang berarti.

Di atas telah dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan proses perubahan perilaku. Pengertian ini mempunyai keterkaitan dengan pengertian lain yang juga menggambarkan adanya perubahan perilaku. Arinya perubahan perilaku sebagai suatu proses banyak berhubungan atau bekaitan dengan hal lainnya sehingga perilaku itu terjadi. Surya (2003:11) mengemukakan beberapa hubungan belajar dengan hal lainnya dalam pespektif psikologis, yaitu;

1.     Belajar dan pertumbuhan, perkembangan, kematangan. Dalam proses pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan akan terjadi perubahan perilaku. Akan tetapi perubahan yang terjadi dalam ketiga pengetian itu tidak tergolong sebagai perubahan dalam arti pembelajaran. Perubahan yang terjadi dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan akan terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam secara naluriah. Proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif apabila ada persesuaian dengan proses pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan. Dan sebaliknya proses pertumbuhan dan perkembangan akan berlangsung dengan baik apabila disertai dengan pembelajaran.

2.     Pembelajaran dan menghafal. Antara pembelajaran dan menghafal terdapat keterkaitan satu dengan yang lainnya. Pembelajaran mempunyai pengertian yang lebih luas dari pada menghafal. Dalam menghafal, perubahan perilakunya hanya terbatas dalam penyimpanan dan pengeluaran informasi dalam kesadaran (otak), sedangkan dalam belajar perubahan perilakunya mencakup keseluruhan. Menghafal hanya salah satu aspek saja dari perilaku kognitif, dan belum mencakup perilaku lainnya. Orang yang hafal tentang sesuatu belum tentu memahaminya, atau ckap malakukannya. Akan tetapi proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila disertai dengan aktivitas menghafal.

3.     Pembelajaran dan latihan. Pembelajaran mempunyai keterkaitan dengan latihan meskipun tidak identik. Dalam pembelajaran dan dalam latihan akan terjadi perubahan perilaku. Aspek perilaku yang berubah karena latihan, adalah perubahan dalam bentuk skill atau keterampilan. Pembelajaran akan lebih berhasil apabila disertai dengan latihan-latihan yang teratur dan terarah.

4.     Pembelajaran dan studi. Dalam aktivitas studi, perubahan perilaku yang terjadi adalah dalam aspek pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (understanding). Jadi, aktivitas studi merupakan sebagian dari aktivitas pembelajaran secara keseluruhan. Aktivitas studi merupakan dasar dalam aktivitas pembelajaran secara keseluruhan.

5.     Pembelajaran dan berfikir. Berfikir adalah merupakan suatu proses kognitif dalam tingkat yang lebih tinggi. Dalam berfikir, individu akan menggunakan berbagai informasi yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Untuk dapat berfikir secara efektif, seseorang harus menguasai sejumlah informasi (fakta, konsep, generalisasi, prinsip, teori, dsb) untuk dijadikan sebagai dasar dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Informasi yang dimiliki seseorang diperoleh melalui proses pembelajaran. Ini berarti bahwa terdapat keterkaitan antara proses berpikir dengan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif (terutama pembelajaran pemecahan masalah) sangat memerlukan keterampilan berpikir. Dan untuk berpikir diperlukan hasil-hasil pembelajaran. Berpikir itu sendiri sebenarnya merupakan proses pembelajaran. Orang tidak mungkin berpikir tanpa belajar, dan tidak mungkin belajar tanpa berpikir.

Uraian di atas juga sejalan dengan pengertian Mansur (1995:9) yang mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisasi atau pribadi. Kegiatan belajar-mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar-mengajar, menilai proses dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru.

Penjelasan di atas mempertegas bahwa pembelajaran dapat berlangsung secara multi aspek, baik tujuan, metode, media/sumber/bahan dan yang lainnya. Dengan demikian dalam pembelajaran dimungkinkan akan terjadinya interaksi edukatif secara maksimal. Interaksi edukatif secara maksimal juga tergantung kepada kemampuan dan keterampilan pendidik dalam mengelola kelas/pembelajaran.

Menurut Dunkin seperti yang dikutip oleh Wina Sanjaya (2006: 51)  ada sejumlah aspek yang dapat memengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru/pendidik, yaitu teacher formative axperience, teacher training experience, dan teacher properties.

Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru/pendidik  yang menjadi latar belakag sosial mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini diantaranya meliputi tempat asal kelahiran guru, latar belakang budaya, dan adat istiadat, keadaan keluarga dari mana guru itu  berasal, misalkan apakah guru/ pendidik itu berasal dari keluarga yang tergolong mampu atau tidak, apakan mereka berasal dari keluarga harmonis atau bukan.

Teacher training experience, meliputi pemgalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru/ pendidik misalnya pengalaman latihan profesional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan, dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut akan mempengaruhi terhadap kualitas guru dalam pengelolaan pembelajaran.

Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru/ pendidik, misalnya sikap guru/ pendidik terhadap profesinya, sikap guru/ pendidik terhadap peserta didik , kemampuan atau inteligensi guru/ pendidik, motivasi dan kemampuan mereka baik kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan proses/kegiatan  transfer sekaligus pengembangan  pengetahuan dan nilai-nilai secara  terarah, terencana dan sistematis menggunakan berbagai metode dan media untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, interaksi yang dilaksanakan antara pendidik (guru, dosen, widyaiswara atau sebutan lainnya) selain terjadi  proses transfer pengetahuan dan nilai, tak jarang proses pembelajaran menjadi sebuah proses  pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara kreatif dan inovatif.

Dengan demikian jelaslah bahwa proses pembelajaran harus berlngsung secara inovatif menggunakan metode ilmiah didalamnya. Selain itu dalam pembelajaran perlu juga integrasi materi dan nilai-nilai lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa tiap mata pelajaran mempunyai karakteristik masing-masing tapi  dapat saling melengkapi, apalagi dengan kurikulum yang berkarakter memungkinkan tiap Kompetensi Inti, kompetensi dasar dalam dan antar materi pembelajaran saling berhubungan dan berkaitan.          Berdasarkan  definisi-definisi di atas dapatlah  disimpulkan  bahwa belajar dan pembelajaran merupakan hal yang sama, yaitu merupakan aktivitas yang dilakukan dengan tujuan untuk mencapai sesuatu  baik sikap, pengetahuan,  keterampilan,  maupun pengalaman  yang  dapat diketahui melalui perubahan tingkah laku yang baru.

Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran,  pelaksanaan proses pembelajaran serta  penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.

Pembelajaran   bermutu secara sederhana adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan suasana pembelajaran yang kondusif (menyenangkan dan berkesan), proses dan hasil  pembelajaran bernilai dan bermanfaat. Untuk menjadikan pembelajara tersebut, maka harus didukung oleh pembelajaran yang berbasis kepada keaktifan peserta didik dan gurunya yang kreatif mennyediakan dan menggunakan seluruh sumber daya pembelajaran mengarah kepada pembelajaran yang efektif dan kondusif. Lebih singkat lagi pembelajaran bermutu menurut penulis, yaitu minimal Pembelajaran  yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Menggembirakan, Rasional dan  Berbobot, Mencerdaskan dan Berkarakter,  Berorientasi pada Long Life Education,  membiasakan peserta didik Berpikir dan menciptakan Kesan (PAIKEM GEMBROT DASTER BOLONG PISAN). Secara umum pembelajaran bermutu dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1:

Hubungan Berbagai Indikator Pembelajaran Bermutu

( Sumber : Firdos Mujahidin, 2017: 43)

 

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa indikator pembelajaran bermutu adalah pembelajaran yang dapat: 1) mencapai tujuan pembelajaran; 2) peserta aktif, kreatif dan mandiri dalam pembelajaran; 3) pembelajaran dirasakan manfaatnya dan mempunyai nilai-nilai (values) yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan; 4) pembelajarannya kondusif dengan suasana menyenangkan, menantang dan berkesan bagi peserta diklat; dan 5) widyaiswara menggunakan media/alat dan metode pembelajaran yang bervariatif. Dari indikator-indikator tersebut akan dijelaskan sebagaimana penjelasan di bawah ini.

C.  Konsep Strategi Mengelola Pembelajaran Diklat yang Bermutu

Strategi adalah kata yang berasal dari bahasa latin, yaitu strategos. Stratos artinya militer dan ago adalah memimpin. Sehingga secara bahasa strategi dalam Bahasa Latin diartikan sebagai kegiatan memimpin militer dalam melaksanakan tugas-tugasnya (Sudjana, 2000:93). Lebih operasional Mintzberg, Quinn dan Choshal (1999:13) menyatakan bahwa ada 5 P untuk mendefinisikan strategi, yaitu plan, ploy, pattern, position dan perspective. Kelima hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

a.      Plan (rencana). Strategy is a plan, a “how”, a means of getting from here to there. Strategi adalah rencana, bagaimana untuk mencapai dari sini ke sana.

b.      Ploy. A strategy can be a ploy, too, really just a specific “manoeuvre” intended to outwit an opponent or competitor. Sebagai suatu rencana dapat bersifat umumatau spesifik. Oleh karena itu strategi dapat juga merupakan suatu cara yang spesifik  yang dimaksudkan untuk mengech lawan atau competitor dengan cerdas.

c.       Pattern (pola). A strategy is pattern specially, a pattern in a stream of action.  Strategi merupakan pola dalam bertindak.

d.     Position (posisi). Strategy is position, specially, a means of locating an organization in what organization theorists like to call an “environment”. Strategi merupakan suatu posisi, khususnya menjadi mediasi kekuatan antara organisasi dengan lingkungannya.

e.      Perspective (perspektif). Strategy is perspective, its consisting not just of a chosen position, but of an ingrained way of perceiving the world. Strategi merupakan suatu perspektif yang bukan hanya merupakan posisi yang dipilih tetapi juga persepsi melihat dunia dari unsur-unsur lain.

Mengelola dalam Bahasa Inggris diistilahkan dengan management. Salah satu pengertian manajemen adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Manajemen secara umum disebutkan Knezevich dalam Mulyasa (2007:8), yaitu:

“... a specialized set of organizational functions whose primary purposes are to insure the efficient and effective delivery of relevant educational service as well as implementation of legislative policies through planning, decision making, and leadership behavior that keeps the organizations focused on predetermined objectives, provides for optimum allocation and most productive uses, stimulates and coordinated professional and other personal to produce a coherent social system and desirable organizational climate, and facilitates determination of essential changes to satisfy future and emerging needs of student and society”.

Pada  definisi manajemen lebih menekankan kepada manajemen pendidikan, yaitu diartikan sebagai sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektivitas pelayanan pendidikan melalui perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepemimpinan, penyiapan alokasi sumber daya, stimulus dan  koordinasi personil, penciptaan iklim organisasi yang kondusif, serta penentuan pengembangan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat di masa depan (Muyasa, 2007:8).

Jika dikaitkan dengan mengelola pembelajaran, maka mengelola pembelajaran merupakan kegiatan untuk merencanakan, melaksanan dan mengevaluasi pembelajaran agar pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Tujuan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari tujuan pendidikan secara umum, tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan institusional dan tujuan pembelajaran sebagai operasional dari pendidikan itu sendiri.

Dengan demikian strategi mengelola pembelajaran adalah rencana, pola dan tindakan seorang guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran agar pembelajaran menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. Keterarahan pembelajaran mengakibatkan keberhasilan pembelajaran. Dan keberhasilan pembelajaran dibuktikan dengan penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang dituntut sesuai dengan tujuan pembelajaran (Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi). Pencapaian kompetensi harus diusahakan seoptimal mungkin dengan desain pembelajaran yang bermutu

Secara umum pola strategi pembelajaran diklat yang bermutu dapat tergambar pada gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2:

Model Hipotetik Konseptual Pembelajaran Diklat Bermutu

D.Perencanaan Pembelajaran Diklat yang Bermutu

Perencanaan pembelajaran merupakan hal yang penting diperhatikan, karena gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Mulai dari memahami regulasi sampai dengan penyusunan RPP merupakan proses yang sepenuhnya harus dikuasai oleh pendidik, sehingga RPP yang tersusun merupakan perencanaan pembelajaran yang berkualitas. Perencanaan pembelajaran bermutu, memungkinkan pelaksanaan pembelajarannya pun akan bermutu. Satu hal lagi yang penting dalam perencanaan pembelajaran ini adalah tidak terjebak dengan  formalitas semata, tetapi sebaiknya betul-betul berpikir bagaimana dapat menciptakan pembelajaran yang bermutu, yaitu merencanakan pembelajaran efektif mencapai tujuan pembelajaran, terpusat kepada aktivitas siswa, menggunakan berbagai metode dan media, bernilai dan bermanfaat, menyenangkan serta berkesan.

Perencanaan pembelajaran diklat bermutu dalam perspektif Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokras (PERMENPAN&RB) Nomor 22 Tahun 2014  menyatakan bahwa persiapan pembelajaran diklat (tatap muka), di antaranya menyusun GBPP-SAP, menyusun bahan ajar dan menyusun bahan tayang serta hal lainnya yang diperlukan untuk pembelajaran. Perencanaan pembelajaran diklat bermutu dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini:

Gambar 3:

Kaitan Antar Komponen dalam Perencanaan Pembelajaran Diklat Bermutu

Dalam Perpektif PERMENPAN&RB No. 22 Tahun 2014

Penyusunan semua persiapan perencanaan pembelajaran diklat diawali dengan telaah terhadap program diklat. Jika jenis diklat sudah ditentukan langkah berikutnya menganalisis kurikulum dan silabus diklat.  Dari hasil analisis kurikulum dan silabus diklat, widyaiswara menyusun Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)  atau juga disebut Rancang Bangun  Pembelajaran Mata Diklat  (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP) atau disebut juga Rencana Pembelajaran (RP). Setelah selesai penyusunan GBPP/RBMPD dan SAP/RP, selanjutnya widyaiswara menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dan silabus diklat serta sesuai dengan GBPP-SAP. Setelah selesai menyusun GBPP-SAP dan bahan ajar selanjutnya widyaiswara menyusun bahan tayang untuk kegiatan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran dari mulai penyusunan GBPP-SAP, bahan ajar dan bahan tayang diarahkan terhadap partisipasi peserta diklat secara massif dan optimal. Peserta diklat diarahkan mengeluarkan segala kemampuannya untuk berbagai dengan peserta lainnya serta hal-hal lain sesuai dengan prinsip pembelajaran bermutu. Perencanaan pembelajaran diklat diakhiri dengan persiapan mengajar widyaiswara, yaitu persiapan sebelum mengajar di dalam kelas meliputi menyiapkan media, alat, soal, lembar kerja dan instrumen lainnya yang mendukung terhadap pembelajaran diklat yang bermutu.

 

E.   Proses Pembelajaran Diklat yang Bermutu

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pembelajaran bermutu adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan suasana pembelajaran yang kondusif (menyenangkan dan berkesan), proses dan hasil  pembelajaran bernilai dan bermanfaat. Untuk menjadikan pembelajaran tersebut, maka harus didukung oleh pembelajaran yang berbasis kepada keaktifan peserta didik dan gurunya yang kreatif mennyediakan dan menggunakan seluruh sumber daya pembelajaran mengarah kepada pembelajaran yang efektif dan kondusif.

Secara rinci bahwa pembelajaran diklat dianggap bermutu jika; 1) mencapai tujuan pembelajaran; 2) peserta aktif, kreatif dan mandiri dalam pembelajaran; 3) pembelajaran dirasakan manfaatnya dan mempunyai nilai-nilai (values) yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan; 4) pembelajarannya kondusif dengan suasana menyenangkan, menantang dan berkesan bagi peserta diklat; dan 5) widyaiswara menggunakan media/alat dan metode pembelajaran yang bervariatif. Dengan kelima indikator di atas, pembelajaran diklat dapat dikatakan bermutu.

Pencapaian tujuan pembelajaran (kompetensi dan indikator) merupakan hal yang paling penting yang harus diperhatikan, artinya keaktifan peserta, kebermanfaataan dan kebernialaian materi, menyenangkan dan berkesan serta variasi media dan metode semuanya diarahkan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran diklat yang bermutu diperlukan widyaiswara yang kreatif dan inovatif.

Strategi mengelola pembelajaran diklat yang bermutu di antaranya akan tercipta bila widyaisara memiliki kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran. Keterampilan untuk mengaktifkan peserta diklat, menyiapkan lembar kerja bagi peserta diklat, keterampilan mengelola kelas baik secara psikologis dan fisik, dan kegiatan lainnya merupakan langkah nyata mewujudkan pembelajaran diklat bermutu.

 

F.   Evaluasi dan Refleksi Kegiatan.

Evaluasi lebih ditekankan kepada pengukuran ketercapaian tujuan pembelajaran, sedangkan refleksi lebih ditekankan kepada perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Evaluasi   yang bermutu dalam pembelajaran diklat adalah evaluasi yang dapat mengukur kemampuan peserta diklat sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Ketepatan alat ukur (instrument), baik soal maupun instrument lainnya menjadi hal yang mendasarkan untuk dipertimbangkan. Rancangan dan pelaksanaan evaluasi dianalisis disesuaikan dengan kurikulum dan silabus diklat serta GBPP-SAP yang dibuat terutama dalam pencapai tujuan/kompetensi diklat yang telah ditetapkan yang harus dikuasai oleh peserta diklat.

Sedangkan refleksi yang merupakan evaluasi terhadap proses pembelajaran diperlukan untuk peningkatan proses pembelajaran diklat. Dengan refleksi dimungkinkan widyaiswara menerima langsung masukan dari peserta diklat kemudian menindaklanjuti dengan perencanaan diklat yang lebih baik serta menyiapkan berbagai instrument yang diperlukan dalam penyelenggaraan diklat. Beberapa conto kegiatan refleksi, misalnya setelah evaluasi pembelajaran diklat selesai widyaiswara meminta peserta diklat untuk menjawab pertanyaan/menyampaikan pernyataan tentang apa materi yang paling diingat? Bagaimana pembelajarannya, apakah menyenangkan atau tidak? (jelaskan alasannya) dan apa usulan berikutnya jika saya (widyaiswara) mengajar apa kelemahan yang harus diperbaiki dan apa kelebihan yang harus dipertahankan?

Dengan kegiatan evaluasi dan refleksi pembelajaran diklat yang bermutu memungkinkan pembelajaran diklat menjadi bermutu. Konsistensi dari perencanaan yang bermutu, proses pembelajaran yang bermutu, evaluasi dan refleksi yang bermutu menjadikan pembelajaran diklat bermutu juga.

 

G.Penutup

Pembelajaran bermutu adalah sebuah keterampilan. Keterampilan prinsip umumnya adalah biasa karena biasa. Pembelajaran diklat yang bermutu perlu dikelola melalui berbagai tahapan.   Strategi mengelola pembelajaran diklat bermutu diperlukan agar hasil/lulusan diklatnyapun bermutu. Dimulai dengan perencanaan pembelajaran diklat yang bermutu, melaksanakan proses pembelajaran diklat yang bermutu dan diakhiri dengan evaluasi dan refleksi yang bermutu.

 

H.Rekomendasi

            Dari pembahasan di atas, maka dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut kepada pihak terkait (yang berkepentingan), yaitu:

1.      Widyaiswara diberikan penguatan tentang teknik-teknik mengajar sesuai dengan metode andragogi agar dalam mengaplikasikanya dalam pembelajaran diklat, sehingga hasil belajar diklat dapat lebih optimal.

2.      Widyaiswara dimantapkan agar dapat mengintegrasikan antara metode andragogi dan segalasumber daya diklat, sehingga pembelajaran diklat dapat lebih efektif.

3.      Penyelenggara diklat menyediakan berbagai sarana, alat dan media pembelajaran yang diperlukan agar  metode andragogi dan pembelajaran diklat yang bermutudapat diterapkan dalam pembelajaran diklat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdullah, Abdurrahman Saleh. 1990, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta.

Amstrong, T. (2004). Kamu itu lebih cerdas daripada yang kamu duga (You’re smarter than you think). Batam Centre: Interaksara.

Departemen Agama Republik Indonesia, 2007, Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta

 

http://mari-berkawand.blogspot.com/2011/03/ pengertian-pendekatan-pembelajaran.html diunduh pada tanggal 1 Agustus 2014 Pukul 13.21 WIB

http://www.sarjanaku.com/201212/ pengertian-guru-menurut-para-ahli-peran.html diunduh tanggal 5 Agustus 2016 pukul 10.13 WIB

Hurlock, Elizabeth B. 1993. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan  Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Mahfoudz, Asep. 2009. Be A Good Teacher or Never: 10 Jurus Cepat Menjadi Guru Profesional Berkarakter Trainer. Bandung: Rumah Cerdas Indonesia.

Majid, Abdul. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Kajian Teoretis dan Praktis. Bandung: Interes.

Majid, Abdul dan Firdaus, Aep S., 2014. Penilaian Autentik Proses dan Hasil Belajar Berdasarkan Kurikulum 2013. Bandung: Interes.

Mansur, 2001.Diskursus Pendidikan Islam, Yogyakarta :Global Pustaka Utama.

Mintzberg, H., Quinn, J.B. and Ghoshal, S. (1999). The Strategy Process. Revised European Edition, Hertfordshire, Prentice Hall Europe.

Mujahidin, Firdos. 2013. pendekatan-saintifik-dalam-pembelajaran-diklat  dalam http//bdkbandung.kemenag. go.id/jurnal/178-pendekatan-saintifik-dalam-pembelajar-an-diklat diunduh 1 Juli 2014 pukul.11.15

________________. 2014. Strategi Menciptakan  Pembelajaran Berkualitas. Bandung: Arsad Press.

________________. 2017. Strategi Mengelola  Pembelajaran Bermutu. Bandung: Rodakarya Remaja. Press.

Mustakim dan Abdul Wahab, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),  hlm.72.

Mulyasa. E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Implementasi dan Karateristik)., Bandung: Remaja Rosdakarya.

__________.2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan . Bandung: Remaja Rosdakarya.

__________.2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung : Remaja Rosdakarya.

__________.2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, 2005, Standar Nasional Pendidikan,  Jakarta :Dharma Bhakti

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 dan Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah  Nomor 19 Tahun 2005   tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.

Peraturan Kepala Lembaga Adminitrasi Negara Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara.

Peraturan Kepala Lembaga Adminitrasi Negara Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Pola Penjenjangan Pendidikan dan Pelatihan Teknis.

Peraturan Menteri Agama Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Teknis di Lingkungan Kementerian Agama

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembelajaran

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses

Poerwadarminta, W. J. S.1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

Saefuddin, Asis dan Berdiati, Ika. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya 

Rose, Colin&Nichol, J. Malcom. 2009. Accelereted Learning For The 21ST Century (Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Shaleh, Abdur Rahman. 2000, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta: PT Gemawindu Pancaperkasa.

Soetrisno. 2006, Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode, Epistimologi, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sudjana, D. (2000). Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Nusantara Press.

Suharsimi, Arikunto. 2000. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: Rajawali

Sukmadinata, N. S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:  Remaja Rosdakarya.

Surya, Mohamad, 2003, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Jakarta: Maha Putra Adidaya.

Sutrisno. 2008. Pendidikan Islam yang Menghidupkan. Yogyakarta: Kota Kembang

Tafsir, Ahmad, 2004.  Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya

___________. 2005.   Ilmu Pendidikan dalam Perspektif  Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003,      Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta : Dharma Bhakti

: