Mutiara Hikmah: 16 Juli 2020
Mutiara Hikmah hari ini
Kamis, 24 Dzulqo'dah 1441 / 16.07.2020
MENUTUP AIB
Oleh Muhtar Gandaatmaja
Tak ada gading yang tak retak. Tak satupun manusia yang steril dari dosa dan maksiyat. Kesalahan, cacat, cela, kekurangan, ketidak lengkapan atau ketidak sempurnaan melekat di diri manusia sebagai bani adam yang dimulyakan-Nya. Semua hal negatif ini kita sebut “aib.” Umumnya manusia sedapat mungkin menutupi aib dirinya agar tidak diketahui orang lain. Yang bersangkutan akan marah bila aibnya dibuka atau disebarkan.
Di abad teknologi informasi yang karakternya serba terbuka, dimungkinkan apa saja berkaitan dengan rahasia sekalipun agak sulit bisa kita tutupi dengan rapat. Karenanya, celah celah ini dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan sesaat. Norma hukum tentang boleh tidaknya atau apakah halal atau haram, tidak menjadi pertimbangan lagi. Haramnya “tajassus (mencari cari kesalahan orang), ghibah (membuka keburukan orang), fitnah (menceritakan sesuatu yang tidak dilakukan orang) dan namimah” (mengadu domba) lalu mempublikasikannya, dianggap halal.
Apa yang disampaikan POLRI mengejutkan orang yang berpikiran waras. Di saat kita sibuk menghadapi wabah berbahaya, covied-19, ditemukan lebih dari 3500 kasus berita hoax berseliweran tiap hari. Disebarkan oleh lebih dari 800.000 orang lewat medsos. Kaget, terkesima dan tercengang karena tak percaya kalau para kreatornya itu ada yang dosen IT di PT tertentu, guru, bapak/ibu “yang terhormat” dan orang yang biasa memosisikan dirinya sebagai barisan “ulama.” Padahal mereka tahu asbanun nuzul (sebab turunnya Al-Qur’an) surat Al-Hujurat: 12, itu merupakan teguran Allah kepada orang yang menyebarkan “dengkuran tidur Salman Al-Farisi.” Salman Alfarisi, salah seorang sahabat setia Nabi SAW tidurnya mendengkur. Dengkuran tidur saja dianggap aib bagi yang bersangkutan dan haram hukumnya disebarkan.
Suatu waktu, Rasulullah SAW makan bersama para sahabatnya menikmati hidangan daging unta. Di tengah kenikmatan itu ada diantara sahabatnya yang “buang gas” berbau tak sedap. Yang hadir bereaksi tak senang atas kejadian itu, tapi tidak tahu siapa yang kentut. Adzan Maghrib berkumandang. Rasulullah SAW pun bersabda, “Siapa yang makan daging unta, hendaklah berwudhu.” (HR. Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Mendengar sabda Nabi SAW, para sahabat yang ikut makan daging unta semuanya berwudhu. Tahukah rahasianya? Betul sekali! Sahabat yang buang gas sembarangan tadi, terselamatkan aibnya. Terjaga kehormatannya. Sampai akhir cerita tak ada yang tahu siapa yang membuat ulah buang gas sembarangan. Luar biasa akhlak Rasul SAW, beliaupun bersabda: “Siapa yang menutupi aib seorang Muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan, siapa mengumbar aib saudaranya sesama Muslim maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dunia dan akhirat.” (HR Ibnu Majah).
Kisah serupa tentang buang gas (bahasa kasarnya kentut), menimpa seorang wanita paruh baya, yang datang menghadap Hatim Al-Asham, nama lengkapnya adalah Abu Abdul Rahman Hatim bin Alwan, terkenal dengan gelar “Al-Asham,” dia termasuk tokoh guru besar (syaikh) khurasan. Hatim dijuluki Al-Asham (orang yang tuli) bukan karena ia tuli, tetapi berpura-pura tuli untuk menjaga kehormatan seseorang hingga ia dijuluki dengan Al-Asham.
Wanita itu datang ke Majelis Hatim untuk menanyakan suatu masalah. Tidak sengaja, wanita ini kentut dengan suara terdengar keras. Wajahnya memerah dan menunduk dalam-dalam karena malu. Sambil menahan rasa malu, ia tetap memberanikan diri bertanya. Kemudian, Imam Hatim berseru keras padanya, “Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak mendengarnya. Coba ulangi dan keraskan suaramu ya!” Mendengar ini, sang wanita merasa lega, karena mengira Hatim tuli sehingga beliau tidak mendengar suara kentutnya tadi.
Kalimat “Coba keraskan suaramu!” menjadi kebiasaan Imam Hatim selama 15 tahun. Ya, beliau menunggu sampai wanita penanya itu wafat. Barulah setelah itu, ia kembali menunjukkan pendengaran beliau sebenarnya normal dan baik-baik saja. Ternyata, selama ini beliau hanya pura-pura tuli untuk menutup aib dan menjaga perasaan wanita itu. Tapi, beliau terlanjur digelari Al-Asham atau si tuli dan beliau ikhlas atas panggilan itu. Konon akhirnya nanti, dalam sebuah Anekdot Sufi, Sang Guru saleh ini masuk surga karena akhlaknya ini.
Sumber : pengajian ketua DKM masjid raya alun alun Bandung
الله أعلم بالصواب
Tetap semangat sehat dan kuat ....
والله يدعوا إلى دار السلام ويهدي من يشاء إلى صراط مستقيم ... ????