BERFIKIR UNTUK NEGERI, KEMBANGKAN STRATEGI PENDIDIKAN SAAT PANDEMI
  • 11 Agustus 2021
  • 3291x Dilihat
  • Gumeulis

BERFIKIR UNTUK NEGERI, KEMBANGKAN STRATEGI PENDIDIKAN SAAT PANDEMI

BERFIKIR UNTUK NEGERI, KEMBANGKAN STRATEGI PENDIDIKAN SAAT PANDEMI

Oleh. Deni Zaini Mukhlis

Guru PAI MTs Negeri 3 Bogor

Dunia pendidikan kini semakin mencekam, bagaimana tidak, hampir semua lapisan masyarakat, dari kalangan rakyat biasa hingga pejabat, terlebih para fakar pendidikapun turut terlibat, berjibaku menguras tenaga, fikiran, dan tentu saja semangat dan do’a berharap agar pendidikan tetap berjalan meski pandemi menghantui negeri. Tak dapat dipungkiri, masyarakat kini harus dihadapkan dengan satu kenyataan pahit, dimana ruang gerak pendidikan terasa semakin sempit, anak-anak tak bisa lagi menikmati pembelajaran tatap muka di sekolah. Sebagai gantinya mereka harus puas melaksanakan pembelajaran dari rumah secara daring.  Ya..., sudah hampir dua tahun ini, semenjak pemerintah menetapkan pembatasan kegiatan di masyaraakat  yang berskala besar (PSBB) mulai digulirkan, tepatnya pada tanggal 16 maret 2020 yang lalu. Hingga saat ini wabah pandemi covid-19 yang sudah banyak menelan korban jutaan orang di seluruh dunia, tak terkecuali di tanah air kita masih saja belum berakhir.  Hal ini sungguh mengkhawatirkan banyak kalangan, bahkan telah muncul varian baru yang disebut sebagai Varian Delta yang disinyalir lebih ganas dan penularannya sangat cepat serta tidak lagi memandang usia.

Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah, demi mencegah meluasnya penularan covid-19, termasuk memperketat sektor perhubungan juga kegiatan sosial di masyarakat dengan menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), yang hingga saat ini masih berlangsung, khususnya di Jawa dan Bali serta daerah-daerah tertentu yang masuk dalam katagori level 3 dan 4. Semua ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 di masyarakat yang semakin hari semakin menjadi momok yang menakutkan.

Kini dunia pendidikanpun terkena dampaknya, sehingga memaksa para fakar pendidikan harus berfikir ekstra untuk mencari solusi, mengembangkan berbagai strategi pembelajaran yang tepat dan bisa dimanfaatkan disaat pandemi seperti ini.

Salah satunya adalah dengan model pembelajaran jarak jauh (PJJ), atau lebih dikenal dengan istilah “Daring”, melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi jaringan internet.

Metode daring (dalam jaringan),  adalah metode yang pertama kali digulirkan dan diterapkan atas saran dari Kemendikbud untuk mengantisipasi aktivitas pembelajaran selama masa Pandemi Covid-19 ini. Model pembelajaran ini dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah, tanpa adanya pertemuan tatap muka secara langsung (PTM). 

Metode Daring (online) ini sangat direkomendasikan bagi masyarakat yang berada pada zona merah. Dengan metode ini diharapkan kegiatan pembelajaran tetap berlangsung secara optimal. meskipun tidak ada pertemuan tatap muka sebagaimana kegiatan pembelajaran biasa. Peserta didik dan guru tetap mampu berinteraksi secara virtual dari rumah masing-masing.

Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar daring ini tentu saja tidak terlepas dari peran penting Guru, Peserta didik, Orang tua, dan pemerintah.

Peran Guru

Guru dituntut untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran secara daring, sehingga anak anak tidak jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut, bagaimana tingkat pemahaman anak atas materi-materi yang telah diberikan secara daring, melalui dialog interaktif antara guru dan anak, menimbulkan tingkat pemahaman anak atas materi yang baik.

Peran Peserta didik

Peserta didik dituntut untuk selalu mengikuti daring dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran tersebut secara tuntas. Peserta didik harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan peserta didik tidak semudah kalau secara tatap muka. Tingkat pemahaman anak atas materi yang diberikan tentulah berbeda beda, ada saja yang kurang, karena ketidaksungguhan dalam proses pembelajaran, ada dan tidak adanya orangtua atau lainnya  yang melakukan pendampingan. Di samping itu fasilitas anak yang dimiliki juga berbeda beda seperti Jenis handphone, jenis laptop, provider yang digunakan dan jumlah kuota yang dimiliki.

Peran Orangtua

Orangtua di saat pembelajaran daring sangat diperlukan oleh peserta didik, terutama tingkat SD, orang tua dituntut untuk dapat menjelaskan apa yang dijelaskan oleh pengajar, dan dapat membantu mengerjakan tugas pekerjaan rumah anak-anak. Peran penting orangtua lainnya yang sangat penting memberikan fasilitas seperti handphone, laptop, internet, kuota dan bahan-bahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini memicu kesenjangan karena di saat pandemi ini banyak sekali pemutusan hubungan kerja di kalangan buruh, pemotongan gaji karena dampak pandemi dan berkurangnya penghasilan bagi pelaku UMKM. Jangankan untuk memberikan fasilitas pendidikan, untuk makan saja sulit. Dengan demikian, ketika anak tidak bisa mengikuti pembelajaran, sehingga menimbulkan keputusaasaan dan menimbulkan putus sekolah.

Peran Pemerintah

Peran pemerintah sangat penting dalam memberikan kualitas pendidikan kepada anak bangsa, karena pendidikan adalah kunci dari kenberhasilan sumber daya manusia suatu Negara. Di tangan anak-anaklah ke depannya kita bisa menjadi maju.

Peran Pemerintah di sini, bagaimana dapat memfasilitasi peralatan yang layak bisa dipergunakan oleh peserta didik yang orangtuanya kurang mampu.

Kami dan banyak orangtua harus mengakui bahwa menjelaskan berbagai mata pelajaran dan menemani anak-anak mengerjakan tugas-tugas sekolah tidak semudah yang dibayangkan.Kerja keras para guru dan dosen selama ini sungguh patut diapresiasi. Di tengah pembatasan sosial akibat wabah covid-19, kita harus tetap semangat mengejar dan mengajar ilmu pengetahuan. Hampir tidak ada yang menyangka, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi covid-19. Konsep sekolah di rumah (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. Meski makin populer, penerapan pembelajaran online (online learning) selama ini juga terbatas pada Universitas Terbuka, program kuliah bagi karyawan di sejumlah universitas dan kursus-kursus tambahan (online courses).Tapi, kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah, memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online, dalam skala nasional. Bahkan, ujian nasional ditiadakan. Sistem pendidikan online pun tidak mudah. Di samping disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, ada fasilitas dan sumber daya yang mesti disediakan. Saya bersyukur masih mampu memfasilitasi anak kami untuk pendidikan jarak jauh, tapi saya mendengar keluhan banyak orangtua murid dan juga tenaga pendidik yang kesulitan, baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet. Dengan kata lain, sistem pembelajaran online ini berpotensi membuat kesenjangan sosial ekonomi yang selama ini terjadi, menjadi makin melebar saat pandemi. Kemenaker (20/4) mencatat sudah lebih dari 2 juta buruh dan pekerja formal-informal yang dirumahkan atau diPHK. Dengan kondisi seperti ini, banyak orangtua kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang optimal bagi anak-anak mereka.Dalam situasi yang lebih buruk, orangtua malah bisa berhadapan pada pilihan dilematis: memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak. Ini berpotensi membuat angka putus sekolah meningkat. Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020 lalu, muncul indikasi naiknya angka putus sekolah di berbagai tempat.