Inilah Lima Kunci Perdamaian menurut Kyai Maman
  • BDK Bandung
  • 7 Juni 2024
  • 33x Dilihat
  • Berita

Inilah Lima Kunci Perdamaian menurut Kyai Maman

KH. Maman Imanulhaq (anggota DPR RI Dapil Subang, Majalengka, Sumedang) didampingi oleh Kepala BDK Bandung H. Agus Nasihatul Ahyar, S.Pd.I., hadir dalam Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama Keagamaan Akt. VII, VIII, IX di Gd. Djuhany Sumantadisastra, Balai Diklat Keagamaan Bandung (07/06). Dalam kesempatan tersebut, pria kelahiran Sumedang ini mengidentifikasi tiga musuh agama yang perlu diatasi yaitu "Kebodohan, Kemiskinan, dan Perpecahan".

Selama ini memang pernah tercipta konflik sosial dengan nuansa agama. Menurut Kyai Maman, demikian akrab dipanggil, untuk membangun pemahaman yang kuat dalam mengatasi konflik, pun diperlukan lima macam fikroh atau pola pikir yang harus dibangun:

Pertama, Fikrah Tawasuttiyah, yaitu memiliki keseimbangan moderat dalam menyikapi permasalahan adalah kunci. Debat dengan orang yang memiliki pandangan yang berbeda menuntut kecerdasan dalam berpikir.

Kedua, Fikrah Tatsamuhiyyah, yaitu sikap toleransi yang penting bagi umat Islam. Memahami bahwa agama memiliki peran penting dalam perubahan, sehingga memahami pandangan orang beragama menjadi esensial.

Ketiga, Fikrah Islahiyah yaitu membangun pola pikir reformatif. Ia adalah yang dapat membedakan antara orang soleh dan muslih. Karena lebih utama menjadi muslih yang mampu membela kebenaran dengan berani.

Keempat, Fikrah Tatowwuriah adalah membangun pola pikir dinamis yang terbuka terhadap perubahan. Tidak hanya belajar untuk menerima perubahan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam proses perubahan tersebut. Berani mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kondisi yang ada.

Kelima, Fikrah Manhajiyah yaitu berdakwah dengan pendekatan metodologis, dengan terus memperbarui informasi melalui media sosial. Penyuluh didorong untuk aktif memilah-milih topik populer sehingga kajian agama menjadi lebih menarik.

Selain itu, Pemilik Ponpes Al-Mizan Jatiwangi Majalengka tersebut menegaskan tentang pentingnya kemampuan resolusi konflik seperti orientasi, persepsi, emosi, kemampuan komunikasi, dan berpikir kreatif. Dalam era yang penuh dengan tantangan, memahami dan mengembangkan kemampuan ini menjadi kunci untuk mencapai perdamaian dan harmoni dalam masyarakat. [VLA]