TOP_PANEL

Zona Integritas

Zona Integritas Diklat

Wilayah Bebas Korupsi

No Korupsi

Selamat Hari Santri 2018

Penerapan Prinsip-prinsip Quantum Learning Dalam Pembelajaran Diklat

Penerapan Prinsip-prinsip Quantum Learning Dalam Pembelajaran Diklat

 

 Firdos Mujahidin

 Balai Diklat Keagamaan Bandung Jl. Soekarno Hatta No. 716 Bandung

No. Kontak 081321835175, email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"HP Simplified Light","sans-serif";} Abstract

 

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"HP Simplified Light","sans-serif";}

The purpose of this study is to explain the application of the quantum learning principles in teaching and learning training. The method used in this study is descriptive method with data collection through library research to regulation associated with these principles. The results showed that the principle of quantum learning is an approach that is already common used in the training, when training usually uses andragogy method. Andragogy method in operation is not much different from the principles of quantum learning. Therefore,  this study is  expected to get a response from stakeholders to further strengthen teaching and learning process in training with using principles of quantum learning. So that the process of training is more effective, qualified, applicable, fun and meaningful

Key word : learning training,  quantum learning, and  training.

 

Abstrak

 Latar belakang kajian ini adalah adanya beberapa pendekatan dalam pembelajaran diklat yang masih belum sesuai dengan pembelajaran orang dewasa, dengan Quantum Learning diharapkan pembelajaran diklat semakin berkualitas. Tujuan kajian dalam penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan penerapan prinsip-prinsip Quantum Learning dalam pembelajaran Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan datanya melalui studi  kepustakaan terhadap kebijakan (peraturan) yang berhubungan dengan prinsip-prinsip Quantum Learning dalam pembelajaran dan diklat. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Quantum Learning merupakan pendekatan yang sudah biasa dilakukan dalam diklat, karena pembelajaran diklat yang utama adalah dengan menggunakan metode andragogi. Metode andragogi dalam operasionalnya tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip Quantum Learning itu sendiri. Dengan kajian ini diharapkan mendapat respon dari pemangku kebijakan untuk lebih memperkuat lagi pembelajaran di dalam diklat dengan menerapkan prinsip-prinsip Quantum Learning, sehingga pembelajaran diklat semakin efektif, berkualitas, aplikatif, menyenangkan dan bermakna.

Key word: diklat, pembelajaran diklat, Quantum Learning.

 

PENDAHULUAN

 

Pendidikan dan Diklat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tujuan pendidikan nasional. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 3 menyebutkan Pendidikan Nasional berfungsi Mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan  Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta diklat  agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Fungsi dan tujuan pendidikan nasional di atas harus dapat diopresialisasikan dalam berbagai jenis pendidikan, baik formal, informal maupun nonformal tak terkecuali pada kegaiatan diklat. Diklat mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jenis pendidikan lainnya, terutama pendidikan formal, baik tingkat dasar, menengah dan juga pendidikan tinggi. Kebijakan diklat juga mengalami dinamika, dalam berbagai peraturan disebutkan bahwa peserta diklat adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun dalam perkembangannya peserta diklat diperbolehkan juga selain PNS sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Pegawai pada Kementerian Agama. Dinamika kebijakan tersebut disesuaikan dengan tuntutan dan tugas pemerintahan yang dalam pelaksanaan pelayanan publik, tidak hanya memberdayakan SDM yang PNS tetapi non-PNS juga diperlukan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2001 disebutkan bahwa diklat adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Lebih lanjut di pasal 2  disebutkan bahwa diklat bertujuan: 1) meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi; 2)  menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa; 3) memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pembedayaan masyarakat; 4) menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugaspemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik.

Supaya tujuan diklat dapat dicapai, maka diperlukan pembelajaran yang berkualitas. Dalam Perkembangannya, pembelajaran mengalami berbagai perkembangan dan perubahan yang signifikan, terutama dalam peran peserta yang diharuskan lebih dominan. Pembelajaran dalam berbagai jenjang diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi peserta diklat secara berkelanjutan. Kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta diklat  untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan  untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta diklat  menjadi kompetensi yang diharapkan. Lebih lanjut, strategi pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu mampu menjadi pebelajar mandiri sepanjang hayat. dan yang pada gilirannya mereka menjadi komponen penting untuk mewujudkan masyarakat belajar.

Untuk mencapai pembelajaran diklat yang berkualitas sebagaimana yang disebutkan di atas diperlukan berbagai pendekatan dan metode. Metode pembelajaran dalam diklat adalah metode belajar orang dewasa atau disebut metode andragogi sebagaimana disebutkan di Pasal 18  PP 101 Tahun 2001 bahwa  peserta Diklat telah memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman kerja tertentu maka digunakan metode diklat bagi orang dewasa yang: 1)  sesuai dengan kebutuhan praktis dan pengembangan diri peserta; 2) bersifat interaktif antara peserta dengan widyaiswara dan antar peserta; dan 3) berlangsung dalam suasana belajar yang bebas, dinamis, dan fleksibel. Di sisi lain dalam perkembangan kebijakan di dalam diklat berkembang berbagai pendekatan pembelajaran.

Quantum learning merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran diklat agar tujuan diklat dapat dicapai dengan tepat dan cepat. Apakah Quantum Learning dapat dikolaborasikan dengan metode andragogi dalam pembelajaran diklat? Dan bagaimana prinsip-prinsip Quantum Learning diaplikasikan dalam pembelajaran diklat? Untuk itu penulis akan mengkajinya dalam makalah ini.

 

KERANGKA  TEORITIK, METODE PENELITIAN TEMUAN DAN PEMBAHASAN

 

Kerangka Teoritik

 

Pembelajaran diklat sebagai pembelajaran orang dewasa dapat merepkan pendekatan, metode atau strategi yang lebih menekankan kepada keaktifan peserta diklat. Dalam pembelajaran diklat tersebut prinsip-prinsip quantum learning dapat diterapkan sebagai bagian dari prinsip pembelajaran dalam diklat. Untuk lebih memahami tentang quantum learning maka diuraikan dulu tentang quantum learning secaraumum kemudian akan dibahas bagaimana penerapan prinsip-prinsip quantum learning tersebut dalam pembelajaran diklat.

Quantum Learning merupakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal dan dibarengi kegembiraan (Porter, 2011). Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan.  Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk membantu para peserta diklat  menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria.

Lozanov  melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para peserta diklat  di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.

Prinsip suggestology hampir mirip dengan proses accelerated learning, pemercepatan belajar: yakni, proses belajar yang memungkinkan peserta diklat  belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Suasana belajar yang efektif diciptakan melalui campuran antara lain unsur-unsur hiburan, permainan, cara berpikir positif, dan emosi yang sehat.

Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian peserta diklat  dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan posistif, faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang (Bobby De Porter dan Hernacki, 2011).

Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengamsalkan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, quantum learningmenggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik, belajar berdasarkan pengalaman, belajar dengan simbol (metaphoric learning), simulasi/permainan.

Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut. Para peserta diklat  dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memberikan bagaimana proses otak itu bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan “cara yang menyenangkan dan bebas stres”. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”

Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intarpersonal, dan intuisi.  Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru, dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua belahan otak “kiri dan kanan”.

Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial, linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme.  Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.

Semua itu, pada akhirnya, tertuju pada proses belajar yang menargetkan tumbuhnya “emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.” Keempat unsur ini bila digambarkan saling terkait. Dari kehormatan diri, misalnya, terdorong emosi positif yang mengembangkan kekuatan otak, dan menghasilkan keberhasilan, lalu (balik lagi) kepada penciptaan kehormatan diri. Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.

Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta diklat  quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.

Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta diklat  melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta diklat  dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong peserta diklat  untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi peserta diklat .

Lingkungan makro ialah “dunia yang luas.” Peserta diklat  diminta untuk menciptakan ruang belajar di masyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial ke lingkungan masyarakat yang diminatinya. “Semakin peserta diklat  berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mengatasi sistuasi-situasi yang menantang dan semakin mudah Anda mempelajari informasi baru,” tulis Porter. Setiap peserta diklat  diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan baru dalam lingkungan masyarakat, agar mereka mendapat pengalaman membangun gudang penyimpanan pengertahuan pribadi. Selain itu, berinteraksi dengan masyarakat juga berarti mengambil peluang-peluang yang akan datang, dan menciptakan peluang jika tidak ada, dengan catatan terlibat aktif di dalam tiap proses interaksi tersebut (untuk belajar lebih banyak mengenai sesuatu). Pada akhirnya, interaksi ini diperlukan untuk mengenalkan peserta diklat  kepada kesiapan diri dalam melakukan perubahan. Mereka tidak boleh terbenam dengan situasi status quo yang diciptakan di dalam lingkungan mikro. Mereka diminta untuk melebarkan lingkungan belajar ke arah sesuatu yang baru. Pengalaman mendapatkan sesuatu yang baru akan memperluas “zona aman, nyaman dan merasa dihargai” dari peserta diklat.

Hal-hal yan menjadi perhatian khusus dalam quantum learning sebagaimana dijelaskan dalam buku Porter (2011) secara umum ada 12 penekanan, yaitu: 1) belajar tentang cara belajar; 2) kekuatan pikiran yang tak terbatas; 3) kekuatan AMBAK; 4) menata pentas; 5) memupuk sikap juara; 6) menemukan gaya belajar anda; 7) teknik mencatat tingkat tinggi; 8) menulis dengan penuh percaya diri; 9) mengupayakan keajaiban memori; 10) melaju dengan kekuatan membaca; 11) berfikir logis, berfikir kreatif; dan 12) menjadikan quatum learning melejit.

Manfaat yang diharapakan dengan penerapan quantum learning minimal peserta diklat mempunyai 1) sikap positif; 2)  motivasi; 3) ketrampilan belajar seumur hidup; 4) kepercayaan diri dan 5) sukses (Porter, 2011). Manfaat di atas dapat diperoleh ke 12 hal di atas dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran diklat.

 

Metode Penelitian

 

Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dengan. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2008:18 dan 72-75) dijelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian  yang paling dasar ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan  fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah maupun yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Pendekatan  metode deskriptif dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penggambaran keadaan secara naratif kualitatif.

Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan studi kepustakaan serta studi dokumentasi. Teknik observasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang ada di lapangan seperti pengamatan terhadap proses pembelajaran diklat yang telah dilaksanakan selama ini, terutama di Balai Diklat Keagamaan Bandung. Dari hasil pengamatan ini data digeneralisasi berdasarkan karakteristik datanya.

Sedangkan studi kepustakaan dan dokumentasi  adalah untuk mengumpulkan data yang bersifat teoritis, yaitu teori dan konsep tentang Quantum Learning dan mengkaji kebijakan-kebijakan yang berupa peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan kediklatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui perbandingan teori, kebijakan dan kegiatan antar instansi atau unit kerja serta kecenderungan program yang berorintasi masa depan dan jangka panjang sehingga dapat dikatagorikan sebagai langkah yang strategis.

Strategi yang dirumuskan merupakan akumulasi langkah-langkah operasional yang dapat meningkatkan kompetensi peserta diklat sekaligus bersifat aplikatif agar pembelajaran diklat menjadi lebih berkualitas, terutama pada proses pembelajarannya, mulai dari pembukaan, proses pembelajaran, penyimpulan materi sampai dengan penutupan pembelajaran peserta diklat semuanya terlibat dalam pembelajaran tersebut. Dengan langkah-langkah sesuai prinsip-prinsip Quantum Learning itu dimungkinkan peserta diklat mendapatkan pengalaman pembelajaran secara optimal.

 

Temuan dan Pembahasan

 

Widyaiswara dengan tugas utamanya mendidik, mengajar dan melatih (Dikjartih) dalam pembelajaran dapat memposisikan diri sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator widyaiswara dapat melakukan kegiatan pengelolaan kelas, mulai dari merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi serta mengrefleksi pembelajaran yang dilaksanakan. Karekteristik pembelajaran diklat berbeda dengan pembelajaran pada perkuliahan maupun pembelajaran pada pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Perbedaan pembelajaran diklat terletak dari peserta didiknya, yaitu peserta diklat yang sudah dewasa, untuk itulah metode pembelajaran diklat menggunakan metode andragogi. Ciri pokok dari metode andragogi adalah menjadikan peserta diklat sebagai mitra dalam pembelajaran. Mitra yang dimaksud adalah dapat menjadikan peserta sebagai narasumber pembelajaran yang sejajar dengan widyaiswar. Namun kenyataan di lapangan kesiapan widyaiswara dan peserta diklat sering masih kurang sesuai dengan harapan.

Peserta diklat sebagai orang dewasa diharapkan mampu berkonstribusi terhadap pembelajaran dengan memberikan pendapat, bertanya dan memberikan stimulasi lainnya agar pembelajaran menjadi kondusif. Pasifnya peserta diklat terutama pada materi-materi tertentu yang masih baru menjadikan widyaiswara terjebak kepada pembelajaran yang berpusat kepada widyaiswara bahkan satu arah.  Di sisi lain karakteristik widyaiswara juga terkadang masih dipengaruhi oleh gaya mengajarnya. Misalnya yang mempunyai suara bagus, pemahamannya bagus, keilmuaannya tinggi, dll., maka lebih cenderung menunjukan dirinya memang pintar. Padahal yang ideal pembelajaran ini bukan menunjukkan widyiswara pintar, tapi bisa menunjukkan bahwa semua peserta adalah pintar.

Dari beberapa hasil temuan di atas, maka diperlukan adanya metode atau pendekatan dalam pembelajaran yang dapat memaksimalkan potensi peserta diklat sekaligus dapat “memaksa” widyaiswara menjadi fasilitator sepenuhnya dalam pembelajaran diklat. Salah satu metode/pendekatan yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran diklat adalah quantum learning. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kerangka teoritik di atas, ada dua hal prinsip utama  dalam quantum learning yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran diklat,yaitu  AMBAK dan TANDUR. AMBAK merupakan kepanjangan dari Apa Manfaat BAgi Ku dan TANDUR kepanjangan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan. Dua prinsip utama inilah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran diklat. Langkah-langkahnya secara praktis penerapan dua prinsip ini akan dibahas dalam pembahasan di bawah ini.

Penerapan prinsip pertama, yaitu AMBAK dalam pembelajaran diklat dapat diterapkan pada beberapa kegiatan pembelajaran, yaitu: (1) pembukaan atau pendahuluan, (2) Kegiatan inti pembelajaran dan (3) Kegatan penutup pembelajaran. Pada kegiatan pendahuluan pembelajaran diklat widyaiswara biasanya menyampaikan perkenalan, deskripsi mata diklat dan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta diklat. Pada perkenalan AMBAK belum dapat diterapkan. Sedangkan dalam menyampaikan deskripsi mata diklat dan penyampaian kompetensi yang harus dikuasai peserta diklat AMBAK sudah mulai dapat diterapkan.

Pada penyampaian deskripsi mata diklat dan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta diklat, widyaiswara sebagai fasilitator dapat menyampaikan manfaat-manfaat materi yang akan disampaikan/didiskusikan secara prontal. Artinya menggunakan penekanan-penekanan yang dihubungkan dengan pelaksanaan tugas, fungsi dan peran peserta diklat. Penyampaian deskripsi dan kompetensi mata diklat dapat menggunakan pilihan kata yang dapat memotivasi peserta diklat untuk merasa perlu/penting tentang materi yang akan didiskusikan bersama fasilitator. Selain itu memancing kedalaman materi juga merupakan hal yang dapat dilakukan dalam AMBAK ini dalam pendahuluan pembelajaran diklat.

Dalam kegiatan pembelajaran prinsip AMBAK ini sangat penting agar motivasi, konsentrasi  dan keaktifan peserta diklat dapat terus terjaga. Penerapan prinsip AMBAK  pada proses pembelajaran dapat diterapkan dengan langkah praktis yang dilakukan oleh widyaiswara sebagai fasilitator adalah melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) mengulang-ulang materi diklat secara terus menerus, (2) menerapkan materi diklat ke dalam kehidupan sehari hari atau paling tidak menghubungkan dengan aktivitasnya sesuai dengan tugas, fungsi dan peranan peserta diklat, dan (3) melakukan refleksi terhadap materi diklat dan tugas, fungsi dan peranan peserta diklat. Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, maka diharapkan prinsip AMBAK dapat meningkatan kualitas pembelajaran diklat.

Prinsip AMBAK dalam akhir  pembelajaran (kegiatan penutup pembelajaran), yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap ketercapaian kompetensi/indikator/tujuan pembelajaran serta melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran. Kegiatan penutup juga dapat digunakan sebagai sesi untuk lebih menekankan kembali pentingnya materi yang telah dipelajari dan dihubungkan dengan materi yang harus didalami oleh peserta diklat setelah selesai pembelajaran di kelas.

Prinsip utama kedua dalam quantum learning adalah TANDUR. Prinsip ini dapat diimplementasikan oleh widyaiswara sebagai narasumber/fasilitator diklat dengan menerapkan langkah-langkah sebagai berikut:

1.     Tumbuhkan, yaitu menumbuhkan pentingnya materi yang akan dipelajari, yaitu menumbuhkan motivasi dan keaktifan peserta diklat supaya terlibat aktif dalam pembelajaran diklat. Langkah praktis dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan motivasi peserta diklat dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, di antaranya: mengemukakan yel-yel, pemberian ice breaking, pembentukan kelompok, dll.

2.     Alami, yaitu peserta diklat digiring untuk mengalami kegiatan belajar bersama dengan peserta diklat yang lainnya scara aktif. Ketika sudah dibagi kelompok, maka pastikan tiap individu mempunyai peran masing-masing. Dengan mempunyai peran masing-masing memungkinkan peserta diklat mengalami proses pembelajaran dengan menyenangkan. Dalam langkah ini peserta diklat dalam kelompok juga mengalami proses-proses awal, inti dan penutup kegiatan pembelajaran.

3.     Namai, yaitu menamai setiap kegiatan yang diarahkan oleh widyaiswara. Seperti menamai kelompok serta dengan memberikan alasannya, menamai hasil kerja kelompok, dan menamai kegiatan atau menamai materi/konsep materi dalam pembelajaran, dan kegiatan lainnya. Kegiatan ini diterapkan dengan harapan peserta diklat terlibat langsung terhadap keseluruhan  proses pembelajaran.

4.     Demonstrasikan, yaitu langkah mendemonstrasikan setiap materi pembelajaran diklat. Kegiatan ini memberikan pemahaman yang mendalam terhadap peserta diklat tentang materi pembelajaran diklat. Mendomenstrasikan dapat berarti mengoperasionalisasikan setiap konsep yang dipelajari dengan contoh praktis atau juga contoh kasus. Dalam kegiatan diskusi mendemonstrasikan dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan peserta diklat untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya.

5.     Ulangi, yaitu kegiatan untuk mengulangi materi yang telah dibahas dan didemonstrasikan. Kegiatan ini dimaksudkan  sebagai langkah penguatan  agar peserta diklat dapat lebih memahami terhadap materi yang telah dipelajarinya. Semakin sering diulangi, maka akan semakin kuat pemahaman dan keterampilan peserta diklat.

6.     Rayakan, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh peserta diklat baik secara individu, kelompok maupun secara klasikal untuk merayakan atas keberhasilan peserta diklat dalam memahami materi pembelajaran. Supaya individu atau kelompok dapat merayakan hasil kerjanya, maka widyaiswara atau peserta diklat dapat memberikan apresiasi dan penilaian atas hasil kerja individu atau kelompok. Dengan pemberian nilai dan apresiasi dari pihak lain individu atau kelompok dapat merayakan hasil yang diperolehnya tersebut.

Jika dua prinsip utama quantum learning tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran diklat, maka diharapkan peserta diklat dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan terlibat dalam pembelajaran secara berkesinambungan menjadikan peserta diklat meras lebih senang, lebih merasa dihargai, dan juga dituntut oleh dapat memberikan konstribusi terhadap pembelajaran diklat.

Selain itu, mempertajam pencapaian kompetensi/indicator/tujuan pembelajaran diklat secara ideal menurut Jensen (2008) dapat menerapkan 5 langkah pembelajaran yang ideal, yaitu: 1) persiapan; 2) akuisisi, yaitu pembelajaran efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai; 3) elaborasi (koreksi kesalahan, pendalaman dan pemantapan penguasaan materi); 4) formasi memori, yaitu menyimpan hasil belajar ke dalam memori supaya pemahamannya dapat diingat selamanya; dan  5) integrasi fungsional, yaitu memanfaatkan hasil belajar ke dalam kehidupan nyata, sehingga apa yang telah dipelajari bermanfaat untuk hidup.

Penerapan 2 (dua) prinsip quantum learning dalam pembelajaran diklat, yaitu AMBAK dan TANDUR diharapkan mampu membangkitkan minat dan motivasi peserta diklat, sehingga situasi pembelajaran menjadi lebih kondosif dan menyenangkan. Dan TANDUR diharapkan mampu membangkitkan minat dan motivasi peserta diklat serta pemahamannya terhadap materi diklat lebih mendalam karena peserta diklat diajak untuk mengalami langsung materi yang disajikan melalui berbagau teknik dan metode pembelajaran berbasis kepada keaktifan peserta diklat.

Implikasi dari apa yang dikatakan Jensen adalah langkah konkretnya adalah adanya pemahaman bersama tentang pentingnya proses pembelajaran diklat dan pemanfaatan alumni diklat setelah kembali ke tempat kerjanya. Semakin berkualitas proses pengembangan diklat dengan pendekatan quantum learning dan didukung dengan pemanfaatan alumni diklat di permanent system nya, maka akan semakin baik  pula penguasaan peserta diklat terhadap materi-materi yang dipelajari dalam kegiatan diklat. Kegiatan quantum learning dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran, baik pendahuluan, inti atau penutup pembelajaran.

 

PENUTUP

           

Kesimpulan

 

Prinsip-prinsip Quantum Learning dengan metode andragogi mempunyai kemiripan dalam memberdayakan peserta diklat (diklat). Keterlibatan peserta diklat dalam pembelajaran diklat dengan metode andragogi jika dilaksanakan secara maksimal m\erupakan prinsip-prinsip Quantum Learning itu sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa pembelajaran diklat harus menempuh langkah-langkah sesuai prinsip-prinsip Quantum Learning agar peserta diklat lebih diberdayakan. Dan setelahnya diklat pihak terkait harus memberdayakan alumni diklat sehingga pemahaman peserta diklat dapat lebih mendalam sekaligus dalam mengembangkan ilmu yang diperolehnya untuk meningkatkan mutu SDM di lingkungan kerjanya.  

 

Rekomendasi

 

            Dari pembahasan di atas, maka dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut kepada pihak terkait (yang berkepentingan), yaitu:

1.     Widyaiswara diberikan penguatan tentang teknik-teknik mengajar sesuai dengan metode andragogi agar dalam mengaplikasikanya dalam pembelajaran diklat, sehingga hasil belajar diklat dapat lebih optimal.

2.     Widyaiswara dimantapkan agar dapat mengintegrasikan antara metode andragogi dan quantum learning, sehingga pembelajaran diklat dapat lebih efektif.

3.     Penyelenggara diklat menyediakan berbagai sarana, alat dan media pembelajaran yang diperlukan agar  metode andragogi dan quantum learning dapat diterapkan dalam pembelajaran diklat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DePorter, Bobbi& Hernacki, Mike. 2011. Quatum Learning (Terj. Alwiyah Abdurrahman). Cet. Ke XXIX.  Bandung: Kaifa

DePorter, Bobbi., Reardon, Mark & Singer-Nourie, Sarah. 2010. Quatum Teaching (Terj. Ary Nilandari). Cet. Ke III. Bandung: Kaifa

Jensen, Eric. 2008. Brain Base Learning. (terj. Narulita Yusran). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Peraturan Kepala Lembaga Adminitrasi Negara Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara.

Peraturan Kepala Lembaga Adminitrasi Negara Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Pola Penjenjangan Pendidikan dan Pelatihan Teknis.

Peraturan Menteri Agama Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Teknis di Lingkungan Kementerian Agama

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.

Rose, Colin&Nichol, J. Malcom. 2009. Accelereted Learning For The 21ST Century (Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa

Sukmadinata, N. S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:  Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

: